
Ailee tampak mengerutkan dahinya saat sebuah nomor baru masuk ke handphone nya, dia Mencoba untuk mengangkat panggilan tersebut dengan cepat.
"Halo?"
tanya nya cepat.
sejenak ailee mengerutkan dahinya, kemudian seulas senyum muncul di wajah nya.
"Ah baik om"
Ailee diam lagi.
"He em, aku dan daddy akan makan malam di luar, nanti kita bisa ketemu disana"
"Terima kasih"
Ailee langsung menutup panggilannya, kemudian langsung melesat menuju ke arah dapur.
"Siapa?"
Aland bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Paman yang baik hati, dia bilang dia punya koleksian Alfred Hitchcock dan akan memberi kan nya pada ku nanti malam"
"Paman baik hati?"
Alan mengerutkan dahinya.
"He em"
Ailee mengangguk cepat, kemudian membuka lemari pendingin lantas mengambil minuman botol didalam sana.
"Jangan mudah percaya dengan orang asing"
ucap Aland cepat lantas beranjak meninggalkan Ailee
"Siap Daddy"
teriak Ailee sambil mengulum senyum.
********
Brakkkk
sebuah map hitam dihantam dengan keras ke atas meja, Selena menatap laki-laki yang ada dihadapannya itu dengan perasaan dongkol.
"Tidak bisakah kamu jangan membuat ulah lagi dengan perempuan, bahrat?"
Selena jelas bertanya kesal dengan laki-laki itu, yang hanya duduk santai bersandar nyaman di atas kursi kerja nya, menggunakan earphone nya sambil tangan nya bergerak kesana-kemari.
"Aku sudah tidak kuat lagi menghadapi perempuan-perempuan itu"
Selena melotot kesal, membuka earphone bahrat dengan perasaan dongkol.
"Ini sudah cukup keterlaluan, bahrat"
laki-laki itu membuka bola matanya, menarik tangan Selena dengan cepat, sepersekian detik kemudian jelas saja Selena jatuh kedalam pelukannya.
"Bahrat"
pekik nya kesal.
"Jadi istri ku, maka aku akan berhenti"
Selena memutar bola mata nya ke atas, beringsut dengan cepat dan langsung menjauhi Murat.
"Kau selalu saja seperti ini, kau fikir aku ini perempuan bodoh? yang mau menikahi laki-laki arogan seperti kamu hmm?"
Bahrat menghela nafasnya panjang, menatap dalam bola mata Selena.
"Yeah, aku tahu kau lebih menyukai laki-laki itu, yah yah yah kau boleh menikahi nya setelah kita menyelesaikan seluruh urusan Ailee "
ucap bahrat cepat, kemudian langsung menatap layar laptop nya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"
Selena melipat kedua tangannya.
"Perempuan terakhir meminta mu untuk bertanggung jawab"
seketika bahrat menatap Selena
"Bertanggung jawab?"
"Dia bilang, dia hamil?"
"What?"
bahrat jelas saja terkejut.
"Hamil? aku menaiki dia saja tidak, bagaimana cara nya bisa hamil?"
Selena langsung melotot kesal
"Jangan bercanda"
"Kau Fikir aku semurahan itu sebagai laki-laki? aku tidak sembarangan meniduri perempuan, yang benar saja"
Umpat bahrat kesal
"Kau fikir aku ini Eden?"
bahrat menggelengkan kepalanya.
"Yang benar saja"
setelah berkata begitu dengan cepat dia menyambar telepon kantor yang ada di hadapannya.
"Hubungkan aku dengan Laila, aku butuh pengacara ku sekarang juga"
"Bahrat"
Selena bicara sedikit membentak.
"Aku tidak pernah tidur dengan perempuan itu, jangan mendesak ku untuk bertanggung jawab"
ucapnya langsung menutup teleponnya.
"Kau punya bukti yang bisa di percaya?"
Terlihat jelas rona kecewa di bola mata bahrat saat mendengar ucapan Selena.
"Sejak dulu kau lebih mempercayai Eden dari pada diri ku, Selena"
Nada suaranya jelas terlihat getir, menatap dalam bola mata Selena.
"Bahkan kamu lebih percaya pada orang asing dari pada diri ku"
tambahnya lagi.
,"Bukan seper...."
belum sempat selena menyelesaikan ucapannya, bahrat langsung memotong dengan cepat.
"Keluarlah, aku sedang tidak ingin berdebat"
"Bahrat"
Selena tercekat.
Laki-laki itu dengan cepat membuang pandangannya, berdiri dari duduknya menuju ke arah kaca jendela besar yang ada disisi kanan ruangan kerjanya.
"Aku mulai lelah menunggu mu beberapa waktu ini, sebaik nya kita akhiri saja semuanya"