
Reykhel yang sudah tiba di kantornya pun, saat ini sedang berhadapan dengan tumpukan berkas yang menyebalkan. Wajahnya mengerut sebal.
"Apa ini?" tanyanya pada Jackson yang berdiri di seberang meja.
"Berkas yang harus Tuan muda selesaikan."
Reykhel pun menghela napas, "Belum ada laporan dari Gerry?"
"Sudah Tuan." Dia mulai mengalihkan pembicaraan.
"Apa?"
"Hari ini seorang pria mengganggu Nona, dan membuat semua mahasiswa-mahasiswi di kelas menertawainya."
Terlihat guratan emosi di wajah Reykhel, "Berani sekali membuat istriku seperti itu, selain aku, maka tak ada yang boleh menjajahnya!"
"Minta dia untuk segera menyelesaikan masalah itu!" lanjut Reykhel, kemudian memulai pekerjaannya, menyelesaikan semua berkas itu satu persatu.
"Segera saya sampaikan, Tuan." Jackson segera mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan ruangan CEO itu.
Setibanya Jackson di luar ruangan, dia menatap dua asistennya yang sedang bergosip membahas istri bos mereka.
Bodoh, cari mati di kandang macan!
"Rebecca! Jessica!" seru Jackson yang langsung mengejutkan kedua gadis itu.
"Tu - tuan?"
Gemetar gugup diantara mereka berdua, lalu saling melempar pandangan.
"Kalian berdua ikut keruangan ku, sekarang!"
"Ba- baik, Tuan."
Wajah mereka berubah pias memucat, bahkan lipstik nude mereka pun sudah tak terlihat lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam istirahat Ariana dan Gerry tengah duduk di kursi taman, Ariana enggan ke kantin karena masih merasa tak nyaman dengan mantan sahabatnya itu.
"Gerry?"
"Kita, kan, sedang di luar rumah... tidak ada Tuan muda ataupun sekretaris Jackson, kenapa kau tidak memanggil ku dengan sebuah nama saja?"
Gerry yang duduk di sebelahnya pun menggeleng, "Tidak, Nona. Karena Nona Ariana adalah istri dari Tuan muda dan kami di larang untuk bertindak kurang ajar kepada Nona."
"Tapi kau sudah bertindak kurang ajar padaku tadi, saat di dalam mobil," kesal Ariana, apa yang baru saja dikatakan oleh Gerry sangat bertolak belakang dengan kenyataannya.
"Yang mana? Saya tidak ingat."
Ekor mata Ariana pun langsung melirik tajam padanya, dengan geram Ariana pun beranjak pergi meninggalkan Gerry.
"Nona mau kemana? Tunggu saya, Nona cantik yang suka marah-marah."
Kurang ajar sekali, sih, dia itu? Katanya di larang bertindak kurang ajar terhadap ku, tapi apa itu? Nona cantik yang suka marah? Oh astaga, aku rasanya ingin jadi orang gila sa - Bruk!
"Aw!"
Ariana jatuh terduduk di lantai setelah menabrak tubuh seseorang, dia tadi berjalan cepat dan tak memperhatikan keadaan disekitarnya.
"Nona?" seru Gerry yang langsung menghampirinya, mengulurkan tangan untuk membantu Ariana berdiri.
Dan, disaat bersamaan ada uluran tangan lainnya yang terulur di hadapan Ariana, membuatnya mendongak dan terkejut.
"Sebastian?" Ariana pun spontan meraih uluran tangannya, membuat Gerry cemberut kesal.
"Minggir!" ketus Gerry menyikut bahu Sebastian dan membuatnya sedikit menggeser tubuh dari hadapan Ariana.
Tentu saja sikap keterlaluan Gerry mendapat teguran dari Ariana, "Gerry, apa yang kau lakukan? Jangan bersikap seperti itu!"
"Adikmu?" tanya Sebastian yang langsung memotong ucapan Ariana.
"Bukan, hanya teman."
"Kau tidak punya teman pria -"
"Hanya teman saja, kok -"
"Bukan, aku bodyguardnya. Dia istri Tuan ku, jadi lebih baik kau menjauh dari Nona Ariana!" kini, bodyguard rasa adik yang sedang cemburu itu pun tengah berdiri di antara keduanya.
"Gerry, apa yang kau lakukan? Cepat menyingkir. Jangan berdiri menghalangi seseorang seperti itu!" kesal Ariana ingin rasanya dia mencubit pinggang Gerry.