Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"

Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"
Mari Saling menyakinkan diri


Aishe tampak sibuk didapur membuat beberapa makanan untuk makan malam dia dan Murat, para pelayan pada akhirnya terpaksa mengalah karena tidak diperbolehkan mengganggu aktivitas kerja nya, sedangkan kebahagiaan terluar biasa aishe adalah karena Eden dan ramira pada akhirnya pulang juga.


Itu luar biasa...setelah mengerjai mereka beberapa waktu, akhirnya merasa gerah dan menyerah.


aishe sedikit terkekeh jika ingat ke usulan dia sendiri.


aishe tampak sibuk berkutat di dapur dengan menu makan malam mereka, dimulai dari mempersiapkan bahan-bahan, membersihkan nya, memotong nya satu persatu, memblender beberapa bumbu hingga menuju ke tahap siap masak, setelah matang aishe langsung menuangkan semua nya di dalam masing-masing mangkuk dan piring sayur saji.







"Sempurnah"


ucap aishe senang, lantas langsung membereskan semua peralatan memasaknya, membersihkan dan merapikannya.


"Hmmm... aku mencium aroma Nikmat didapur"


tiba-tiba Murat muncul dari arah arah depan, lantas langsung menatap beberapa menu yang tersedia di atas meja.


"Apa ini makan malam spesial?"


goda nya kemudian


aishe terkekeh.


"Tidak, sama sekali tidak ada yang spesial, Daddy akan terbiasa mulai sekarang untuk makan bersama ku, menikmati masakan ku, hmmm hanya saja aku tidak tahu apakah akan sesuai dengan selera Daddy"


ucap aishe sambil melepaskan afron milik nya, meletakkan nya di sudut kitchen set.


Murat mengambil 1 iris steak yang ada di atas meja, memasukkan nya kedalam mulut, mencoba mengunyah lantas menikmati nya.


Aishe menatap nya sedikit was-was.


Seketika ekspresi bahagia tampak dari wajah Murat


"Aku fikir istri ku hanya bisa mengerjai orang saja"


ucap nya cepat, mendekati Aishe, aishe jelas terkekeh.


"Mengikat perut suami hmm?"


"Daddy?"


"Tunggu sebentar"


Murat bicara langsung memeluk Aishe Begitu saja, dia memeluk gadis itu begitu dalam dan hangat.


"Hmmm kau tahu aishe? aku bukan type laki-laki yang jika suka atau tidak Dengan sesuatu, hanya memendam dan tidak bicara, membiarkan waktu membawa sesuatu kesembarang arah"


Aishe tampak mengerutkan dahinya, tidak paham kemana arah pembicaraan Murat.


"Aku type laki-laki yang jika suka pada sesuatu akan bicara dengan gamblang"


Aishe masih diam, menikmati pelukan Murat yang terasa begitu hangat.


"Banyak orang sepakat bahwa cinta adalah hal yang kompleks. Membicarakan persoalan satu ini seperti tidak pernah habis karena setiap orang mungkin memiliki definisi hingga cara mengungkapkan cintanya masing-masing"


ucap nya kemudian,lantas sepersekian detik kemudian Murat menaikkan tubuh aishe ke atas meja yang kosong, aishe agak terkejut tapi tangan kokoh Murat langsung menyentuh wajahnya, dia menatap bola mata itu begitu dalam.


"cinta adalah kata kerja yang mencerminkan bahwa seseorang sangat menyukai orang lain secara romantis maupun seksual. Cinta juga digambarkan sebagai perasaan kuat atas kesukaan terhadap teman atau orang di dalam keluarga."


"Terdengar lucu, tapi aku hanya berfikir kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuat aku meras nyaman hingga sejauh ini, membuat ku mampu berfikir secara logis, merasa di cintai dan mencintai, dan merasa betapa kamu begitu berharga untuk ku"


Aishe mencoba menatap dalam bola mata laki-laki itu, menelisik seluruh pembicara nya apakah sungguh-sungguh dari hatinya atau sedang ingin membohongi dirinya.


"Kau adalah Seseorang yang membuat ku  memiliki empati yang kuat terhadap orang lain. tidak tahu kenapa saat bicara sesuatu yang serius dan hal menyakitkan bersama mu aku juga akan merasakan penderitaan yang kamu alami, terdengar aneh padahal aku bukan type laki-laki yang begitu peduli pada perasaan orang lain"


"Terdengar klise juga, kau adalah satu-satunya gadis yang ingin aku ajak merancang masa depan bersama, jangan tertawa tapi aku ingin sekali membicarakan masa depan berdua dengan mu, misalnya untuk memiliki keturunan, ataupun membangun rumah bersama dengan lebih baik"


Seketika Aishe cukup terkejut mendengar ucapan Murat, terus berusaha menelisik bola mata indah laki-laki itu.


"Beberapa waktu ini aku mencoba menyakinkan diri, apakah ini cinta atau bagaimana, kemudian aku sadar ketika kita pernah melihat seorang ibu memandangi bayinya yang baru lahir, atau memandang anaknya dengan penuh kasih, maka kita akan mengenali sebagian dari tatapan konstan pada objek cinta nya"


" Ketika kita melihat seseorang yang kita cintai, kita tidak hanya melihat seperti apa mereka. kita mungkin melihat seluruh masa depan kita bersama, atau setidaknya membayangkan seperti apa masa depan salah satu dari kita"


"Lantas aku menyakinkan diri ,Begitu tiap kali ketika aku memandang diri mu, aku selalu membayangkan bagaimana menyusun masa depan dengan baik dengan mu"


Aishe melebarkan senyumannya, menatap bola mata itu secara bergantian.


"Beri aku waktu untuk lebih menyakinkan diri mu, dan aku akan memberikan kamu Waktu untuk menyakinkan diri mu soal diri ku, ketika kita sama-sama telah yakin, mari berdua membina hubungan ini bersama, saling memegang tangan dan menyusun masa depan bersama"


Murat balik menatap bola mata indah itu, mencoba menyakinkan gadis itu soal perasaan nya.


Anggaplah dia sudah gila, tapi dia pada akhirnya terjebak pada permainan nya sendiri, dia menginginkan gadis ini, ingin memiliki nya, ingin melindungi nya, ingin terus menggenggam tangan nya hingga akhir. Tidak peduli bagaimana akhirnya nanti, tapi dia benar-benar tidak berniat untuk melepas kan gadis itu dari genggaman nya.