SUPER RICH MAN

SUPER RICH MAN
Ingin Anak Laki-Laki


Usia pernikahan Ariana baru menginjak dua Minggu, mengira gadis itu sedang hamil, sepertinya pemikiran itu sudah terlalu jauh.


"Engh..."


Perlahan Ariana membuka kedua matanya, tubuhnya serasa bergoyang, dia berada di dalam mobil.


"Kenapa aku ada di mobil?" tanya Ariana sembari duduk bingung dengan mengumpulkan nyawa.


"Memangnya kau mau bangun di mana? Di rumah duka? Yang benar saja!" tandas Reykhel dengan menatap dingin sang istri, lalu membuang pandangannya ke pemandangan luar jendela.


Dia sampai mengekang ku seperti ini... "Maaf..."


"Hm," Reykhel sejenak menghela napasnya, "Jackson?"


"Iya, Tuan?"


"Hentikan mobilnya."


Eh, ke- kenapa harus menghentikan mobilnya? Gumam Ariana. Dia bahkan terkejut saat Jackson menurutinya.


"Baik, Tuan."


Suasana jalan yang sepi membuat Reykhel mendadak melepaskan sabuk pengamannya, begitu pun juga dengan sabuk pengaman Ariana.


"Tu- tuan, mmmmhhh...."


Reykhel mencium bibirnya lalu merebahkan tubuh Ariana di atas jok, membuatnya berada di dalam kungkungannya.


Ciumannya pun terlepas, membuat Ariana dengan cepat menghirup udara.


"Aku bisa saja melakukannya di hadapan orang itu," dia menunjuk Jackson dengan ekor matanya, "Maka berhati-hatilah agar kau tidak kehilangan harga dirimu di hadapan orang lain!" lanjut Reykhel sembari menggigit dada Ariana hingga memerah.


"Emh..." sakit, air matanya menetes lagi.


"Jackson, lanjutkan perjalanan." pinta Reykhel seraya kembali duduk dengan tenang seperti semula.


Jackson menjawabnya dengan anggukan kepala pelan, lalu mobil pun kembali melaju memecah keramaian kota dengan kecepatan sedang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari mulai menuju puncaknya, angin sejuk pun bermain menyapa helaian rambut.


Mereka tiba di rumah, Ariana keluar dari mobil.


Ariana masih memasang wajah sedihnya, Reykhel yang tak peduli pun kembali melanjutkan perjalanan menuju kantor.


"Lanjutkan perjalanan."


Jackson kembali mengemudikan mobilnya menuju Brilian Group, sepanjang perjalanan Reykhel pun hanya diam saja.


Dia duduk sembari memangku dagu dengan tatapan malasnya, entah apa yang sedang menggeletik hatinya.


Sesekali juga Jackson menatap wajah itu dari spion kecil yang tergantung di atas kemudi.


"Tuan sedang memikirkan sesuatu?"


"Jika aku memiliki seorang anak, bagaimana menurutmu?"


Hah? Reykhel mendadak punya pemikiran maju seperti itu? Apakah dia tidak salah?


"Itu bagus Tuan, hadirnya seorang anak akan mempererat hubungan Nona dan Tuan muda."


"Begitu kah?"


"Iya, Tuan."


"Aturkan jadwal untuk konsultasi dengan dokter."


"Segera saya aturkan jadwalnya, Tuan."


Entah mengapa Reykhel mendadak ingin memiliki anak, apakah itu artinya dia telah membuka pintu hatinya dengan utuh untuk Ariana?


Ariana, si gadis miskin yang selalu ia tindas itu. Semoga saja Ariana bersedia untuk memberikannya seorang anak.


Mereka pun akhirnya tiba juga di kantor, keduanya melangkah masuk ke dalam lift, menekan sebuah tombol angka yang akan mengantarkan mereka ke lantai gedung tertinggi.


"Jackson, apakah menurutmu jenis kelamin sebuah janin bisa di tentukan sesuai dengan apa yang aku inginkan?"


Bodoh, mana bisa yang seperti itu! "Semua sudah terbentuk saat terjadinya pembuahan di dalam rahim, Tuan."


"Di dalam rahim?"


"Benar Tuan."


"Apakah kau tahu bentuknya seperti apa?"


Aku bukan dokter kandungan! Wajah Jackson sedikit memerah, "Tidak, Tuan. Mungkin bisa di tanyakan pada saat berkonsultasi."


"Aku hanya ingin anak laki-laki."


Obrolan di dalam lift itu pun berakhir seiring dengan pintunya yang terbuka, Reykhel melangkahkan kakinya lebih dulu yang kemudian di susul oleh sekretarisnya.