Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"

Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"
Menghangat secara tiba-tiba


Saat aishe berteriak dengan suara yang kesal


"Buka kancing gaun ku"


seketika Murat menaikkan ujung bibirnya, dia fikir ini saat nya mengusili kucing liar ashera.


"Kemarilah"


ucap Murat sambil bangkit dari posisinya, dia mulai duduk di ujung kasur, aishe langsung bergerak mundur mendekati punggungnya ke arah Murat.


"Jangan cari kesempatan"


dia mencoba memperingati.


"Tidak sayang"


ucap Murat sambil mulai tangan kirinya menyentuh pinggang Ailee hingga ke perut nya.


seketika Ailee meremang, dia menatap tangan Murat yang memegang kokoh tubuhnya.


"Kenapa pegang perut?'


bentak nya kesal.


"Kau ini curigaan saja bawaan nya"


Murat mulai menggerakkan tangan kanannya, coba menarik resleting nya.


"Mereka menggunakan kancing ganda"


ucap Murat pelan


"Ya?"


aishe mengerutkan keningnya, mencoba menoleh ke arah Murat.


"Resleting dan kancing bulat pipih"


"Ribet sekali"


"Sayang aku fikir ini terjepit"


"Ya?"


Murat langsung berdiri, dia terus mencoba membuka nya dengan tangan kanannya.


"Apa yang kamu lakukan tadi? kamu sudah coba membuka nya?"


aishe mengangguk pelan


"Kamu merusak kancing nya"


bisik Murat pelan sambil merapatkan tubuhnya, mencoba mencium dalam-dalam aroma rambut aishe.


"Benarkah? aku memaksanya tadi"


ekspresi Aishe langsung berubah mendung.


"Kita harus hati-hati membuka nya,sayang jika rusak, harga gaunnya cukup mahal"


"Hah?"


aishe membuka mulutnya dengan ekspresi terkejut.


"Berapa?"


"1 milyar"


"Ommoooo..."


aishe menutu mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Bukan kah sayang jika dirusak?"


bisik Murat begitu lembut dan hangat dibalik telinga aishe.


gadis itu mengangguk pelan.


"Kenapa mahal sekali?"


tanya aishe cepat


Murat masih pura-pura membuka gaun nya, menarik perut aishe agar semakin rapat ke tubuhnya, mencoba menyentuh lembut punggung aishe dan menggesek hidungnya dengan lembut.


seketika aishe merasa ada sengatan listrik yang menyambar tubuh nya.


jawab Murat pelan.


kali ini tidak pura-pura, memang realita nya begitu.


"Hah? dimana? dimana?"


aishe tampak panik.


"Disini"


Tangan kanan Murat menyentuh pinggang aishe yang memang seluruh gaunnya di taburi beberapa batu berlian.


"Disini"


tangan nya sedikit naik ke atas, kepalanya berada di bahu kanan aishe, menatap gerakan tangan nya sendiri yang mulai naik ke atas.


"Berlian semua?"


aishe menoleh ke kanan, jarak mereka begitu dekat, wajah mereka hampir bersentuhan hidung, deru nafas mereka bisa saling menyapu dengan lembut.


seketika aishe mematung, baru sadar betapa laki-laki yang dipanggil nya Daddy itu memiliki wajah yang sangat tampan dan rupawan, bola matanya begitu indah, Seketika jantung nya berdebar-debar tidak menentu.


"Disini"


bisik murat sambil menaikkan tangannya ke atas dada aishe, begitu lembut hingga membuang aishe meremang.


"Dan disini"


ucap Murat lagi sambil menaikkan tangannya ke wajah aishe, bola matanya terus menatap dalam bola mata aishe, secara berlahan dia menyentuh lembut wajah imut itu, mengelus nya lembut kemudian berlahan bibirnya masuk ke dalam bibir aishe.


Murat baru tahu, gadis ini begitu suka diperlakukan dengan lembut, dia akan menurut dan terbuai, sebab acapkali dia memperlakukan nya dengan cara berdebat karena itu gadis ini selalu menjadi liar tidak terkalahkan.


Murat memutar tubuh aishe dengan gerakan sangat lembut, mereka saling menempel, hingga membuat Murat lebih leluasa menautkan bibir mereka, aishe memejamkan pelan bola mata nya, dia terbuai, lupa dengan keadaan, sentuhan Murat terlalu lembut, bahkan saat tangan kanan Murat meraba lembut telinga dan belakang lehernya membuat dia semakin terlena, terbuai begitu indah.


Li..dah Murat mulai masuk menyeruak ke dalam mulutnya dengan, mengajak aishe saling berbelit lidah, tangan kanan dan kirinya secara berlahan menurunkan resleting aishe


secara berlahan, begitu lembut hingga tanpa sadar gaun itu terlepas dari tubuh indahnya.


saat semua nya mulai membuai tiba-tiba...


buggg..


buggg..


"Murat"


oh damn it


seketika mereka saling menyadarkan diri, aishe langsung membuka bola matanya, rasa malu menyeruak dari dalam dirinya, Wajah nya merah karena malu, dia baru sadar gaunnya sudah berada di bawah.


secepat kilat Murat menutupi tubuh aishe dengan selimut, mencium kening aishe secara berlahan.


"Mandi dan beristirahat lah, aku harus pergi"


ucap Murat pelan sambil mengelus pipi kanan nya.


seketika aishe membeku, menatap punggung laki-laki itu yang mulai menjauh.


Akhhh aku pasti sudah gila...!!!


pekik aishe langsung kabur masuk ke dalam kamar mandi.


Murat membuka kesal pintu kamar mereka, menatap seorang laki-laki yang sudah berdiri tepat dihadapan nya, laki-laki tampan yang hampir seusia dirinya.


"Aku akan ke Maldives"


laki-laki itu bicara cepat


Murat menaikkan alisnya


"Kenapa?"


"Putri ku ada disana, laki-laki itu mengambil paket bulan madu disana"


"Oh damn it"


maki Murat dengan perasaan kesal, rahangnya mengeras bola mata nya jelas memerah, Murat kemudian langsung menutup pintu kamarnya, berjalan tergesa-gesa dengan laki-laki itu menuruti anak tangga.


beberapa bodyguard nya menundukkan kepala mereka.


"Kembali ke resort sekarang juga"


ucap Murat dengan perasaan marah.