
"Kau bilang apa soal valentine?"
Bern bertanya sekali lagi ke arah Selena
"Bern lepaskan tangan mu dari diri nya"
Winda bicara cepat ke arah Bern dengan tatapan yang begitu tajam sambil menarik balik tangan Bern.
Laki-laki itu Seolah baru sadar dengan kekasaran nya terhadap Selena.
"Kau mengenal valentine?"
Selera bertanya sambil menatap tajam bola mata Bern.
Laki-laki itu tampak diam, tidak bicara apa-apa.
"Bern, kau kenal dengan valentine?"
kali ini Winda yang mencoba menanyakan nya.
"Aku harus pergi sekarang"
Bern Seol sadar dengan keadaan langsung membalikkan tubuhnya.
"No.. Bern aku mohon beri aku informasi soal laki-laki itu"
Selena terkejut melihat ekspresi Bern, dengan gerakan cepat dia mengejar langkah Bern sambil mencoba meraih tangan laki-laki itu.
"Bern"
Winda berusaha menahan langkah kaki Bern
"Persiapkan diri mu untuk masuk ke red mafia"
seolah tidak ingin mendengarkan ucapan Selena, Bern terus melangkah meninggalkan mereka.
Selena fikir dia sudah bergerak sejauh ini, bagaimana mungkin mereka harus berhenti saat ini? jika Bern menolak untuk memberi tahukan soal semua nya, itu artinya apa yang telah di lakukan Selena menjadi sia-sia.
"Aku mohon Bern, kau tahu valentine di bunuh oleh seseorang, anak pengganti anak laki-laki itu naik ke Al Jaber membuat 2 keluarga saling bertikai, saat ini ada 2 gadis yang kehidupan nya sedang dipertaruhkan dan salah satu nya adalah putri kandung valentine"
Selena berteriak histeris sambil meneteskan air matanya, dia fikir kehilangan harga diri jauh lebih baik dari pada kehilangan kesempatan untuk tahu soal kenyataan.
Bern jelas menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Selena dengan pandangan yang cukup sulit di artikan.
"Valentine di jebak, di per..kosa dan dibunuh, aku hanya ingin tahu soal kejadian sebenarnya 28 tahun yang lalu, aku hanya ingin tahu soal kenyataan, apakah Eden bukan putra kandung Al Jaber?"
************
Seorang wanita paruh baya mengendap-endap di kamar Eden dan ramira, bola matanya mencoba menelisik seluruh kasur yang baru saja di tinggalkan 2 sosok manusia itu, dengan perasaan sedikit gemetaran dia mencoba mencari sesuatu di atas kasur itu.
Sesuai perintah seseorang kepada nya di malam sebelum nya.
"Cari sisa rambut Eden, kau tahu warna rambutnya bukan? jangan sampai tertukar dengan milik ramira, itu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan realita soal dirinya. Kita jelas tidak bisa mencuri sikat gigi nya atau barang apapun yang mencolok di apartemen Eden hingga bisa menimbulkan kecurigaan yang mendalam"
"Kita akan mencocokkan DNA nya dengan seluruh susunan keluarga Al Jaber"
Wanita itu bersedia melakukan nya dengan sebuah alasan yang paling logis untuk dirinya, dia hanya ingin laki-laki itu hancur di bawah kaki Al Jaber.
Setelah bertahun-tahun bebas melanglang buana setelah melecehkan putri nya tanpa mendapatkan hukuman apapun dari pengadilan, kali ini dia berharap Tuhan Benar-benar menjadi lebih adil hingga bisa menghancurkan laki-laki itu secepat nya, memberikan hukuman bukan hanya hukuman penjara, tapi hukuman terberat yang bisa meruntuhkan seluruh pertahanan, kesombongan, ke aroganan juga perbuatan bejad diri nya.
Masih terpatri di ingatan nya bagaimana Putri nya yang masih berseragam SMA itu tergolek tak berdaya di hadapan nya, darah segar mengalir hebat dari kepala nya setelah gadis belia itu melompat melakukan aksi bunuh diri beberapa tahun yang lalu.
"Bu Kenapa tidak ada yang percaya pada orang miskin seperti kita?"
Sebaris pertanyaan menyakitkan hati keluar dari bibir sang putri kala itu.
"Tuan benar-benar memperkosa ku, aku tidak pernah menggoda nya"
Yah siapa yang akan percaya dengan ucapan si miskin, sedangkan si kaya bisa melakukan apapun untuk menyelesaikan semuanya dengan Uang, lembaran kertas yang menjadi tolak ukur dalam segala hal di Dunia ini.