
Setelah pergulatan panjang untuk beberapa season akhirnya mereka merebahkan diri bersama, sejenak Murat mencium puncak kepala Aishe, mengulum senyum kemudian berkata.
"Aku fikir seperti biasa kamu akan melakukan hal konyol, membuat cerita rumit hingga menurunkan semua kadar sek..sua..lisme yang meningkat, mengerjai ku atau bahkan membuat semua menjadi begitu sulit tapi kenapa kali ini tidak?"
Aishe terkekeh, mendongakkan kepalanya sejenak. Jika ingat dengan kekonyolan nya pada Murat, jelas saja terasa aneh mereka melewati masa ber..cin..ya tadi dengan begitu tenang.
"Bukankah puncak relasi dalam sebuah pernikahan adalah kompromi?"
Tiba-tiba Aishe bicara, membenahi posisi tidur nya agar bola mata mereka saling menatap antara satu dengan yang lainnya.
"Kompromi juga dapat dikatakan sebagai konsep untuk mendapat kesepakatan melalui komunikasi, persetujuan dengan jalan tengah atau saling mengurangi tuntutan"
Murat tampak menatap balik dalam bola mata itu.
"Bukankah hubungan asmara yang sehat penuh dengan kompromi? paham mana keinginan juga paham yang mana kebutuhan?"
"Ketika keinginan salah seorang pasangan tidak terpenuhi akan muncul kekecewaan dan disinilah kompromi diperlukan. Dalam hubungan asmara, kompromi diperlukan untuk mencapai sesuatu yang kita butuhkan"
"Tapi daddy membuat sebuah kompromi yang aku anggap luar biasa, tahu yang mana kebutuhan, tahu yang mana keinginan, aku tidak melihat kekecewaan Dimata itu sama sekali ketika aku menolak untuk melakukan kewajiban sebagai seorang istri"
"Mungkin laki-laki lain akan melakukan nya dengan memaksa atau bahkan bisa jadi berbuat nekat seperti mem.per.kosa misalnya. karena untuk ukuran gadis di usia seperti aku sudah tidak mungkin lagi di rayu, di bujuk atau bahkan ditipu untuk soal hubungan sek.. sua..lisme sebab mereka akan berfikir bukan kah ini hubungan yang sudah sah? kenapa juga aku harus pusing-pusing memikirkan nya, bisa jadi tidak menjaga hati ku dan tidak mengaju kan kompromi bersama di ke esokan hari nya"
"Tapi Daddy jelas-jelas kembali membicarakan semuanya di keesokan harinya, berusaha memberi solusi atas kegelisahan perasaan ku pada pernikahan kita"
"Selama pernikahan kita berlangsung aku menunggu mungkin ada kesepakatan lanjutan yang ingin daddy buat, tapi aneh nya aku menunggu pembicaraan kesepakatan, berkompromi mungkin soal kapan ingin mengakhiri semua nya tapi hingga titik hari ini aku sama sekali tidak mendengar nya, Daddy membawa hubungan ini mengalir sempurna bagaikan aliran induk sungai, membiarkan aku tetap menjadi aishe yang kemarin, memilih jalan mana yang ingin aku lewati di sepanjang hari, berlaku lembut dan memanjakan ku"
"Lalu kita tidur di tempat yang sama dalam jangka waktu lama, untuk ukuran laki-laki normal kamu bisa saja memanfaatkan kesempatan, melakukan hal buruk, memaksa ku untuk melayani keinginan kamu, tapi seperti tadi, Daddy masih berkompromi terhadap hati ku, melepaskan hasrat yang menggebu, masih berkata maaf dengan tulus, takut berlaku lebih jauh, memutuskan untuk memisah tempat tidur"
"Aku cukup bahagia karena relasi hubungan ini menjadi begitu dihargai dan begitu terjaga dengan baik"
"Lalu tiba-tiba aku berfikir kenapa aku tidak mau Berkompromi Bersama?"
"Bukankah suami ku berusaha untuk menjaga puncak relasi nya dengan baik, lalu kenapa aku tidak mau membagi puncak kompromi nya?"
"Bukan kah pada akhirnya Ketika pasangan sudah saling membagi keinginan satu sama lain, tentu saja akan terjadi kesepakatan yang saling melengkapi. Pada akhirnya, ketika saling pengertian sudah tercipta masing-masing orang takkan merasa perlu lagi berkompromi karena merasa sudah memahami"
Murat melebarkan senyumannya, mengelus lembut wajah Aishe kemudian menautkan kening mereka.
Dia fikir ini memang hal tergila yang pernah dia lakukan, tapi dia tidak ingin mencintai gadis ini dengan cara yang salah, tidak ingin mengedepankan ego dan hasratnya, karena pada dasarnya sesuatu yang berharga memang tidak mesti di miliki dalam keadaan tergesa-gesa, karena jika itu berlaku artinya perasaan yang ada bukan cinta melainkan sekedar keinginan yang menggebu-gebu sebentar saja, lalu akan melebur bersama angin seiring berjalannya waktu.