Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"

Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"
Sejuta Kekhawatiran Selena


Selena jelas merasa gelisah, berlarian menuju ke arah mobil nya dengan secepat kilat tapi...


Oh God dimana kunci mobil ku?


pekiknya panik.


Sejenak dia menyentuh ujung keningnya, hingga tiba-tiba mobil bahrat dengan tiba-tiba berhenti disampingnya.


"Naik lah, kita akan mengikuti aishe"


Ucap bahrat cepat.


Dengan gerakan terburu-buru Selena langsung melesat naik ke samping kemudi, mencoba memasang seat belt dengan keadaan panik.


"Sayang, tenang lah"


ucap bahrat cepat, sebab sejak tadi Selena selalu gagal memasang seat belt nya.


"Tarik dan buang nafas mu dengan perlahan, ada aku disini yang mengawasi Aishe dari belakang"


Bahrat berusaha bicara selembut mungkin pada gadis itu, berusaha menetralisir perasaan Selena yang jelas berkecamuk menjadi satu.


Selena berusaha menarik pelan nafasnya lantas membuang nya perlahan terus menerus selama beberapa waktu, hingga akhirnya dia berhasil memasang seat belt nya.


"Maafkan aku"


ucap Selena sambil menggigit bibirnya.


"Dia perempuan yang cukup bijaksana, dia bukan type Perempuan yang akan melakukan hal-hal ceroboh dan bodoh untuk keselamatan nya hmm"


ucap bahrat lagi sambil mencoba menggenggam erat tangan Selena.


"Dia butuh waktu mencerna semua nya, aku juga melihat pertengkaran mereka, aishe baru tahu siapa Murat dan kita,yang jadi pertanyaan siapa yang memberitahukan aishe soal itu"


ucap bahrat masih terus meremas lembut telapak tangan Selena.


Selena mengerutkan dahinya,dia Fikir benar juga, siapa yang memberitahukan soal itu pada Aishe?


Seketika dia menoleh ke arah bahrat.


"Kita akan memeriksa rekaman CCTV nya"


ucap bahrat lagi.


"Coba hubungi aishe, ajak dia untuk makan siang bersama, jika-jika dia mau"


laki-laki itu mencoba tersenyum setenang mungkin.


"Selanjutnya kamu pasti tahu bagaimana cara bicara dengan aishe, kita hanya memastikan kemana dia akan pergi, setelah itu kita akan meninggal kan nya"


ucap bahrat lagi lantas melepaskan genggaman tangan nya.


kekhawatiran Selena jika-jika Aishe tidak mengangkat nya, tapi dia cukup lega ternyata aishe tidak se kanak-kanak usianya, aishe mengangkat panggilan nya dengan cepat.


"Halo"


suara Aishe jelas terdengar serak, Selena pastikan aishe benar-benar menangis histeris di seberang sana tadi nya.


"Sayang, kamu dimana?"


Sejuta kekhawatiran jelas terpatri di balik wajah Selena.


"Mau makan siang bersama? sekalian ada yang mau untie berikan, oleh-oleh dari Manhattan"


Dia berusaha bicara senormal mungkin, jangan sampai nada bicaranya terlihat panik, agar seolah-olah dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Bisakah kita bertemu di lain waktu?"


Tolakan halus terdengar di balik telinganya.


"Hmm baiklah"


Selena bicara cepat sambil menarik nafas nya panjang.


"Kamu dimana"


Dia berusaha bertanya saat tiba-tiba melihat mobil yang dikendarai aishe berbelok pada salah satu apartemen di Jakarta itu. Bahrat berhenti sejenak di tepian trotoar, mengintip pergerakan aishe dari dalam mobil mereka.


"Aku ingin pulang sejenak"


Selena hanya takut jika itu adalah apartemen milik Aland.


"Aishe, untie.."


"Kerumah teman ku"


tiba-tiba Aishe keluar dari mobil nya.


"Ah.. baiklah, hubungi untie ketika kamu mau bertemu dengan untie hmm"


Selena menghela nafas nya pelan, menoleh ke arah bahrat beberapa waktu.


"Semua akan baik-baik saja, percaya lah"


ucap bahrat sambil mengelus lembut wajahnya.


"Kita akan menghubungi nya lagi nanti hmm"


Selena mengangguk pelan, berusaha untuk menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil.