
Saat masuk ke dalam apartemen nya, Bern sejenak menaikkan alisnya, dia fikir apa pewangi ruangan nya di ganti?
ada apa ini?
jelas saja dia menggerutu kesal.
Aroma nya seperti milik perempuan.
"Shit kenapa wanita tua itu mengganti nya"
umpat Bern sambil mengeratkan rahangnya, dia menarik kesal dasinya, melepaskannya dengan perasaan kesal.
Dia jelas tidak suka ada yang bekerja dengan nya, mengganti apa yang dia sukai tanpa seizin diri nya.
Yang benar saja.
Dengus nya kesal.
Melesat ke kamar mandi, Meletakkan dasi nya ke keranjang pakaian kotor, mulai membuka pakaian nya secara perlahan, meraih handuk mandi nya kemudian kembali berjalan ke depan.
Lantas laki-laki itu mencoba menyentuh tiap sudut meja, kursi, lemari dan lainnya, memeriksa apakah ada debu yang tertinggal, memperhatikan seluruh laci-laci, mengintip di belakang TV, lukisan dan lainnya, menyentuh tiap sudut, menggesek dengan 2 jari nya dan memastikan tidak ada 1 debu pun yang tertinggal.
Dia jelas begitu Perfeksionist, segala sesuatu mesti sempurna di matanya, tidak boleh satu kotoran Pun tertinggal di tempat nya, segala sesuatu harus terlihat sempurna, tersusun begitu rapi sesuai letak awal dimana dia menyusun nya sebelum nya.
Meskipun lama tidak pulang ke Indonesia, dia selalu hapal letak-letak seluruh barang-barang nya, dan dia bahkan bisa melihat 1 debu pun dihadapannya.
karena itu sulit sekali untuk diri nya bisa cocok dengan orang lain, berkali-kali mengganti pekerja rumah tangga dan acapkali mengamuk ketika segala sesuatu tidak sesuai keinginan nya.
Dia bukan type orang yang suka berbaur dengan orang lain sejak dulu, hidup nya selalu sendiri karena dia memang menyukai nya, meskipun di kalangan dunia mafia ada jutaan lautan manusia mengitari nya, semua orang jelas tahu agar tidak terlalu dekat-dekat dengan dirinya, Bahkan meskipun Dia begitu menyukai perempuan, one night stand dan ber..cinta dengan mereka, Bern jelas harus menelisik lebih dulu dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya dan memastikan lawannya bersih sempurna.
Sepersekian detik kemudian dia mencoba untuk menghubungi seseorang.
"Apa pengurus rumah ku di ganti?"
Bern tampak begitu marah.
"Kau bilang yang lama masih bekerja?"
shit
dia mengumpat kesal dalam hati
"Bagaimana Koki yang lama? aku bilang jangan pernah meninggalkan 1 catatan kecil pun di sudut apartemen ku, hal itu bisa mengotori barang-barang terbaik disini"
Bern terus mengoceh kesal.
"Ganti koki nya dengan yang baru, dan aku ingin pengurus rumah yang lain"
brakkk
Bern membanting kesal handphone nya di atas meja dapur, menarik nafasnya panjang kemudian membuka Microwave yang ada di hadapannya.
Sejenak dia diam saat melihat menu yang baru saja dia ambil dari dalam microwave itu, dia duduk masih dengan perasaan kesal lantas mulai meraih sendok, kemudian memakan nya secara perlahan.
Tiba-tiba dia mengerutkan dahinya, mencoba kembali makanan tersebut, kemarahan nya tahu-tahu menghilang lantas dia terus menyuapi makanan itu ke mulut nya berkali-kali.
Entahlah rasa makanan ini mengingatkan nya pada seseorang, mengingat kan diri nya pada satu kenangan lama.
Mommy.