Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #98


Setelah mandi dan berganti pakaian, pangeran Rong melihat Xiao Li yang berada di balik semak. Dia menganggukan kepalanya pada pangeran Rong yang masih berada di dalam kamar.


Pangeran Rong lalu keluar dari kamar melewati jendela, untuk menemui Xiao Li.


"Katakan." Ucap pangeran Rong.


"Yang mulia, saat ini para perdana menteri masih mendesak yang mulia kaisar untuk menurunkan yang mulia permaisuri. Meskipun yang mulia telah berkata jika semua keputusan ada di tangan anda, mereka tetap melakukannya. Bahkan hari ini hamba melihat para perdana menteri itu berlutut di depan aula istana kerajaan."


" Sepertinya mereka ingin aku menghancurkan keluarga mereka."


"Yang mulia, apa yang harus hamba lakukan?"


"Kau pergi ke rumah para perdana menteri itu, lalu ambil semua catatan keuangan mereka. Dan juga kau carilah beberapa kesalahan yang pernah di lakukan oleh anak-anak mereka."


"Baik yang mulia."


Setelah memberi hormat, Xiao Li pergi dari hadapan pangeran Rong untuk melakukan tugasnya.


"Kalian telah memaksa ku untuk melakukan hal ini, jadi jangan salahkan aku jika aku memberi kalian pukulan ini." Ucap pangeran Rong.


Setelah bertemu dengan Xiao Li, pangeran Rong kembali masuk ke dalam paviliun, karena dia tidak mau permaisuri An curiga padanya.


"Kau sudah melakukan semuanya?" Ucap pangeran Rong pada permaisuri An.


"Benar, hanya tinggal menunggu ikannya siap saja."


Pangeran Rong memeluk permaisuri An dengan tiba-tiba, "Terima kasih, karena sudah melakukan semuanya."


"Tidak apa-apa, aku bisa melakukan semuanya."


"Baiklah, sekarang kau harus mandi dan berganti pakaian juga. Biarkan aku yang menunggu ikan itu."


Permaisuri An mengangguk, "Iya, terima kasih."


Permaisuri An lalu berjalan menuju kamar, untuk mandi dan berganti pakaian. Sementara pangeran Rong menunggu ikan yang di masak dengan daun yim.


"Dia benar-benar wanita yang sangat berbakat, dia bisa melakukan banyak hal yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya." Ucap pangeran Rong.


Pangeran Rong duduk di sebuah kursi dengan bahagia, meski mereka tinggal di dalam hutan. Namun mereka hidup dengan tenang disana.


Permaisuri An yang sudah mandi dan berganti pakaian, berjalan menghampiri pangeran Rong yang sedang menunggu ikan.


"Apakah ikannya belum matang?" Ucap permaisuri An.


"Sepertinya sebentar lagi."


Permaisuri An mengangguk, lalu duduk di depan pangeran Rong.


"Aku merasa sangat bahagia bisa bersama dengan mu seperti ini, begitu tenang." Ucap pangeran Rong.


"Benar, udara disini juga cukup segar. Dan kita juga bisa memakan tanaman dan ikan segar juga."


"Apa kau bahagia?"


Permaisuri An menatap pangeran Rong lalu mengangguk, "Iya, terima kasih."


"Kau tidak perlu mengatakan hal itu, karena jika kau bahagia aku juga akan bahagia."


Permaisuri An tersenyum.


"Sepertinya ikan sudah siap, kau duduklah disana. Aku akan membawanya kesana." Ucap pangeran Rong.


"Baik."


Permaisuri An berdiri lalu berjalan ke aula, dan duduk disana.


Tak berapa lama pangeran Rong berjalan menghampiri permaisuri An dengan membawa baki berisi ikan, udang dan makanan lainnya yang telah mereka masak.


"Kau harus makan lebih banyak, aku tidak ingin saat kita kembali ke istana, ibu ratu memarahiku karena melihat tubuh mu yang semakin kurus." Ucap pangeran Rong seraya meletakkan udang pada mangkuk permaisuri An.


"Baik, kau juga harus makan lebih banyak."


Setelah selesai dan membereskan semuanya, permaisuri An mencuci buah persik liar yang mereka petik lalu memotong buah persik itu.


