
Kabar tentang Lin Yao yang ikut dalam peperangan di perbatasan selatan terdengar oleh nyonya Xia, ratu dan juga kaisar.
Nyonya Xia yang awalnya tidak mengetahui jika Lin Yao ikut berperang merasa sangat terkejut, dan saat ini tengah duduk dengan lemas di dalam kamarnya.
"Lin'er, kenapa dia ikut kesana?" Ucap nyonya Xia.
"Nyonya tenangkan diri anda. Saat ini nona muda dan semua pasukan pangeran Rong dan pangeran ke 3 telah keluar dari ibu kota, kita hanya bisa berdoa untuk kemenangan dan keselamatan mereka." Ucap bibi Hong.
Nyonya Xia mengusap air matanya, dia merasa dangat khawatir. Karena selama ini dia tidak pernah melihat Lin Yao berlatih, dan yang dia tahu Lin Yao adalah seorang wanita lemah.
"Lin'er." Ucap nyonya Xia.
Bibi Hong dan Feng Ying terus menenangkan nyonya Xia di dalam kamarnya.
"Li Wei." Ucap ratu Zhiping yang baru saja datang.
"Yang mulia ratu." Ucap Feng Ying dan bibi Hong bersamaan sambil memberi hormat.
"Yang mulia ratu, Lin'er...." Ucap nyonya Xia.
Ratu segera masuk ke dalam kamar lalu duduk di samping nyonya Xia.
"Tolong tenangkan dirimu, aku yakin pangeran Rong akan melindunginya. Mereka akan baik-baik saja." Ucap ratu menenangkan nyonya Xia.
"Lin'er, dia hanya wanita biasa. Tetapi bagaimana bisa dia ikut dalam perang itu?"
Ratu yang mengerti perasaan nyonya Xia, menggenggam tangan nyonya Xia yang gemetar karena khawatir pada putrinya.
"Mereka akan baik-baik saja, dan pasti akan memenangkan peperangan. Pangeran Rong tidak akan membiarkan Lin Yao terluka." Ucap ratu.
Nyonya Xia hanya bisa menangis, karena tidak tahu harus berkata apa lagi.
Semua orang tidak menyangka, jika kerajaan Yu akan menyerang mereka secara tiba-tiba, saat mereka tengah sibuk mempersiapkan pernikahan putri Xiu Ying dengan pangeran He Xuan Li.
Dan itu membuat pangeran Rong sangat geram, terlebih alasan mereka menyerang kerajaan Chao, karena pangeran Rong tidak mau menikah dengan putri Yu Meng dari kerajaan mereka, dan lebih memilih menikah dengan Lin Yao.
...----------------...
Di perbatasan selatan, pasukan yang di pimpin oleh pangeran Rong dan pangeran ke 3 telah sampai. Semua pasukan dan panglima perang menyambut mereka.
"Bagaimana situasi saat ini?" Ucap pangeran Rong pada panglima perang.
"Jika di lihat, saya memperkirakan pasukan dari negara Yu berjumlah lebih dari 1500 orang, yang mulia."
Pangeran Rong mengangguk.
4 orang laki-laki ahli peperangan itu dan juga Lin Yao, saat ini berada dalam sebuah tenda, dan sedang melingkari sebuah peta dimana mereka berada dan wilayah yang ada di sekelilingnya.
"Yang mulia, apakah ini aliran sungai kecil?" Tanya Lin Yao yang melihat gambar sebuah sungai yang tidak begitu panjang itu.
"Benar, ini merupakan aliran sungai yang sengaja di buat beberapa tahun yang lalu. Dan tidak begitu panjang."
"Jika begitu, kita bisa mengurangi jumlah pasukan dari negara Yu dengan menaburkan racun ke dalam aliran sungai itu."
Ke 4 laki-laki itu saling menatap.
"Jika kita menaburkan racun, maka pasukan kita juga akan ikut keracunan. Karena kita juga mengambil pasokan air dari sungai itu." Ucap panglima perang.
"Jika seperti begitu, kita harus mengambilnya lebih dulu. Ambil air untuk persediaan selama beberapa hari, setelah itu kita tutup aliran sungai disini agar tidak ada pasukan yang mengambil air lagi. Setelah itu, diam-diam kita menaburkan racun pada aliran sungai."
