Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #124


"Yang mulia, hamba membawa Mei Huang kemari." Ucap Xiao Bo, yang datang bersama Mei Huang dan Xiao Li.


Pangeran Rong menatap permaisuri An, "Kau tetaplah disini."


"Yang mulia."


"Aku akan segera kembali, setelah menyelesaikan semuanya."


Permaisuri An hanya diam, tidak menanggapi pangeran Rong yang telah melangkah keluar dari kamar mereka.


"Saat ini sudah lebih dari 4 jam, aku rasa itu sudah mulai bekerja."


Permaisuri An berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya. Karena pangeran Rong melarangnya untuk keluar, maka dia hanya bisa melihat semuanya dari depan pintu yang terbuka.


Pangeran Rong yang sudah berada di depan Mei Huang menatapnya dengan serius, sementara Mei Huang begitu bahagia karena pangeran Rong memanggilnya, tanpa dia sadari jika dia di panggil karena hal yang telah dia lakukan.


"Saya memberi hormat pada yang mulia pangeran Rong." Ucap Mei Huang seraya memberi hormat.


"Kau tidak perlu melakukannya, aku memanggil mu kemari karena aku ingin bertanya padamu."


"Silahkan, yang mulia."


"Apa kau masih memiliki obat yang di gunakan oleh kita saat menghadapi orang bar-bar di perbatasan utara?"


Mei Huang terdiam dan menatap pangeran Rong, saat ini dia naru mengerti kenapa pangeran Rong memanggilnya.


"Yang mulia, saya..."


"Tidak ada seorangpun disini yang memiliki dan mengerti obat itu, dan tidak ada juga orang bar-bar yang menyelinap kemari. Tetapi aku mendapatkan aroma obat itu pada makanan permaisuri An."


Mendengar apa yang di katakan oleh pangeran Rong, Mei Huang merasa jika apa yang telah dia lakukan sudah di ketahui oleh pangeran Rong, tetapi itu sebelum permaisuri An memakan makanan itu. Sebab Mei Huang bisa melihat jika permaisuri An tengah berdiri di depan pintu kamar.


"Yang mulia, bagaimana mungkin saya mengetahui hal itu, sejak pagi saya berada di dalam kediaman saya." Ucap Mei Huang dengan berpura-pura tenang.


"Sejak pagi? Tetapi aku mendengar jika siang ini kau mengunjungi permaisuriku, ketika aku berada di dalam ruang baca."


Kedua mata Mei Huang menatap permaisuri An, karena dia mengira jika permaisuri An yang telah memberitahu hal itu kepada pangeran Rong.


"Yang mulia saya....."


Mulut Mei Huang tiba-tiba terdiam, dan tidak bisa berbicara lagi.


Melihat itu, permaisuri An tersenyum karena obat yang secara diam-diam dia berikan pada Mei Huang, dengan meminta seorang pelayan mencampurkannya ke dalam teh yang dia minum, telah membuat Mei Huang tidak bisa berbicara untuk sejenak.


"Aku tahu jika kau akan melakukan sesuatu padaku, jadi aku melakukan sesuatu terlebih dulu padamu. Dan setelah ini, kau pasti akan mengatakan semuanya kepada pangeran Rong. Dan tentu saja, kau tidak akan bisa berdalih lagi."


Pangeran Rong melihat Mei Huang yang diam dengan sedikit geram, "Katakan, apakah kau yang memberikan obat itu kepada permaisuri An?"


Mei Huang tetap diam, karena dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara dari mulutnya. Sementara pangeran Rong menatapnya dengan tajam.


"Mei Huang!" Seru pangeran Rong dan membuat Xiao Bo dan Xiao Li yang berada tidak jauh dari pangeran Rong sedikit terkejut.


Mendengar suara pangeran Rong yang cukup keras, membuat permaisuri An tersenyum.


Tiga


Dua


Satu


"Mei Huang, katakan padaku. Apakah kau yang telah mencampurkan obat itu pada makanan permaisuri An?" Ucap pangeran Rong lagi.


"Mei Huang! Lancang sekali kau!"


