
Eden berjalan perlahan memasuki sebuah club paling terkenal di kota Jakarta, melengsap masuk melewati hiruk pikuk Lautan Manusia yang terus berlenggak lenggok menikmati alunan musik yang sangat menekankan telinga, di tiap sudut terlihat pemandangan para pasangan yang saling menyesap BI..bir antara satu dengan yang lain, ada yang bahkan tanpa malu-malu saling menyentuh di tiap-tiap titik vital pasangan nya tanpa mesti saling menutupi, kepulan asap rokok terlihat berada dimana-mana bahkan suara cekikikan dari para perempuan penghibur terdengar begitu jelas di balik telinga nya.
Beberapa orang mengulas senyum ke arah nya, seolah berkata bahwa laki-laki itu acapkali masuk kesana menemui seseorang yang cukup penting di dalam sana.
Eden berhenti pada satu ruangan besar bertuliskan VVIP class room, 2 pengawal bertubuh kekar menundukkan kepala mereka, membuka pintu dan membiarkan Eden untuk melesat masuk kedalam.
Terdapat sebuah kursi sofa identitas berwarna hitam yang di mana tepat di tengah-tengah nya terdapat pria paruh baya yang tengah sibuk menyesap minuman, sambil sesekali dia menghisap cerutu di balik bibirnya.
Beberapa perempuan muda tampak mengelilingi pria tersebut, saat Eden masuk dalam secepat kilat para perempuan itu beranjak pergi menjauh dari ruangan itu.
"Halo putra Burja"
Pria itu berkata sambil tertawa, mengangkat gelas nya ke arah Eden
"Aku dengar kau akan kembali ke Al Jaber?"
Eden bicara cepat tanpa basa-basi.
"Tentu saja, 3 tahun tidak kembali pasti para keponakan merindukan paman nya untuk pulang"
Eden tampak mengeratkan rahangnya, dalam sekali gerakan dia meringsek maju dan menarik kasar kerah baju pria itu hingga berdiri.
"Berhenti bermain-main dengan keadaan, paman Karl, aku sudah tidak mentolerir permainan ini lagi"
"Tidak bisakah kau bersikap lebih lembut?"
pria itu berusaha melepaskan pegangan Eden di kerah lehernya.
Eden bicara tampak begitu marah
"ada apa dengan mu?"
Karl jelas bingung dengan kemarahan eden
"aku sudah berkali-kali memperingati kau dan putra mu, bertindak lebih baik pada perempuan, Selena sedang berada di Manhattan bersama adik mu bahrat untuk menyelidi diri ku, jika aku jatuh maka kau jatuh"
"Dan katakan pada anak laki-laki mu, aku tidak melarang dia melakukan tindakan apapun untuk melenyapkan mereka, tapi jangan coba-coba menggunakan afrodisiak pada selena sama seperti dia menggunakan nya pada Valentine 18 tahun yang lalu, membuat aku terjebak meniduri nya lantas mau tidak mau menjebak Abigail untuk mempertanggung jawabkan semuanya"
"Berhenti berbuat bejat pada perempuan, bahkan putra mu memperkosa anak pelayan ku, jangan sampai kemarahan ku memuncak hingga ke ubun-ubun, Karl"
"Karena jika kalian melakukan hal bodoh 1 kali lagi, disaat aku hancur, maka kau akan ikut hancur bersama putra mu, tidak ada Eden, tidak ada perusahaan, tidak ada warisan kotor di tangan mu"
"Kau bilang apa?"
Karl jelas terkejut mendengar perkataan Eden
"Terus awasi pandangan mu dari Aries, tunggu hingga 3 bulan lagi, disaat semua saham perusahaan Al Jaber dan faith Yildiz hancur oleh permainan ku, maka disaat itu kita akan mengambil alih semua nya, kau bisa sepenuhnya menguasai Al Jaber, setelah itu apapun yang putra mu lakukan, jelas aku tidak peduli sebab itu juga artinya aku akan pergi dari semua orang dan membuka lembaran baru di tempat lain"
Setelah berkata begitu, Eden melepaskan genggaman nya dari leher Karl.
"Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Selena, akan aku pastikan tidak ada sepeserpun saham Al Jaber masuk ke tangan kalian"
"Dan cari orang dalam di rumah sakit............ Jakarta, orang-orang suruhan Selena sedang bergerak untuk mencocokkan DNA aku dan keluarga Al Jaber lainnya"