Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"

Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"
Masuk ke dalam jebakan "Mengetahui realita"


Saat Aishe berjalan menuju ke koridor depan, sejenak dia terdiam saat melihat sosok Eden, dia memutar bola mata nya ke atas sambil menghembuskan nafasnya enggan, dia fikir kenapa mesti bertemu laki-laki ini lagi.


Oh God, mata jalang yang jelalatan.


Desah Aishe pelan.


Aishe fikir Ingin berusaha untuk menghindar tapi keadaan cukup tidak memungkinkan, ingin terus maju jalan cukup membuat Kepala jadi pening jika melihat wajah Eden.


Akhhh maju mundur Cantikkkkkk.


pekik aishe dalam hati.


Akhirnya maju juga dah.


"Kebetulan sekali, bertemu kakak ipar disini"


Eden tampak tersenyum senang melihat Aishe yang berjalan mendekati dirinya.


"Oh ada adik ipar"


Aishe tersenyum sambil pura-pura melirik kearah samping.


"Apa kau melihat uncle bahrat? aku punya janji dengan nya!"


Kunci utama Aishe jelas adalah uncle bahrat, untie Selena bilang Eden cukup enggan menghadapi uncle bahrat, karena kejadian 23 tahun yang lalu.


Mereka pernah saling memukul antara satu dengan yang lainnya karena bahrat sempat memergoki Eden beberapa kali memasuki kamar sepupu perempuan nya tanpa izin entah untuk mencari apa dengan dalih mencari uncle bahrat karena ingin membicarakan soal beberapa hal.


Uncle Bahrat tahu betul, Eden bukan type laki-laki yang suka hilir mudik ke kamar orang lain, apa lagi ke kamar seorang gadis. Bahkan uncle bahrat pernah memergoki Eden hampir mencekik sepupu perempuan nya tanpa alasan, karena itu menjadi awal kemarahan besar uncle bahrat pada Eden.


Hingga untie Selena berkata, kemarahan puncak nya saat Eden dicurigai meniduri sang sepupu yang tak lain adik untie Selena.


Meskipun aishe tidak begitu tahu adik untie Selena, tapi Aishe bisa menebak jika adik untie Selena pasti orang yang begitu cantik, tidak beda jauh dengan untie Selena.


"Apa dia sudah pulang?"


Eden menaikkan ujung alis nya.


"Semalam mereka tiba"


jawab aishe cepat lantas berniat untuk pergi dari hadapan Eden, berjalan cepat melewati Eden.


"Apa kau adik nya Aland Faith Yildiz?"


Tiba-tiba Eden bicara sambil menatap punggung aishe yang berusaha pergi menjauhi dirinya.


"Ya?"


seketika aishe menghentikan langkah kakinya, berbalik sejenak menatap Eden.


"Ya, bukan kah kalian saling mengenal? kakak ipar mu bilang begitu mengenal kakak ku"


Aishe bicara cepat.


Aishe menaikkan alisnya, dia tampak berfikir.


"Tidak pernah bukan?"


Tanya Eden sambil menaikkan ujung bibirnya.


seolah-olah dia memang punya kesempatan untuk memberitahukan soal realita pada Aishe saat ini.


"Kami belum punya waktu untuk membicarakan nya"


Eden melangkah maju mendekati Aishe.


"Apa kau tidak merasa curiga pada suami mu, kakak ipar?


Eden bertanya sambil menatap dalam bola mata Aishe.


"Kenapa tiba-tiba membawa anak yang baru dipindah kan dari perusahaan Prancis untuk dia nikahi?"


"Ya?"


aishe jelas Bingung dengan ucapan Eden.


"Disini ada ratusan gadis cantik yang bekerja di Al Jaber, bahkan belum di cabang-cabang besar nya, lalu tiba-tiba menarik mu untuk terjerat pada konsep pernikahan tanpa berpacaran?"


Aishe masih tidak paham dengan ucapan Eden, menatap laki-laki itu sambil mengerutkan dahinya.


"Kau tahu siapa yang membuat perusahaan Faith Yildiz hancur 18 tahun yang silam?"


tiba-tiba perkataan Eden sontak membuat Aishe terkejut.


"Kau tahu siapa yang menyebabkan ayah mu meninggal?"


Seketika Aishe membulatkan bola matanya.


Eden mendekati wajah nya ketelinga kiri Aishe.


"Al Jaber yang membuat Faith Yildiz hancur 18 tahun yang lalu, Murat yang membuat ayah mu terkena serangan jantung hingga meninggal"


Aishe tampak gemetaran,matanya jelas membulat sempurna, bibirnya tidak mau mengucapkan kata apapun saat ini.


"Valentine adalah keluarga Al Jaber, sang mantan kakak ipar mu adalah adik Murat, adik ku Aishe, apa kau belum tahu itu?"


Eden terkekeh, kemudian secara perlahan memundurkan tubuhnya, mengedipkan pelan sebelah matanya.


"Kau pasti tahu kenapa kakak ku mau menikahi mu, aishe"


"Rasa bersalah dimasa lalu yang mendominasi"


setelah berkata begitu Eden langsung melesat pergi meninggalkan Aishe seorang diri.


Seketika kaki aishe memelas, dia tampak bingung, bola mata nya mulai berkabut, tangan nya dengan cepat menyentuh keningnya dengan perasaan bingung, lantas sepersekian detik kemudian dia berusaha berjalan terhuyung-huyung ke arah mana pun untuk dia mencari pegangan guna menopang tubuhnya agar tidak jatuh saat ini.