"Pasukan yang kita bawa hanya berjumlah kurang dari 3000 orang, kita mungkin bisa menang melawan mereka. Tetapi kita tidak mengetahui dengan pasti, berapa jumlah pasukan lawan yang sebenarnya. Jika rencana ini berhasil, setidaknya kita bisa melumpuhkan hampir setengah dari pasukan negara Yu itu." Ucap pangeran ke 3.
"Tetapi, dari mana kita memperoleh racun itu?" Ucap panglima perang.
Pangeran Rong menatap Lin Yao, "Permaisuri ku, kau yang mengatakan semua rencana ini. Dan kau pasti sudah menyiapkan racun yang kau katakan itu. Benarkan?"
Lin Yao tersenyum lalu mengangguk.
"Benar, saya tentu tidak akan mengatakan sebuah rencana jika saya tidak membuat sebuah persiapan."
Semua orang yang mendengar itu terkejut, terkecuali pangeran Rong.
Mereka tentu tidak menyangka, jika wanita yang terkenal lemah dan tidak mempunyai bakat, akan memikirkan sebuah rencana yang sangat bagus.
Lin Yao mengambil sebuah botol keramik kecil, lalu meletakkan di atas peta yang tengah mereka lihat itu.
"Ini adalah racun pelumpuh tulang, siapapun yang meminum racun ini akan mati secara perlahan. Dan mereka tidak akan menyadari jika pasukan mereka yang mati itu keracunan karena air sungai yang mereka minum." Ucap Lin Yao.
Ke 4 laki-laki itu menatap sebuah botol keramik berisi racun yang cukup mengerikan itu.
"Baiklah, kita harus segera melakukan rencana ini. Dan mengakhiri perang ini sebelum putri Xiu Ying menikah." Ucap pangeran Rong.
"Baik yang mulia." Ucap panglima perang dan kepala pasukan perang.
Kedua orang itu kemudian keluar dari tenda untuk melakukan rencana yang di katakan oleh Lin Yao.
Sementara itu di dalam tenda, pangeran Rong menatap Lin Yao yang berdiri tepat di depannya.
"Kalian bisa berbicara, aku akan membantu pasukan untuk mengambil persediaan air minum." Ucap pangeran ke 3.
Pangeran ke 3 yang mengerti jika adiknya ingin berbicara 4 mata dengan Lin Yao memilih untuk pergi.
Setelah pangeran ke 3 pergi, pangeran Rong berjalan mendekati Lin Yao.
"Permaisuri ku, selain memiliki kepintaran dalam ilmu pengobatan, menaiki kuda dan menghadapi harimau ganas di dalam hutan. Sekarang kau menunjukan jika kau bisa membuat racun. Katakan padaku, selain itu semua, bakat apalagi yang kau miliki?" Ucap pangeran Rong.
Lin Yao tersenyum, "Yang mulia, kita akan menikah. Kelak yang mulia akan tahu apa saja bakat yang saya miliki."
Tangan pangeran Rong terulur dan mengusap pipi Lin Yao dengan lembut.
"Kau benar-benar membuat ku sangat kagum, dan ingin segera menikahimu." Ucap pangeran Rong.
"Ya.... Yang mulia, bukankah kita... Kita akan menikah nanti?"
"Kau benar, tetapi aku tidak bisa bersabar menunggu hari itu tiba."
"Yang mulia, anda adalah seorang dewa perang. Ba... Bagaimana bisa anda mengatakan hal itu."
Pangeran Rong tersenyum pada Lin Yao, "Itu karena kau adalah satu-satunya wanita yang telah membuat ku tertarik, dan juga telah membuat ku merasakan sesuatu yang berbeda."
Lin Yao menunduk, wajahnya terasa sedikit panas.
"Setelah ini selesai, aku akan meminta kepada ayah kaisar untuk mempercepat hari pernikahan kita. Aku tidak mau melihat mu berada di medan perang seperti ini lagi kelak." Ucap pangeran Rong.
Lin Yao hanya bisa diam mendengar semua ucapan dan keputusan dari pangeran Rong.