Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"

Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"
Rasa yang kecewa


Apa?


1 pertanyaan sederhana meluncur dari balik bibir nya.


Dia hanya tahu nama valentine, orang yang menghancurkan keluarga mereka, Aland jelas tidak pernah menceritakan siapa orang-orang yang menghancurkan perusahaan Daddy mereka, sebab saat itu usianya baru 5 tahun.


kakak nya sekali pun tidak pernah bercerita soal perusahaan mana yang menjatuhkan keluarga mereka, sejenak dengan tangan gemetaran aishe berusaha untuk menghubungi seseorang.


"Bik, katakan pada ku apa nama perusahaan yang membuat perusahaan Daddy jatuh 18 tahun yang lalu?


Aishe berharap dia mendengarkan jawaban lain dari mulut wanita yang di hubungi nya itu.


"Al Jaber company"


akhhhhhh


seketika air mata Aishe tumpah tidak terbendung lagi, dia menangis tanpa bisa ditahan, mencoba menutup erat mulutnya dengan kedua telapak tangan nya.


sekelabat ingatan coba dia tekankan dalam memori dikepala nya, bagaimana pertemuan mereka, bagaimana sifat Murat, bagaimana cara laki-laki itu menjerat nya, bagaimana saat Murat membuat dia harus menyetujui pernikahan mereka, raut wajah Murat saat mereka sempat menghubungi Aland, kemesraan Murat, kata-kata laki-laki itu yang begitu manis dan indah, saat Murat hampir menidurinya, malam pertama mereka di pagi itu, di kamar mandi, rayuan Murat, perlakuan lembut nya.


"Sayang?"


Tiba-tiba Murat muncul dari arah belakang aishe, memeluk lembut tubuh aishe dengan penuh cinta, mencium hangat puncak kepala Aishe tanpa rasa curiga.


"Hei ada apa? kau menangis? kenapa wajah mu terlihat pucat?"


Murat berusaha menyentuh lembut wajah Aishe.


"Aishe, jangan membuat ku khawatir"


Aishe jelas menatap nanar wajah Murat, mencoba menepis tangan kokoh itu dengan tangan nya.


"Apa itu benar?"


Aishe bertanya dengan suara gemetaran.


"Sayang, ada apa?"


Murat terus menatap Bingung ke arah Aishe, mencoba meraih tubuh mungil itulah untuk masuk ke dalam dekapannya.


"Apa benar kau yang menghancurkan Faith Yildiz?"


Suara Aishe sedikit meninggi


"apa benar kau yang membuat ayah ku meninggal?"


Seketika Murat tercekat, bola matanya jelas membulat karena terkejut.


"Siapa yang berkata begitu?"


"Aku tanya, apa itu benar?"


bentak Aishe tiba-tiba.


melihat Murat diam, Aishe bisa menyimpulkan jika jawaban Murat adalah iya.


"Jadi Daddy menikahi ku karena rasa bersalah?"


jelas sejuta kekecewaan muncul dari balik wajah Aishe.


secepat kilat Aishe melesat pergi berlarian meninggalkan Murat, menuju ke arah parkiran untuk mendapatkan mobilnya.


"Tidak, sayang pleasry...! dengarkan aku dulu, ini bukan seperti itu, Aishe"


Murat jelas panik, berusaha mengejar langkah Aishe, tiba-tiba seisi gedung Al Jaber menjadi membeku seketika saat melihat sang pemilik dan istri nya bertengkar tanpa sebab, beberapa karyawan mencoba untuk mengintip, ada juga yang mencoba untuk pura-pura tidak tahu.


hawa suram dan dingin terasa tiba-tiba, bahkan mereka hanya bisa berbisik-bisik sejenak takut salah dalam berbicara.


Murat terus berusaha mengejar langkah Aishe, tapi tubuh Aishe sudah terburu melesat masuk ke dalam mobilnya, menutup seluruh pintu kaca dan melesat pergi dari sana.


meninggalkan Murat yang terus berusaha untuk mengejarnya.


"Aishe, sayang...tidak please dengarkan aku dulu"


Murat jelas panik bukan main, mobil aishe semakin menjauh, dia seketika berteriak penuh penyesalan.


Akhhhhhh


Murat mengusap kasar wajahnya, meremas kepalanya dengan keras, melesat Mencoba masuk kedalam mobilnya, tapi tangan seseorang mencoba menahannya.


"Berikan dia waktu, Murat"


Selena bicara jelas dengan ekspresi wajah yang cukup panik, dia jelas melihat adegan itu tadi dari arah belakang sesaat baru keluar dari ruangan nya, mencoba mengejar langkah Aishe dan Murat dengan gerakan cepat.


Selena tahu betul bagaimana watak perempuan, mereka selalu butuh waktu untuk berfikir sebelum mengambil keputusan, semakin dikejar emosi perempuan akan semakin meledak-ledak, bahkan bisa membuat keputusan gegabah tanpa pernah mau berfikir 2-3 kali.


"aku akan bicara dengan nya"