SUPER RICH MAN

SUPER RICH MAN
Menjenguk Mama (2)


Satu jam sudah berlalu, Ariana sampai sakit pinggang akibat gempuran yang ia terima, meskipun begitu wajahnya selalu merona merah saat sedang menerima keperkasaan Reykhel yang mengagumkan itu.


"Ariana cepat sedikit!" seru Reykhel memanggil dari luar bath room.


"I- iya sayang tunggu sebentar..." cepat-cepat Ariana menggosok gigi lalu berkumur, dan keluar dari sana, "Sayang, bajuku di mana?"


"Di atas nakas, masih terbungkus rapi... ayo cepat Papa pasti sudah menunggu kita."


"Kau yang membuat waktu terulur, dan sekarang aku yang di salahkan..."


"Kau bicara apa?" tanya Reykhel sembari menaikan satu alisnya.


"Ahahahaha, ti- tidak kok..." Ariana dengan cepat memakai pakaiannya yang nyaman untuk ibu hamil, "Sayang ayo aku sudah bersiap."


"Hm."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Begitu pun juga dengan Papa yang sudah bersiap, karena tak boleh kelelahan jadinya Gerry yang akan mendorong kan kursi rodanya.


Jackson juga sudah bersiap rapi, dia yang menyupiri mobil menuju pemakaman mendiang Mama dan juga Sena, mereka berdua di makamkan berdampingan.


Setelah sampai di tempat pemakaman umum, semuanya turun dengan hati-hati. Gerry membatu Papa dengan perlahan lalu kembali mendorong kursi roda itu.


"Tuan Adijaya?" serunya memanggil dengan suara yang lirih, mereka mendahului ke tiga orang yang ada di belakangnya sekitar lima langkah kaki.


"Iya?"


"Dari yang saya dengar Tuan menemui tuan muda Reykhel untuk menikahi Nona Ariana, ya?"


"Dari mana kau mengetahuinya?"


"Telinga saya ada di mana-mana, Tuan."


"Ya, apa yang kau dengar itu memanglah benar... memangnya kenapa?"


"Seharusnya Tuan mendatangi tuan Jackson, bukan tuan muda Reykhel."


"Kenapa?" tanya papa dengan nada heran.


"Karena keturunan Tuan muda Reykhel pasti akan sedingin kutub Utara yang ada di paling dasar bawah kerak bumi, Akh!"


Gerry memegangi tengkuknya, dia berhenti mendorong kursi roda lalu menoleh ke arah Reykhel.


"Bicara sembarangan lagi, awas kau ya!" tandas Reykhel dengan nada tak suka saat mendengar Gerry yang sedang menghasut Papa mertuanya.


"Cih!" cetus Jackson yang langsung membuang pandangannya ke arah kiri yang kosong.


Ariana terkekeh kecil di buatnya, ada-ada saja kelakuan mereka bertiga ini, begitu pun juga dengan Papa yang juga ikut tersenyum.


Papa masih dengan setia menjadi pendengar perdebatan ketiga pria itu, di tambah lagi ia mendengar suara tawa Ariana yang sudah lama tak pernah ia dengar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka berlima sedang menatap batu nisan Mama dan Sena, ada dua foto dan rangkaian bunga di sana.


"Mama, Kakak... Papa dan Ariana datang untuk menjenguk kalian berdua, dan maaf juga baru sempat sekarang -"


"Berdua? Enak saja kalau bicara!" ketus Reykhel yang langsung memotong ucapan Ariana, lalu Reykhel menggenggam tangan Ariana dengan lembut dan hangat, "Mama... ini aku, Reykhel Louis Wilson menantu mu yang paling tampan, aku datang kemari untuk berterimakasih karena telah melahirkan wanita yang secantik Ariana, Ma... di dunia ini, selain Mamaku, Mama mertua, dan juga Ariana, tidak ada lagi yang cantik."


"Dan, terima kasih juga telah memilih Ariana untuk menjadi putrimu, Ma. Cinta kami berdua akan utuh sampai maut memisahkan," lanjut Reykhel yang ternyata semua ucapannya telah di rekam oleh Gerry.


"Istriku, dan putriku Sena, kalian bisa beristirahat dengan tenang sekarang..." Istriku, kita akan bertemu dalam waktu dekat, sekarang aku sudah tenang karena bisa melepaskan Ariana kepada pria yang tepat.


Napas Papa mulai sesak secara perlahan, saat semuanya sedang merasakan haru biru dari kebersamaan mereka, Papa mulai berkeringat dingin.


Istriku, kau datang untuk menjemput ku, kan?


Papa melihat dua cahaya yang mendekat, wanita berambut panjang dengan senyum yang memperlihatkan dimple itu adalah istrinya, Mama Ariana.


Lalu wanita yang di sebelahnya adalah Sena, dia terlihat begitu cantik dengan rambut hitamnya yang terurai.


Keduanya sama-sama mengulurkan tangan kanan, menyambut kedatangan Papa.


Papa pun membalas senyuman mereka, napasnya perlahan terdengar lemah, dan Gerry yang menyadarinya pun langsung memegang kuat pada pundak Papa.


Merasakan hal itu membuat Gerry berdegup kencang, dia menyandarkan Papa di sandaran kursi roda seolah sedang tidur.


Kedua matanya telah terpejam rapat, tak bisa lagi mendengar suara tawa Ariana.


"Nona, Tuan muda... lebih baik kita kembali ke rumah sakit, Tuan besar tertidur, mungkin lelah."


Jackson bisa mendengar suara palsu dari mulutnya, dia pun terkejut saat menangkap kepalsuan di manik hitam Gerry. Bibir Gerry juga sedikit bergetar.


"Tuan muda, lebih baik Tuan dan Nona langsung pulang saja ke rumah... saya akan menelfon sopir untuk segera datang!" seru Jackson dengan raut wajah yang biasa.


Reykhel sedikit tak mengerti, tapi gerakan mata Jackson menyadarkannya.


"Sayang, sebelum pulang kerumah aku mau makan sop iga dulu, ya?" pinta Ariana yang langsung memegang dada Reykhel.


"Ayo, kau mau makan iga, kan?" Reykhel pun langsung menarik Ariana dan menuntunnya penuh kehati-hatian, meninggalkan mereka bertiga.


"Sayang, kenapa mereka tidak ikut turun? Lalu Papa?"


"Tidak apa-apa, Papa masih rindu dengan Mama mu, jangan mengganggunya. Kau masih punya suami yang harus di urus. Jangan lupakan itu!"


"Mmmmm..." angguk Ariana tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi.