
Farhan tampak menatap amplop coklat yang ada dihadapannya itu, seketika dia mengeratkan rahangnya, menatap ke arah dokter Edo sang sahabat dengan perasaan penuh emosional.
"Ini gila"
ucap Farhan sambil meremas kertas yang ada dihadapannya.
Edo jelas hanya bisa menggelengkan kepala nya sambil memijat pelan kepala nya yang tidak sakit.
"Ini sangat luar biasa, bagaimana cara Kevin memanipulasi semua keadaan"
ucap Farhan dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
"Hampir 18 tahun dia menipu semua orang, bahkan aku juga percaya dengan tipuan nya"
Seketika seseorang menyeruak masuk ke dalam, Edo dan Farhan menoleh serentak.
"Bagaimana, tes DNA sudah keluar?"
Selena langsung bertanya ketika sudah menutup pintunya.
"Kau tidak akan pernah percaya ini"
Farhan menyerahkan map coklat yang baru dia lihat isi nya tadi.
Dengan gerakan cepat Selena membuka nya, bola matanya seketika membulat, dia mundur beberapa langkah sambil berusaha mencari pegangan.
"Ya Tuhan"
Seketika map coklat itu terjatuh ke lantai, Selena menyentuh keningnya sendiri dengan perasaan kacau balau.
"Dia benar-benar menipu kita"
Ucap Selena dengan suara bergetar
"Ailee benar-benar bukan putri Abigail"
Dia berusaha meraih handphone nya dengan tangan bergetar, tapi Farhan secepat kilat menahan gerakan nya.
"Jangan bicarakan dulu dengan Abigail"
"Tapi dia harus tahu, Farhan"
Farhan menggeleng perlahan
"Kau tahu dia ceroboh? Selalu saja bergerak lamban, sejak dulu jika memutuskan sesuatu selalu dengan tergesa-gesa, kita harus memancing laki-laki itu keluar lebih dulu"
Selena tampak diam
"Sejak awal aku bisa menebak nya, jika Kevin dan laki-laki itu orang yang sama, tapi semua orang berfikir Kevin adalah Abigail, malam itu dia pasti memutar keadaan, menipu semua orang, meniduri valentine hingga berujung pada perpecahan"
"Satu-satunya yang harus kamu awasi saat ini adalah aishe, jika sifat laki-laki itu tidak berubah, aku yakin dia juga menginginkan aishe dan kembali memutar keadaan seperti dulu, menyebabkan kesalahpahaman dan akan semakin menghancurkan Al Jaber dan faith Yildiz secara bersamaan"
Selena tampak terdiam
"Artinya yang benar-benar harus kau waspadai adalah laki-laki di dalam keluarga Faith Yildiz, kau harus mengawasi mata mu terus menerus untuk melindungi aishe, Selena"
Selena mencoba untuk duduk, masih tetap memegang kening nya beberapa kali, sejujurnya dia masih cukup bingung memikir kan semua keadaan, dia jelas tidak percaya jika ucapan valentine saat itu benar adanya.
"Kau tahu? aku yakin yang tidur dengan ku malam itu bukan Abigail, seseorang meletakkan obat tidur diminuman ku"
valentine bicara sambil menangis menatap Selena.
"Tapi semua seisi villa menemukan mu tidur dengan nya, valentine"
Valentine menggelengkan kepalanya cepat.
"Ini jebakan Selena, aku yakin ini jebakan"
"Lalu siapa yang tega melakukan itu? Murat? bahrat? atau Eden?"
Pandangan mata valentine Seketika menjadi nanar, dia tampak ragu untuk bicara.
"Aku tahu aroma tubuh itu, Selena, dia...."
valentine menggantung kalimat nya.
"Siapa? kau harus bicara sekarang juga"
"Apa semua keadaan akan berubah jika aku bicara?"
valentine menatap dalam wajah Selena.
"Aku tidak bisa mengulang kembali waktu, Aland pasti kecewa pada ku"
"Tapi minimal kau tahu siapa orang yang harus bertanggung jawab tentang semuanya"
"Dia..."
tapi belum pula Valentine menjawab, seseorang tiba-tiba menyeruak masuk ke kamar Selena.
"Apa ada hal yang tidak aku ketahui?"
Valentine tampak bergetar menatap wajah laki-laki itu, dia mundur beberapa langkah.
Jika tebakan nya tidak meleset, itu artinya laki-laki itu yang menjebak valentine malam itu.
Breng..sek..