
Sampailah mobil mereka di area parkir sebuah toko, "Kita sudah sampai Tuan."
"Hm?" Reykhel menolehkan kepalanya melihat area parkirnya saja sudah kecil, apa lagi toko nya? "Kenapa tempat parkirnya kecil? Lalu tokonya?"
"Tuan, kita kemari untuk membeli lilin aromatherapy... bukan membeli parkiran -"
"Bicara sekali lagi, akan ku pecat kau!"
Jackson diam sembari mengernyitkan dahi, dia pun segera turun membukakan pintu mobil si Tuan muda menyebalkan.
Entah mengapa sejak semalam dia begitu menyebalkan sekali.
"Minggir!" ketus Reykhel sembari merapikan jasnya yang memang tak berantakan, entahlah mengapa dia bisa berubah mode seperti ini.
Reykhel berjalan mendahului Jackson beberapa langkah ke depan, "Ada berapa banyak pilihan warnanya?"
"Varian, Tuan, kita bisa melihatnya nanti setelah masuk ke dalam toko."
"Kau yakin barang yang di jual toko ini semuanya asli? Legal? Bukan barang selundupan ataupun ilegal?"
Jackson yang geram pun hanya menjawab, "Tidak!" memangnya dia pikir ini toko apa? Sampai-sampai dia mempertanyakan kelegalitasannya.
Reykhel menaiki anak tangga dan berdiri di depan pintu kaca, heran, mengapa pintunya tak bergeser.
Ini bukanlah pintu otomatis! Geram Jackson, dia menaiki satu anak tangga lagi dan segera mendorong pintu itu, "Silakan Tuan."
"Unik!" seru Reykhel.
Apanya? Kan, rumah tuan sendiri juga tidak otomatis, tidak semua pintu kaca bisa terbuka secara otomatis. Gerutu Jackson.
Memang bodoh, ada kalanya dia bersikap seperti manusia biasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kediaman Reykhel...
Ariana sudah bangun dan bersiap rapi, hari ini dia mengikat rambutnya dengan gaya bun, kesukaannya.
Dia memakai setelan kulot, dan membawa tote bag.
"Nona Ariana sarapan sudah di siapkan," tutur Clara yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Iya tunggu sebentar," hatinya mendadak menggelitik ingin memakai lip cream, bibirnya sedikit menghitam entah mengapa.
Ariana pun segera keluar kamar dan menyapa pelayan pribadinya, "Hai Clara, bagaimana menurutmu penampilanku hari ini? Apakah layak?" dia menanyakannya karena takut akan tidak pantas dan di anggap mempermalukan Tuan muda galak super egois itu.
"Iya Nona," Clara mengangguk, bahkan wajahnya bersemu merah. Dia pun terkesima melihat kecantikan Ariana yang polos tanpa balutan makeup, "Nona Ariana cantik sekali, siapapun pasti akan terkesima melihatnya."
"Kau berlebihan Clara -"
"Hai Nona?" seru Gerry yang nyelonong masuk dari luar rumah, dia melambaikan tangannya ke udara seraya tersenyum.
"Gerry?"
Mendadak wajahnya berubah kesal saat dia ingat peringatan sekretaris Jackson semalam.
"Em...." Gerry mulai merasa tak nyaman dengan tatapan mata Ariana, "Ada apa Nona? Apakah Nona sakit mata?"
Geramnya Ariana membuat Gerry terkekeh, "Saya punya obat yang manjur loh, Nona -"
"Sudahlah lebih baik kau diam saja, aku malas bicara denganmu..." ketus Ariana kesal yang berlalu meninggalkannya ke meja makan.
Saat Ariana mau duduk, Gerry juga ikut duduk di sampingnya, "Wah, bubur gandum? Kelihatannya lezat tetapi saya tidak suka."
Ekor mata Ariana melirik kesal padanya, "Dasar tidak nyambung, kalau tidak suka mengapa kau memujinya?"
"Tapi karena Nona ingin memakannya, mendadak saya juga menyukainya..."
Ariana memutar bola matanya dengan jengah, lalu menggeleng pelan, "Terserah kau sajalah."
Menyantap sarapan pagi dengan Gerry si usil yang terkadang membuatnya tersenyum tipis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di toko tadi Tuan muda terlihat sedang berdiri di depan lemari, dia bingung ingin memilih warna dari lilin itu.
"Jackson, menurut mu warna apa yang bagus?"
"Mungkin hijau, Tuan, dari warnanya saja terlihat terang dan menenangkan."
"Hijau terlihat lebih cocok untuk lelaki, bukan untuk -"
OPS!
Sialan ya, Reykhel langsung menggigit bibir bawahnya dengan spontan.