Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"

Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"
Pagi Membahana


"Daddy...."


aishe berteriak histeris dari arah kamar mandi.


"Ada apa?"


Murat yang baru saja berniat mengganti pakaian nya langsung mengurungkan niatnya, secepat kilat langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi saat mendengar Aishe berteriak panik.


"Akhhhh coba lihat, lihatttt dia naikkkk naikkkk"


aishe berteriak histeris, posisi tubuhnya berada di atas toilet,hanya menggunakan handuk mandinya dan keadaan nya Benar-benar kacau.


tampak seekor kecoa mondar-mandir di lantai kamar mandi.


"Oh ya Tuhan, ini hanya seekor kecoa aishe"


Murat mendekati aishe, berusaha meraih tubuhnya.


"aku tidak peduli, singkirkan dia dari sini"


pekik aishe dengan cepat meraih tubuh Murat.


Saat kecoa nya tiba-tiba naik ke atas dia melompat sebegitu histeris.


"Akhhh singkirkan dia dari ku, singkirkan dia Daddy...."


aishe meraih leher Murat, memeluk erat-erat tubuh Murat sekuat tenaga, dia memejamkan matanya dengan sempurna.


"Oh tuhan, aishe kecoa tidak akan membunuh mu"


"Aku tidak peduli, itu menjijikkan, singgirkan dia, Daddy, jangan sampai dia naik ke tubuh ku"


seketika Murat berusaha menahan tawanya, berfikir untuk mengusili aishe.


"Dia berjalan kemari"


bisiknya.


"Akkhhhhh akhhhh Daddy singkirkan...."


"Dia naik ke atas kaki ku"


"Akkhhhhhh"


aishe semakin histeris, menaikkan kakinya semakin tinggi hingga ke pinggang Murat, memeluk leher Murat sekuat-kuat nya, dia terus memejamkan matanya sambil berteriak jijik dan geli.


Murat terus berusah menahan tawanya, ekspresi Aishe benar-benar terlihat lucu baginya


"Kenapa di kamar mandi ber AC bisa ada kecoa nyaaaa..."


"Dia naik"


bisik Murat lagi


"Akhhhhhh"


"Bawa aku keluar dari sini, aku tidak mau mandi disini"


pekik aishe lagi


"Oh ya Tuhan"


"Murat?"


Tiba-tiba suara seseorang yang begitu Murat kenal datang dari arah depan pintu kamar mandi mereka.


Murat menoleh, aishe langsung membuka bola matanya, menatap ke arah suara itu berasal.


Ramira tampak berdiri terbelalak menatap keadaan Murat dan aishe, Eden jelas diam, bola matanya menatap tajam ke arah aishe. Mereka jelas tidak mempercayai pemandangan yang ada dihadapan mereka.


Murat laki-laki yang jarang tersenyum itu tahu-tahu tersenyum bahagia menatap gadis yang ada dihadapannya dengan kondisi saling memeluk dan hanya menggunakan handuk mandi.


Ramira dan Eden jelas Menatap Murat dengan pandangan tidak percaya.


beberapa pelayan tampak menundukkan kepala mereka, saling melirik dan mengulum senyum.


seketika ekspresi Murat yang senang dan geli berubah membeku, rahangnya jelas mengeras dan bola mata nya membulat sempurna dan memerah.


aishe jelas kaget karena tahu-tahu ada banyak orang dihadapan mereka.


"Kenapa mereka bisa masuk ke kamar kami tanpa izin"


suara nya tiba-tiba berubah menjadi begitu dingin, dia dengan cepat menurunkan aishe, menatap para pelayan dengan kemarahan yang membara, Eden jelas tidak berkedip menatap aishe.


"Jaga pandangan mu dari istri ku Eden"


secepat kilat Murat menutup pintu kamar mandi dengan gerakan kasar, menghantam nya dengan keras tanpa toleransi.


aishe jelas terkejut, masih antara panik dengan kecoa yang tadi ditambah kebingungan baru mendominasi.


sikap Murat yang tiba-tiba begitu dingin dan mengerikan seketika membuat aishe mundur beberapa langkah.


"Aku tidak marah pada mu"


tiba-tiba sifat dingin dan mengerikan nya tadi kembali berubah menjadi begitu lembut dan baik.


"Kecoa nya sudah menghilang, mandilah, kita akan pindah setelah ini"


"Ya?"


seketika aishe menatap Bingung ke arah Murat.


Murat langsung keluar dari sana, menutup pintun kamar mandi secara Berlahan.


"Kenapa kau kemari?"


samar-samar terdengar suara dingin Murat yang berlahan menjauh.


"Sayang..."


Aishe dapat mendengar suara gadis itu begitu menjijikkan, merengek dan begitu manja.


tanda tanya dikepala aishe jelas mendominasi, dia fikir siapa 2 orang yang sudah berani masuk ke kamar mereka itu.


Pindah??


Pindah kamar atau bagaimana maksud Murat?


batinnya dalam hati.