Mei Huang menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, karena apa yang ingin dia katakan tidak sesuai dengan apa yang keluar dari mulutnya.


"Tidak, tidak yang mulia. Itu tidak benar." Ucap Mei Huang.


"Tidak benar? Jika begitu, lalu bagaimana yang benar?"


"Sebenarnya, sebenarnya saya ingin melakukan itu beberapa bulan yang lalu ketika saya melihat yang mulia tersenyum begitu hangat, dan memperlakukan dia dengan begitu lembut."


Kedua mata pangeran Rong terbuka lebar, dan kedua tangannya mengepal dengan kuat.


Sementara Mei Huang kembali bingung dengan apa yang telah dia katakan tadi.


"Kenapa, kenapa yang ingin aku katakan tidak keluar. Dan jutsru apa yang seharusnya aku rahasiakan justru keluar dengan begitu mudah?"


Dengan tajam pangeran Rong menatap Mei Huang, "Xiao Bo, Xiao Li. Seret Mei Huang ke dalam penjara istana!"


"Baik yang mulia."


Mei Huang menggelengkan kepalanya, "Tidak, yang mulia. Saya sangat menyukai anda, mohon ampuni hamba dan jangan lakukan itu kepada saya. Yang mulia, yang mulia!"


Xiao Bo dan Xiao Li membawa Mei Huang dengan paksa ke penjara, karena dia telah melakukan kejahatan besar kepada permaisuri An dan anak yang ada di dalam perutnya.


"Aku tidak akan pernah melepaskan siapapun yang akan menyakiti permaisuriku." Ucap pangeran Rong.


Permaisuri An yang melihat semuanya merasa kasihan kepada Mei Huang, sebab perasaannya terhadap pangeran Rong telah membuatnya buta, dan melakukan hal yang sangat kejam.


"Jika saja kau tidak melakukan itu padaku, mungkin aku bisa menjadikan seorang teman. Tetapi sayangnya kau lebih memilih untuk berjalan menuju kehancuranmu sendiri." Ucap permaisuri An yang masih berdiri di depan pintu kamar.


Pangeran Rong berbalik dan berjalan menuju kamarnya, dan dia melihat jika permaisurinya tengah berdiri dan menatapnya.


"Kenapa kau berdiri disini?" Ucap pangeran Rong setelah berada di depan permaisuri An.


"Saya hanya ingin melihat bagaimana anda membereskan semuanya."


"Aku tahu, kau pasti telah melakukan sesuatu padanya."


Permaisuri An tersenyum, "Dia memiliki niat yang tidak baik terhadap saya, jadi saya hanya memberinya sedikit hukuman."


"Maaf, karena telah membuat mu merasa tidak nyaman."


Permaisuri An menggelengkan kepalanya, "Tidak, saya hanya tidak ingin ada seseorang yang melakukan hal yang tidak baik terhadap saya atau yang mulia."


Pangeran Rong menatap permaisuri An lalu memeluknya.


"Terima kasih, aku tidak akan membiarkan seseorang menyakitimu dan anak kita."


"Saya mengerti, yang mulia. Anda tidak perlu khawatir, saya akan menjaga diri saya dan anak kita."


Pangeran Rong merasa sangat beruntung dan bersalah terhadap permaisuri An, meskipun permaisuri An bisa melindungi dirinya seperti saat ini. Namun pangeran Rong tetap merasa tidak nyaman.


"Mei Huang, aku pastikan kau akan menerima hukuman yang sangat berat dariku. Karena sudah berani melakukan hal itu kepada permaisuri An dan anakku."


...----------------...


"Yang mulia! Yang mulia, saya mohon lepaskan saya. Dia hanyalah wanita yang lemah, yang mulia. Saya, saya telah berada di garis depan setiap peperangan. Saya yang lebih pantas berdiri di samping anda!" Teriak Mei Huang yang berada di penjara istana.


Kedua tangan Mei Huang memegang tiang penjara itu dengan erat, sebab dia merasa tidak terima jika pangeran Rong memejarakannya karena permaisuri An.