Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"

Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"
Membuat dirinya Panik


Saat lagi-lagi mendapatkan telpon dari salah satu dokter di rumah sakit, Eden jelas bergetar cepat dengan langkah lebar, tidak mempeduli kan siapa pun Yang ada di sekitar nya, Eden jelas melesat meninggalkan semuanya.


Bahkan selama diperjalanan dia tampak begitu panik, terus menekan klakson mobil nya dengan penuh perasaan menggebu yang menyatu menjadi satu.


Ketakutan dirinya selama bertahun-tahun soal mama nya jelas selalu menghantui dirinya, dia takut wanita tua itu pergi meninggalkan mereka. Bahkan sang mama belum melihat Belle tumbuh dewasa, dia belum melihat putri dari anak tertua nya itu tumbuh sempurna, belum sekali pun Menyentuh wajah cucu satu-satu nya setelah kejadian malam itu, saat sang kakak ditemukan meninggal karena melompat dari gedung lantai paling atas apartemen nya, meninggalkan bayi mungil itu seorang diri di kamar nya.


Masih jelas di ingatan nya sang mama berkata dengan bola mata berkaca-kaca, tubuh ringkih yang telah terbaring di rumah sakit dalam keadaan waktu yang lama itu terus berusaha bicara sambil menatap dalam bola matanya.


"Ma"


"Demi membuat Belle tidak bertanya siapa mama nya, agar tidak malu ketika orang-orang bertanya dimana mama nya, katakan pada nya Jika aku adalah mama nya, kau adalah kakak satu-satunya"


"Ma?"


"Anak-anak akan malu menyebut soal kematian orang tuanya yang melakukan bunuh diri karena skandal cinta, lamban laut orang-orang akan mencemooh dia dan berkata mama nya pernah menjadi simpanan pria kaya"


Sang mama dengan tubuh ringkih nya bicara sambil menyentuh hangat wajah Eden.


"Jika sesuatu yang buruk terjadi pada mama, perlakukan Belle seperti anak dan adik mu sendiri, jangan terlalu tegas padanya, dia hanya seorang anak gadis yang tidak tahu apa-apa"


Eden berlarian kencang begitu sampai ke area parkiran rumah sakit, tidak peduli bagaimana saat ini, yang dia tahu dirinya harus tiba di ruang ICU Secepat nya.


Kepanikan jelas melanda saat beberapa dokter meminta nya menunggu di luar, entah berapa lama dia tidak tahu, yang jelas seluruh posisi sudah dia tukar sejak tadi. Berdiri, bersandar, duduk di kursi, ber jongkok, mondar-mandir bahkan terus mengusap kasar wajah dan mengacak-acak rambutnya berkali-kali, bahkan bola matanya mulai memerah sempurna.


Lalu saat pintu ruangan ICU terbuka, beberapa dokter keluar dari sana dan memisah arah, seorang dokter pria berusia 55 tahunan tampak menarik nafasnya panjang, menghampiri Eden sambil menepuk-nepuk pelan bahu Eden.


Setelah berkata begitu, dia menoleh ke arah perempuan cantik di sampingnya.


"Kau bisa menemaninya, ayah akan kembali ke ruang kerja"


"He em"


yang di ajak bicara mengangguk pelan.


Dokter perempuan itu berusia sekitar 26-27 tahunan dengan aksen wajah oriental tampak memaksa tersenyum pada nya, dia putri kepala dokter di rumah sakit itu, gadis itu mencoba mendekati Eden sambil merentangkan kedua tangannya.


Dokter pria itu yang tahu betul hubungan putri nya dan Eden, langsung pergi meninggalkan kedua orang itu.


Sepersekian detik kemudian Eden memeluk erat tubuh itu, membenamkan kepalanya di bahu gadis itu.


"Semua baik-baik saja, all it's well, jangan menangis lagi sayang"


ucapnya pelan sambil menepuk-nepuk punggung Eden beberapa waktu.


"Aku tidak menghubungi Belle, karena takut dia lagi-lagi tertekan dengan keadaan, dia terlalu muda untuk memahami banyak hal Kevin"


ucap nya pelan.