
Aland terus menatap wajah Ailee yang tertidur pulas sejak tadi, dia memejamkan matanya sejenak kemudian membuka bola matanya lagi.
Sepersekian detik kemudian aland melesat turun dari atas kasur, mencoba keluar ke teras samping kamar mereka. Dia meraih rokoknya lantas menyalakan nya dengan pamatik, mencoba menghisap rokok nya secara perlahan.
Apa yang sebenarnya aku inginkan saat ini?
itu batin nya.
Balas dendam atau benar-benar dia menginginkan Ailee, kegusaran tiba-tiba menghantam perasaannya. Saat melihat senyuman ceria Ailee jelas saja emosi dan amarah bertalu-talu nya seketika menghilang, tapi saat mengingat apa yang valentine perbuat di masa lalu, seketika hati nya menjadi begitu sakit,.nafsu balas dendam nya secepat kilat meroket bak bom nuklir.
apalagi saat dia tahu Murat menahan aishe di tempat kediaman laki-laki itu, jelas saja mempersulit gerakan Aland siap banyak hal.
Beberapa waktu kemudian dikala Fikiran berat berkecamuk menjadi satu, tiba-tiba handphone nya berdering, sebuah nomor yang tidak dia kenal muncul di sana. sebuah panggilan Video jelas terpampang di layar handphone nya.
Aland mengerutkan dahinya, mencoba mengangkat panggilan nya.
Seketika bola mata Aland membulat, Murat mengapa nya dengan sejuta senyuman palsu.
"Halo kakak ipar"
bang..sat..!!!
umpat Aland.
"Sudah tersambung?"
tiba-tiba aishe muncul dari arah belakang, langsung berdiri disamping Murat, Sepersekian detik kemudian Murat mencium aishe secara lembut dihadapan nya.
"Daddy"
Aishe bicara sambil menyentuh pipi kirinya yang dicium Murat tiba-tiba.
Setelah itu sang adik kesayangannya tampak melambaikan tangan nya penuh dengan keceriaan.
"Kakakkkkk"
Dilihat dari ekspresi wajahnya, jelas adik kesayangannya itu baik-baik saja.
"Kenapa baru menghubungi Kakak sekarang?"
Aland jelas mengeras kan rahangnya, cukup panik melihat Murat berada di samping aishe.
"Handphone ku hilang, tidak tahu kemana"
"Murat bilang kalian saling mengenal di perusahaan?"
Aishe bertanya cepat menatap bola mata Aland sambil melebarkan senyumannya.
Aland tampak diam sejenak, Murat mengedipkan sebelah matanya.
"Mengenal dengan sangat baik bukan, Aland Alkmaar Yildiz?"
Murat bicara sambil menyentuh lembut puncak kepala Aishe.
terdengar seseorang memanggil aishe dari arah samping.
"Kakak aku harus pergi, kalian bisa bicara dengan banyak"
setelah berkata begitu Aishe melesat pergi meninggalkan mereka.
"Kau begitu pandai menjerat adik ku"
Murat Terkekeh, kemudian menatap tajam ke arah Aland.
"Aku hanya ingin memastikan jika Ailee kami baik-baik saja, mari membuat kesepakatan ulang, saling mengembalikan tawanan"
Aland mendengus mendengar ucapan Murat.
"Kau terlalu banyak bermimpi"
"Belasan tahun kau menjadikan Ailee kami tawanan, apa itu tidak lucu Aland?"
Murat bertanya sambil memajukan wajahnya.
"Valentine sendiri yang meminta nya"
"Dia jelas-jelas bukan putri mu, lalu kenapa kau berfikir ingin menahan putri Abigail hingga akhir hayat mu huh?"
"Kau tahu istilah nyawa dibayar nyawa huh? setidaknya dia harus membayar semua kesalahan kalian"
ucap Aland begitu dingin.
Murat Terkekeh sejenak, lalu tiba-tiba ekspresi wajah nya berubah begitu dingin.
"Lucu sekali, kau lupa siapa yang membuat kekacauan lebih dulu? Al Jaber atau Faith Yildiz? seolah kau menutup mata soal kematian orang tua ku"
ucap Murat dengan tatapan begitu tajam.
"Jangan lupa aland, siapa yang menyebabkan kematian ayah ku dulu, kau tidak harus pura-pura untuk menutup mata dan telinga mu"
Murat mengeram, jelas sekali betapa kemarahan nya bertalu-talu saat ini.
"Bersikaplah baik pada Ailee, maka aku juga akan bersikap baik pada Aishe, hingga kita menyelesaikan urusan proyek La Ziyad dalam 3 bulan kedepan, aku masih menunggu mu membayar seluruh hutang-hutang ayah mu kepada ayah ku"
Setelah berkata begitu, Murat jelas-jelas menutup panggilan nya.
Breng..sek..!!!
Aland mengumpat kesal, memukul tiang yang ada di samping nya.
Bang..sat.
Hutang nyawa selalu di balas dengan nyawa, kali ini pun akan tetap berlaku sama.