
"Belle, siapa dia?"
Kak Asha nya mematung menatap adegan 2 sosok manusia di hadapannya itu yang laki-laki tampak bersandar ke dinding sedangkan Belle memeluk erat pinggang laki-laki itu.
Belle jelas membeku saat tertangkap basah oleh kak Asha nya, tapi bisa di bayangkan bagaimana ekspresi Bern? laki-laki itu tampak biasa-biasa saja, seolah-olah ini bukan hal yang harus terlalu dipusingkan.
Ya Tuhan ini oom kayak nggak punya dosa, sudah tua, bikin kesal nyusahin lagi.
Rutuk Belle dalam hati.
Tapi tampan sih hahaha
"Belle?"
Kak Asha nya bicara dengan nada sedikit tinggi, jelas panik saat melihat Belle memeluk laki-laki asing dan sama sekali belum melepaskan pelukannya.
"Kau memeluk seorang laki-laki? dia pacar mu? setua ini? seumur Kevin?"
Jelas saja serangan demi serangan pertanyaan yang dilontarkan kak Asha nya membuat Belle kelabakan.
Buru-buru Belle melepaskan pelukannya dari Bern,dia juga baru sadar kalau dia memeluk laki-laki itu.
Tadi kan niat hati cuma untuk menahan gerakan dia saja jangan sampai masuk ke kamar.
Batin Belle.
"Bukan begitu kak"
Belle langsung membalikkan tubuhnya, menghadapi kak Asha nya dengan wajah memelas.
"Sejak kapan kamu dekat dengan seorang laki-laki? kamu masih sekolah belle, apa Kevin tahu? apa perkerjaan laki-laki itu? dia seperti bukan laki-laki baik-baik"
"What?"
Jelas saja bern merasa terpojok.
Shit dia bilang aku bukan laki-laki baik-baik.
Umpat Bern kesal.
"Begini, ini hanya kesalahpahaman saja Nona"
Bern berusaha untuk menjelaskan.
"Kesalahpahaman? jangan-jangan laki-laki ini bahkan menginap disini? ada aroma parfum lain di dalam kamar mu Belle, itu yang ingin kakak tanyakan tadi, kakak fikir kamu mengganti aroma parfum mu"
Yah kak Asha nya tadi sempat ingin bertanya kenapa aroma parfum Belle berganti, tapi karena rasa kantuknya yang mendominasi dia akhirnya mengurungkan pertanyaan nya, tapi saat mendengar suara berisik dari arah luar, mata nya memaksa untuk terbuka dan kakinya jelas memaksa untuk melangkah keluar.
Dan yang dia lihat, ada laki-laki asing berada di dalam apartemen Belle.
"Kak Asha, bukan seperti itu"
Seolah-olah tidak peduli pembelaan Belle, kak Asha nya terus mencecar nya dengan jutaan pertanyaan seperti detektif.
"Iya kak"
Belle mengangguk cepat.
eh... loh kok?
Belle ingin sekali menampar mulut nya sendiri.
"Bukan maksud ku iya, tapi bukan begitu"
Dia jadi bingung harus menjelaskan nya seperti apa.
"Dan kau, apa sudah tidur dengan Belle? kau benar-benar mengerikan, mengencani anak yang baru akan tamat SMA"
"Wait wait wait bukan seperti itu kenyataan nya"
Bern jelas saja menolak di tuduh sebe..jat itu.
"Belle yang mengejar-ngejar kamu?"
"Apa?"
lah Belle yang semakin di pojokkan.
"Kakak, Belle mana mau sama dia"
yah mana mau, orang seumuran kak Eden.
sungut Belle kesal.
"Jadi maksudnya one nigh stand begitu?"
"Apa lagi ini?"
Bern jelas pusing mendengar ocehan gadis dihadapan nya itu.
Bern Fikir mulut gadis itu lebih persis seperti sebuah petasan, tidak mau mendengar kan omongan orang lain, langsung saja menghantam orang lain dengan jutaan pertanyaan.
Karena dia bukan type orang yang suka berdebat, lebih suka bertindak maka akhirnya Bern memilih untuk duduk dan diam.
"Om...."
Belle berteriak histeris melihat ekspresi Bern.
"Panggil om? jadi sugar baby dia?"
Bern hanya bisa memijat pelan kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Kakak..."
Belle langsung merengek ingin menangis karena kesal.