
Saat masuk kedalam kamar, Murat mengerutkan dahinya, sama sekali tidak menemukan aishe. Kekesalan nya sebenarnya cukup memuncak tapi sejak tadi dia terus mencoba menekan amarahnya.
Seketika dia menoleh ke arah atas kasur, handphone aishe sejak tadi terus berkedip-kedip tidak berhenti, Murat mencoba untuk mengintip siapa yang menghubungi aishe dijam malam begini
Bola mata Murat membulat sempurna, menatap nama yang tertera di layar ponsel aishe.
Brother Aland ❤️
secepat kilat Murat meraih handphone itu, mengangkat nya tanpa aba-aba.
"Halo sayang"
Terdengar sahutan dari seberang sana, Murat jelas mengeratkan giginya.
Bajingan ini.
umpat nya dalam hati.
"Halo Aland"
Secepat kilat Murat menjawab sapaan Aland.
Dia yakin ekspresi marah pasti tercetak jelas diwajah laki-laki itu saat ini. Dia fikir tidak mungkin murat lupa dengan suara khas nya.
"Lama tidak berjumpa, Aland"
Ucapnya lagi kemudian
Hening seolah-olah laki-laki seberang sana tengah berfikir.
"Murat?"
Murat fikir seperti nya Aland sudah menyadari dirinya.
"Aku fikir kau sudah melupakan suara ku"
"bajingan"
Terdengar suara hantaman keras dari seberang sana, Murat jelas menaikkan ujung bibir nya, dia begitu senang mendengar kemarahan Aland.
"Dimana adik ku hah?"
Murat terkekeh, benar-benar masuk perangkap fikirnya.
"Kau tidak membaca berita?"
"Apa?"
maka dapat Murat tebak saat ini Aland pasti tengah membuka berita perusahaan, menjadi beberapa forum terpercaya, melihat apa yang menjadi tranding topik hari ini.
"Berani sekali kau menikahi adik ku tanpa seizin ku"
teriak Aland penuh kemarahan jelas terdengar menyenangkan dibalik telinga murat.
"Harusnya kau bahagia bukan, kau lupa aland? kau seharusnya memanggil ku PAMAN MURAT"
"Brengsekkkk"
teriakan kencang kembali terdengar, Murat jelas Terkekeh kembali, dia begitu bahagia mendengar kemarahan Aland.
"Sekali saja kau menghancurkan Ailee, kau tahu apa yang akan terjadi pada adik kecil mu hmm?"
ucap murat cepat, pandangan mata Murat seketika melihat Aishe yang bergerak menggeser pintu kamar mandi kaca di hadapannya, murat menurunkan ponsel aishe secara berlahan, meletakkan nya ke punggung belakang nya .
"Daddy?"
aishe tampak kaget saat melihat Murat, dia fikir bukankah Murat bilang akan pergi?
Aishe langsung berbelok ke Walk in closed, mencari pakaian nya disana.
Murat kembali menaikkan handphone nya, kembali berbicara pelan ke arah Aland.
"Istri ku sedang memanggil Aland, aku tahu kau di Maldives bersama Ailee ku, berhati-hati lah dengan tindakan mu"
"Bukankah kamu akan pergi?"
aishe bicara masih terus mencari pakaian nya.
Murat berjalan berlahan mendekati Aishe, dengan gerakan cepat tangan kanannya Menyentuh bahu aishe, karena kaget aishe langsung menoleh dan tanpa aba-aba Murat langsung mencium bibir nya sepintas.
aishe jelas kaget.
ommo....!!!
"Daddy kau mencium ku lagi dengan tiba-tiba"
Aishe bicara tertahan, dia menggeram kesal.
Murat malah menggodanya
"Mau melanjutkan permainan yang tadi baby?"
seketika Murat mematikan panggilan nya, menyembunyikan handphone aishe dengan gerakan cepat ke dalam walk in closed.
"Otak mesum"
oceh Aishe, mendorong kesal Murat hingga kebelakang.
aishe bicara sambil memutar bola matanya, berbalik menghadap Murat sedikit menjinjit kemudian menghantam dagu Murat dengan kening nya.
Buggg
"Akkhhh aishe"
Murat Menyentuh dagunya yang ditabrak aishe
"Kau ini benar-benar galak sekali, aku hanya main-main"
"Ciuman mu itu bukan lagi main-main Daddy, kau menyebalkan, melakukan sesuatu tanpa seizinku"
omel aishe sambil mengangkat kedua tangannya, ingin sekali mencakar Murat sekarang juga.
"Aku penasaran bagaimana type gadis seperti mu jika berada di atas kasur"
omel Murat kesal masih sambil memegang dagu nya.
aishe menyipitkan matanya, kemudian maju mendekati Murat.
"Sangat kasar"
ucap aishe sambil memegang dada Murat lantas memelintir nya tanpa perasaan.
"akhhh aishe"
seketika Murat mundur beberapa langkah, meringis kesal.
dia serasa menjadi banci ketika dada nya di pelintir seenak hati.
"Suka mencakar"
ucap aishe kembali memajukan tubuhnya sambil menaikkan 10 jarinya, tampak kuku-kuku indahnya terlihat seperti kuku kucing hutan bagi Murat.
Murat mundur lagi.
Aishe menjilat bibir dari kanan kekiri.
"oh God bukan nya cantik, itu tampak menjijikkan aishe"
rutuk Murat sambil terus mundur dan
buggg
dia terjatuh ke atas kasur
"suka menyiksa"
aishe naik ke atas tubuh Murat.
meraba tubuh Murat sambil menaikkan alis nya berkali-kali
"Aishe hentikan itu menjijikkan"
"Dan sangat suka menggigit"
ucap aishe kemudian dalam hitungan detik dia menggigit kesal bahu Murat.
"Aisheee"
pekik Murat histeris
"mau coba?"
Goda aishe sambil menaik turun kan alis nya.
"No.. hentikan, turun dari tubuh ku sekarang jugaa...."
aishe tertawa terbahak-bahak, secepat kilat turun dari tubuh Murat.
oh tuhan, oh tuhan...!!!
"kau ini benar-benar mengerikan"
Maki Murat kesal.
"Aku benar-benar salah memilih istri"
Aishe terus terkekeh, mengedipkan mata nya ke arah Murat berniat mendekati Murat kembali.
"Aku ini istri yang sangatttt menyenangkan sayang"
"Stop, berhenti disana dan jangan coba-coba mendekat"
Murat mencoba menahan tangannya, meminta aishe segera menjauhinya
gila..!!
dia mencoba menahan nyeri didada juga di bahunya secara bersamaan.
"Ini benar-benar kekerasan dalam rumah tangga"
Bentak Murat kesal.