"Makanlah, saya memotongkan buah yang sudah matang." Ucap permaisuri An.


"Lin'er, jika kelak aku mengajak mu untuk tinggal di paviliun ini, apakah kau mau?"


"Apakah telah terjadi sesuatu di istana?"


Pangeran Rong menggelengkan kepalanya, "Tidak ada."


"Saya mengerti, para perdana menteri itu pasti masih mendesak ayah kaisar di dalam istana."


Pangeran Rong meraih tangan permaisuri An, "Aku telah memutuskan sesuatu. Karena itu aku bertanya kepada mu."


"Bagi saya tinggal dimana pun tidak apa-apa, hanya saja saya harus membawa Feng Ying dan juga bibi Hong, yang menginginkan ikut bersama dengan saya."


"Itu tidak masalah, aku bisa meminta beberapa orang membuatkan dua tempat di sebelah sana untuk mereka berdua."


"Jika seperti itu, saya bisa. Hanya saja, seorang pangeran akan tinggal di luar istana. Apakah tidak akan menimbulkan masalah?"


"Bukankah setelah kita menikah dan kembali ke paviliun, kita memang telah tinggal di luar istana?"


"Memang benar. Hanya saja paviliun yang kita tempati saat ini berada di dalam hutan."


Pangeran Rong tersenyum, karena permaisurinya begitu khawatir terhadapnya.


"Kau tidak perlu memikirkan hal itu, kau hanya harus berdiri di sisi ku. Lalu aku akan melakukan semuanya, untuk melindungimu."


"Tetapi....."


"Percayalah, aku tidak akan membiarkan siapapun mencoba untuk menyakiti mu."


Permaisuri An terdiam Sejenak lalu mengangguk, " Baiklah, saya mengerti."


"Kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi, aku tidak akan mengecewakan mu."


"Baik, saya mengerti."


Pangeran Rong mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban permaisurinya, yang semakin hari semakin mengerti dan menurut apa yang dia katakan.


...----------------...


"Ini sudah hari ke tiga dari hari kematian Wei Yi, dan aku mendengar jika permaisuri An di bawa ke paviliun pangeran Rong, untuk menenangkannya." Ucap nyonya Xiao.


"Iya ibu, perasaan permaisuri An pasti sangat tidak baik. Karena ternyata yang telah membunuh nyonya Xia adalah putri dari selir tuan Liu."


"Dia tidak jauh berbeda dengan selir Qian yang sangat jahat itu. Mereka seolah tidak pernah merasa puas, sebelum melihat Wei Yi dan permaisuri An menderita."


"Benar, tetapi sekarang mereka sudah mati. Dan itu membuat ku merasa sedikit tenang."


"Tetapi, saat ini aku mendengar jika para perdana menteri di istana sedang mendesak yang mulia kaisar, dan pangeran Rong untuk menurunkan permaisuri An dari posisinya."


"Iya ibu, mereka bahkan berlutut di depan istana."


"Mereka sungguh keterlaluan."


"Bagi mereka, ini merupakan sebuah kesempatan untuk mendorong putri mereka, agar bisa menjadi selir pangeran Rong. Jadi tentu saja mereka akan melakukan hal itu."


Nyonya Xiao mengangguk.


Saat ini meskipun berita tentang permaisuri An yang telah membantu memenangkan peperangan telah menyebar hingga ke beberapa kota di negara Chao, dan banyak rakyat yang sangat kagum pada permaisuri An. Namun, orang-orang yang mendukung keluarga para perdana menteri itu, tentu tidak suka dan justru menjelek-jelekan tindakan permaisuri An.


"Kita akan mendengar keputusan pangeran Rong, setelah mereka kembali nanti." Ucap tuan muda Xiao.


"Iya, kita hanya bisa berharap jika pangeran Rong akan memberikan keputusan terbaik untuk permaisuri An."


"Benar, ibu."


Bagi keluarga Xiao, permaisuri An merupakan keluarganya. Jadi mereka tentu menginginkan yang terbaik baik bagi permaisuri An, dan akan selalu membantu permaisuri An di saat dia mempunyai masalah.