SUPER RICH MAN

SUPER RICH MAN
Salah Paham


Akhirnya setelah keliling dan mencari restoran Indonesia, Reykhel pun mendapatkan yang namanya daging domba. Daging yang di masak asap.


Ariana yang sudah sejak tadi menunggu suaminya di dalam mobil pun, bisa mengembangkan senyumannya lagi.


Dia sampai bertepuk tangan senang, "Woah... sayang, kau mendapatkannya? Aaaa... aku sudah tidak sabar ingin memakannya."


"Puas? Ini sudah restoran Indonesia yang keenam, setelah daging domba mau apa lagi?" tanya Reykhel dengan wajah kesalnya.


Dia duduk di belakang kemudi, sementara Ariana memangku bungkusan makanannya.


Mobil pun segera melaju dengan kecepatan sedang, kebetulan sekali restoran itu tidak terlalu jauh dari kantor. Jadi, Reykhel ingin singgah sebentar ke kantor.


"Sayang, ini bukan jalan menuju pulang... kita mau kemana?"


"Ke kantorku sebentar -"


"Waaaah, benarkah? Apakah kantor mu besar, sayang? Aku bahkan belum pernah menginjakan kaki di sana."


"Nanti kau lihat saja sendiri..."


"Oh ya sayang jika nanti aku lulus kuliah, aku ingin bekerja -"


Raut wajah Reykhel menatap tak suka padanya, "Apakah uang yang ku berikan di setiap bulannya kurang? Lebih baik kau di rumah saja untuk merawat dan membesarkan anak kita."


"Tapi -"


"Ariana, jangan memancing emosiku."


"Mmmmm... i- iya, maafkan aku sayang..." padahal di hati kecil Ariana, dia juga ingin bekerja, mempraktikkan ilmu yang selama ini ia serap dari kuliah.


Tak terasa merekapun sampai juga di kantor, semua mengangguk hormat pada Nona dan Tuan muda.


"Selamat siang Nona, Tuan muda..."


"Siang," jawab Ariana dengan ramah.


"Hm." Reykhel, ah jawaban yang selalu monoton.


Lalu keduanya masuk kedalam lift yang akan mengantarkan mereka langsung ke lantai tertinggi Brilian Group.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Selamat siang Nona, Tuan muda..." seru Jessica dan Rebecca yang menyapa bersamaan sembari beranjak dari duduknya, lalu memberi bow.


"Siang, apakah Jackson ada di ruangannya?"


Jessica terdiam saat Reykhel memotongnya.


"Tidak perlu, lanjutkan saja pekerjaan kalian."


"Baik, Tuan."


Ariana mengikuti langkah kaki suaminya, mereka berjalan berdampingan lalu masuk ke ruangan Jackson.


Klek!


"Hm?" saat ini Jackson tengah berbaring di sofa, dia segera duduk saat mendengar suara pintu ruangannya terbuka, "Tuan muda, Nona Ariana?"


"Kau sakit? Kenapa tiduran seperti itu."


"Tidak, Tuan... hanya ingin istirahat saja."


Reykhel dan Ariana duduk berhadapan dengannya.


"Apakah ada sesuatu yang ingin Tuan tanyakan?" tanya Jackson.


"Tidak, hanya kebetulan lewat saja. Di mana Gerry? Aku tak melihatnya."


"Gerry ada di -"


"Tuan Jackson!" seru Gerry memanggilnya dengan panik, membuat ketiga orang itu ikutan panik juga.


"Ada apa, Gerry? Bicara yang jelas." imbuh Reykhel menimpali, dia beranjak dari duduknya.


"Oh, ada Tuan dan Nona muda..." Gerry memberi bow, "Begini Tuan, wanita itu pingsan hampir kehabisan napas."


"Wanita?" tanya Ariana, "Si- siapa?" lalu menatap Reykhel dan Gerry secara bergantian, dia sudah mulai salah paham, "Kenapa kalian diam?"


Gerry yang sadar jika Ariana mulai cemburu itu pun langsung saja mengatakan, "Kekasih Tuan Jackson, Nona, dia pingsan."


"🤯" ekspresi wajah Jackson, dia menggeramkan bibirnya dengan kesal, "Cih!" dan langsung keluar untuk memastikannya sendiri.


Begitupun juga Ariana yang langsung menyusul, juga di ikuti oleh Reykhel dan Gerry.


Benar saja, Jessy pingsan dengan napasnya yang tersengal, dia sesak.


"Astaga!" Ariana menutup mulutnya sendiri, "Sekretaris Jackson apa yang kau lakukan? Kau menghukum kekasihmu sendiri dengan cara seperti ini? Kalian ini punya perasaan atau tidak, sih?"