
Ramira terus saja mengikuti Murat sejak tadi pura-pura mengangkat barang ada di sekitar Murat, jelas-jelas Murat terus menghindari nya, terlihat jengah dan risih, gadis itu sebenarnya lebih cocok disebut pengacau ketimbang disebut membantu.
Eden hanya duduk di kursi sofa, menikmati minumannya sambil sibuk menyesap rokoknya, sesekali melirik ke arah aishe tanpa kejelasan, seperti serigala yang haus akan mangsa nya.
Seketika aishe menaikkan alisnya sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.
ckckckck yang satu tidak punya malu, karakter yang satu nya lagi bahkan lebih gila.
Batin aishe
Ke dua-dua nya tidak punya harga diri sama sekali.
Batin nya lagi.
Secepat kilat Aishe memanggil Murat.
"sayang kuuuu bantu akuuuu"
Suara mendayu aishe memecah keadaan, Murat menoleh cepat, ramira jelas ikut menoleh dengan rasa gondok yang mendalam.
Aishe menunjukkan koper milik nya, secepat kilat Murat meraih koper itu, lantas memasukkan nya kedalam mobil.
"Kemarilah"
Murat bicara cepat ke arah Aishe.
"Kenapa?"
Aishe buru-buru mendekat, mendongak ke arah Murat, tahu-tahu laki-laki itu meletakkan earphone ditelinga nya, seketika Murat memberikan handphone nya kepada Aishe.
"Pakai ini dulu jika ingin menghubungi seseorang, saat tiba di mansion baru asisten kita akan membawakan handphone mu yang baru"
"Ah?"
Aishe mengerutkan dahinya sembari mengulum senyum.
asisten kita ? manis sekali
Hihihi dia tekekeh dalam hati.
Murat mendekati wajahnya ke telinga Aishe.
"Dia akan ikut mengantar, di sepanjang perjalanan dia akan menjadi gadis paling berisik di antara semua orang, jadi tutup telinga mu dengan earphone nya"
Aishe lagi-lagi mengembangkan senyum nya, dia mencoba untuk menjinjit, Murat sedikit membungkuk kan tubuhnya.
"Dia akan diam selama bersama ku"
Murat menaikkan sebelah alisnya, menatap bola mata Aishe sejenak.
seketika Aishe terkekeh melihat ekspresi Murat.
"Jangan khawatir"
Aishe mengedipkan sebelah matanya.
********
"Adik ipar bisa kau saja yang bawa mobil nya?"
Aishe bicara cepat ke arah Eden ketika tahu-tahu Murat yang akan mengemudikan mobil nya, sebelum dia masuk ramira jelas sudah duduk lebih dulu di samping kemudi.
Aihhh mau jadi rubah betina rupanya.
umpat Aishe.
Murat jelas langsung menghentikan langkahnya untuk masuk ke kemudi
"Kakak ipar cukup lelah karena bergadang 2 malam"
Aishe melebarkan senyumannya, menoleh ke arah ramira sambil mengedipkan sebelah matanya.
Kau..kau... 2 malam? begadang?
pekik ramira dalam hati.
Ingin sekali ku Jambak rambut mu jalang...!!!
pekik ramira kesal.
Murat langsung mundur kebelakang, membiarkan Eden memutar ke depan.
dapat dilihat wajah kesal ramira, Eden jelas keberatan tapi Aishe selalu dapat membuat laki-laki manapun tidak bisa menolak pesona nya.
Aishe terkekeh dibelakang, ketika mereka sudah masuk ke dalam dan duduk dibelakang.
Murat hanya menaikkan bibirnya, tersenyum melihat ulah aishe.
"2 malam sayang?"
goda Murat setengah berbisik sambil menaik kan alisnya.
"Memang 2 malam kita menikah"
ucap Aishe ikut berbisik.
"Jangan berfikir macam-macam"
lanjut Aishe cepat.
"Aku tidak"
ucap Murat sambil menaikkan ke dua tangannya.
"Tapi kalau mau juga boleh"
ralat nya.
Aishe melotot.
"Daddy aku sedang menyelamatkan mu"
Aishe jadi kesal melihat sikap Murat.
"Baiklah, aku bisa merasakan nya"
Murat terkekeh.
"Ishhh"
Dan sesuai kata Murat, ramira jelas merupakan gadis yang begitu banyak bicara, tiap kali aishe akan bicara, ramira selalu berusaha memotong nya.
pada akhirnya Aishe menaikkan alisnya.
"sayang ku, kau suka perempuan yang bagaimana?"
Murat menoleh sejenak menatap aishe Sejenak.
"Tidak cerewet"
Murat bicara soal aishe sebenarnya, tapi ramira jelas langsung tersinggung.
"Lalu?"
aishe memunyungkan bibirnya.
"Tidak galak"
ishhhh mengatai ku
oceh Aishe dalam hati.
Ramira menatap kesal ke arah 2 manusia dibelakang mereka.
"Tidak suka menyiksa"
aishe melotot, membalik tubuhnya kesal.
"Aku tidak suka menyiksa"
oceh nya dengan suara tertahan agar tidak didengar oleh 2 orang itu, Aishe mencubit kesal pinggang Murat.
"Aww Kan baru aku bilang"
oceh Murat sambil menahan sakit karena di cubit.
"Kau yang bertanya, jadi aku jawab seadanya, cerewet, galak, suka menyiksa"
bisik murat
"Daddy"
pekik nya kesal
seketika Ramira menoleh dan Eden menatap mereka melalui kaca depan.
"Dibanding dia, aku lebih teratur cerewet nya"
protes Aishe
"Bagaimana ada yang nama nya cerewet teratur?"
"Adalah"
Murat terkekeh melihat ekspresi Aishe, rasanya ingin sekali dia menarik bibir yang memunyung itu dengan tangan nya.
"Ishhh"
aishe berbalik, langsung memejamkan matanya
"aku mengantuk"
ucap Aishe cepat
"Tidurlah"
"Hmmm"
pada akhirnya ramira tampak diam, suaranya jelas menghilang sejak tadi, Aishe mulai terlelap dengan tidur nya, secara berlahan tanpa sadar kepalanya bersandar ke bahu Murat.
Laki-laki itu diam sejenak, menatap lama wajah cantik itu, sepersekiandetik kemudian secara berlahan Murat menaikkan tangannya, memasukkan Aishe kedalam dekapannya, ikut terlelap bersama Aishe.
Eden beberapa kali melirik melalui kaca, dapat dibayangkan bagaimana ekspresi Ramira saat melihat adegan dibelakang nya, telapak tangannya jelas mengepal dengan sempurna.
Eden menggenggam erat telapak tangan ramira, menatap sejenak wajah ramira.
"Aku bisa mengabulkan keinginan mu"
bisik Eden pelan.
"Aku cukup tertarik dengan barang milik nya"
Ramira jelas langsung menaikkan sebelah alisnya.
"Maksud mu"
seketika jari kiri Eden naik ke atas bibir nya.
"Mari menukar posisi, memiliki apa yang dimiliki orang lain"
Tatapan mata licik nya terpancar jelas di wajahnya, sekali lagi dia melirik ke arah Aishe melalui kaca depan.
"Aku akan mengulangi kisah 18 tahun yang lalu"
bisik nya pelan, jelas seringai jahat muncul diwajah nya saat ini.