
Aishe sejenak mengerutkan dahinya saat Murat menuntun nya ke satu tempat, dengan mata ditutup sambil menggenggam tangan nya erat.
"Kita mau kemana?"
Aishe bertanya dengan detak jantung tidak karuanan.
tiba-tiba Murat menghentikan langkahnya, memeluknya dari belakang sambil membisikkan sesuatu ke balik telinga nya.
"Ini terdengar aneh, tapi dalam seumur hidup baru kali ini aku melakukan nya,jadi jika tidak sesuai ekspektasi jangan ditertawakan"
Aishe Seketika melebarkan senyumannya.
"Baiklah, aku merasa begitu istimewa karena menjadi orang pertama yang mendapatkan nya"
Ucap aishe senang.
secara perlahan Murat membuka penutup mata aishe, dalam hitungan detik jelas saja Aishe ternganga tidak percaya dengan apa yang dia lihat dihadapannya.
"Oh God"
seketika bola mata aishe berkaca-kaca, bagaiman harus mengatakan nya? jelas Aishe merasa tersentuh dan terharu.
"Ini kencan ke dua setelah makan malam dirumah waktu itu"
bisik Murat lagi, kemudian dengan cepat dia membalikkan tubuh aishe, dan dengan sekali gerakan Murat menautkan bibir mereka berdua dengan gerakan lembut mendominasi dan begitu lama.
Lalu pada akhirnya mereka melewati makan malam yang begitu sempurna,saling bercerita soal beberapa hal juga berbagi beberapa pendapat.
"Ada yang ingin aku tanyakan"
ucap Murat tiba-tiba.
"Hmm?"
Aishe mencoba menangkap tatapan mata Murat.
"Jika seandainya pasangan mu berbohong untuk sesuatu hal,apa yang akan kamu lakukan, Aishe?"
Murat bertanya sambil menggenggam erat tangan Aishe.
Aishe tampak diam sejenak, dia belum mengeluarkan suara nya untuk beberapa waktu.
pertanyaan Aishe yang seperti itu seketika membuat Murat tertawa geli.
"Oh sayang, tuduhan itu tidak mendasar"
Aishe mengembangkan senyum nya.
"Baiklah, kali ini aku serius"
ucap Aishe cepat.
"Setiap orang memiliki berbagai respons terhadap pasangan yang berbohong. Ada yang bersabar, pura-pura tidak tahu, atau langsung meledakkan emosi dan Cara-cara itu sebenar nya tidak menyelesaikan masalah"
Murat tampak menyimak perkataan Aishe.
"Usia ku baru 22 tahun, kemungkinan jika di terpa kebohongan pelik, barang tidak mungkin aku menggila Seperti anak-anak berusia dibawah 17 tahun, tapi aku juga mungkin tidak akan langsung menjadi pemutus bijaksana layak nya perempuan dewasa yang usia nya sudah kepala 3-4 atau bahkan 5 yang sudah punya banyak pengalaman dan penemuan hidup"
"Bisa jadi aku marah dan kecewa di waktu itu, Pergi berlalu membawa kekecewaan, mungkin aku butuh waktu untuk sendiri selama beberapa waktu, butuh waktu untuk berfikir secara logis, butuh waktu untuk memahami keadaan'
"Mungkin dibandingkan bersikap frontal atau gegabah aku butuh waktu lama untuk mengumpulkan bukti dari kebohongan terlebih dahulu. Memastikan kebohongan bukan berdasarkan asumsi atau perasaan saja. Bila kebohongan sudah terbukti, mungkin aku perlu berpikir kembali untuk menghadapi masalah itu"
"Kalau pasangan mengaku, apa yang akan aku lakukan? Pikirkan juga apakah pilihan tersebut adalah yang paling tepat dan bijaksana untuk aku dan kamu"
"Ketika sudah siap,aku akan konfrontasikan kebohongan dengan bukti yang ada. Tapi aku mungkin terlebih dahulu memastikan jika itu dilakukan saat dalam kondisi yang cukup tenang, bukan saat kemarahan sedang memuncak. Melakukan itu di tempat yang nyaman dan tidak ada orang lain. Mempererhatikan juga bahwa aku dan pasangan tidak dalam kondisi lelah dan emosional. Itu dilakukan untuk meminimalisir konflik yang tidak terselesaikan"
Murat tampak diam, tidak bicara apa-apa.
"Setiap orang juga pasangan punya alasan untuk berbohong, terkadang seseorang berbohong karena ingin
"Pada dasarnya, ada banyak alasan yang mendorong seseorang berbohong pada orang yang ia sayangi. alasan nya bisa jadi bervariasi, mulai dari Tidak ingin menyakiti atau melukai perasaan orang lain, ingin menjaga persepsi orang lain pada dirinya, menjaga atau meningkatkan statusnya di hadapan orang lain, atau ingin mengendalikan seseorang"
"Tapi bukan berarti dari satu kebohongan akan muncul kebohongan yang lainnya, cukup menutupi satu kebohongan, tanpa menciptakan kebohongan yang baru"
"Selama kebohongan itu 1 dan dengan alasan tidak merusak pernikahan, aku masih bisa memanfaatkan"
Murat hanya menarik nafas nya panjang, menggenggam erat tengan aishe dengan sejuta pemikiran di hatinya.
Dia fikir apakah sebaiknya dia membicarakan soal motif awal dia menikah aishe, atau tetap diam hingga akhir namun tidak di jamin mulut orang lain tidak menyuarakan alasan nya menikahi Aishee kemarin dikemudian hari.