
Seketika aishe menggeliat pelan, Beberapa kali memutar tubuhnya sambil berusaha membuka perlahan bola matanya, samar-samar dia melihat seseorang berguling menatap dirinya, aishe tersenyum kemudian kembali memejamkan matanya.
"Belum mau bangun?"
Aishe masih diam, kemudian berusaha membuka kembali bola matanya.
Murat tampak beranjak, mendekati nakas sambil menarik kursi ke arah nakas, menuangkan air putih dari Teko ke dalam sebuah gelas.
"Sudah cukup sore, bangunlah mandi lalu makan"
"Ng.."
Aishe hanya ber Ng ria, kembali memejamkan bola matanya.
"Aishe"
Aishe masih dengan enggan membuka matanya, berusaha beringsut kemudian langsung duduk sambil mencoba membiasa kan matanya, menatap ruangan disekitarnya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Kapan kita sampai daddy?"
Tanya nya sambil berdiri dengan enggan, mencoba mencari arah kamar mandi.
"Sejak pukul 2 tadi"
Hah...?!
Aishe menatap jam didinding, pukul 5 sore lewat 20 menit
"Aku tidur selama itu?"
Kedua telapak tangan nya menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut.
Murat mengangguk pelan.
seketika Aishe memicingkan matanya.
"Apa yang Daddy lakukan selama aku tidur?"
"Memangnya apa lagi?"
jawab Murat sambil menaikkan bahunya.
Aishe menatap Murat penuh curiga.
"Aku bukan type laki-laki seperti itu"
Murat bicara balik menatap Aishe.
"Aku bukan type pemaksa"
seketika Aishe tertawa dipaksa
"Hahaha baiklah"
lalu tiba-tiba dia ingat dengan sesuatu.
"Bagaimana aku bisa sampai dikamar?"
dia bertanya panik.
"Aku tidur sambil berjalan daddy?"
seketika Murat mengerutkan dahinya.
"Aku mengigau?"
Aishe kembali bertanya panik.
oh God bisakah berfikir yang masuk akal?
Murat bicara dalm hati sambil menekan pelipisnya.
"Kamu mengigau"
jawab Murat asal.
"Hah?!"
jelas saja Aishe langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan nya.
pekik nya tertahan.
kemudian langsung mencoba mencari handuk nya lantas melesat menuju ke arah kamar mandi.
*********
"Kenapa mereka tinggal disini?"
Aishe berbisik pada Murat sambil bola matanya terus memperhatikan Ramira dan Eden secara bersamaan, 2 orang itu tengah sibuk dengan kegiatan mereka didepan TV di ujung ruangan.
"Menginap 2 hari"
Jawab Murat cepat sambil sibuk dengan laktop nya.
"Mereka suami istri?"
Aishe kembali bertanya sambil terus mengibas buah pir yang ada di tangan nya.
Murat menggeleng pelan.
hah?
seketika Aishe menatap Murat.
"Kenapa bisa tidur sekamar?"
"Mungkin mereka pacaran"
"Itu tidak baik, mereka bukan suami istri"
Protes Aishe
Murat menoleh sejenak ke arah Aishe.
"Kenapa?"
tanya nya pelan.
"Mereka tidak memegang nilai agama kalau begitu, sebab orang yang memegang nilai-nilai agama ketika tidur di dalam kamar dengan bukan pasangan nya maka akan timbul guilty feeling dan merasa sangat berdosa,"
protes Aishe cepat
"Bukankah teman 2 orang yang belum terikat pernikahan itu syetan? bisikan syetan itu dahsyat, bisa terjadi hubungan seksual sebelum menikah"
Ucap Aishe sambil menggelengkan kepalanya sedangkan tangan nya masih sibuk mengupas buah pir lantas memotong nya.
sejenak Murat menghentikan gerakan tangannya, membalikkan tubuhnya ke arah samping kanan, menatap wajah Aishe yang terus mengupas buah pir sambil sesekali melirik ke arah ramira dan Eden yang perasaan bingung.
"Jika hubungan setelah menikah?"
tanya Murat sambil terus memperhatikan wajah Aishe.
"Tentu saja tidak ada syetan di antara ke dua nya dan tanpa harus takut terselip dosa"
Aishe yang awalnya belum menyadari ekspresi Murat yang Terus menatapi wajah nya tampak masih sibuk memotong buah pir, kali ini dia meraih buah apel, kemudian langsung mengupas nya juga.
Seketika Murat meletakkan laktopnya di atas meja, dia menggeser duduknya, merapat kan tubuhnya ke arah Aishe.
"Daddy suka buah apa?"
tanya Aishe cepat, seketika dia baru sadar jika Murat tengah memperhatikan dirinya.
"Kenapa?"
Aishe bertanya sambil tersenyum menatap Murat, tiba-tiba tangan laki-laki itu menyentuh wajahnya, kemudian tahu-tahu Murat menautkan bibir mereka.
aihhh??
Aishe jelas kaget, langsung menghentikan semua kegiatan tangannya seketika.
Tung.. tunggu dulu...!!!???
Aishe jelas kaget, bola matanya membulat dengan sempurna, seketika seperti terkena serangan listrik aishe terdiam, meremas ujung lengan kanan Murat sambil memejamkan pelan bola matanya.
Tautan itu terasa begitu lembut dan hangat, membuat jantung Aishe tiba-tiba terpompa dengan sempurna.