Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #72


"Itu tidak perlu, saya bisa melindungi diri saya sendiri dari mereka. Mereka hanya meremahkan saya tanpa mencari tahu bagaimana saya."


"Kau benar, tidak banyak yang tahu jika permaisuri ku ini adalah wanita yanh sangat berbakat dan kuat."


Lin Yao hanya mengangguk dan tersenyum.


"Yang mulia, saya datang membawa air untuk yang mulia permaisuri." Ucap Feng Ying dari depan pintu kamar.


"Masuk dan bawalah air itu kemari." Ucap pangeran Rong.


Setelah pangeran Rong berkata, tak lama pintu kamar terbuka dan Feng Ying masuk kedalam sambil membawa sebuah wadah berisi air dan kain kecil.


"Yang mulia, saya akan membantu anda melepaskan hiasan yang ada di kepala anda terlebih dulu, setelah itu saya akan membantu anda membersihkan wajah anda." Ucap Feng Ying pada Lin Yao.


"Baik, terima kasih."


Feng Ying mengangguk, lalu dengan perlahan dan hati-hati dia melepaskan satu persatu hiasan yang ada di kepala Lin Yao, dan helai demi helai rambut Lin Yao yang panjang jatuh tergerai.


Pangeran Rong yang melihat itu hanya diam, dia memilih untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari mereka.


"Yang mulia, apakah anda tidak ingin kembali ke aula istana?" Ucap Lin Yao.


"Tidak, aku sudah tidak ingin kembali kesana. Lagi pula mereka pasti akan mengerti."


Lin Yao yang tidak mengerti arti perkataan pangeran Rong hanya mengangguk.


Setelah semua jepitan rambut terlepas dari kepala Lin Yao, Feng Ying mencelupkan kain kecil yang dia bawa ke dalam air.


"Hentikan, kau bisa keluar." Ucap pangeran Rong pada Feng Ying saat dia akan mulai membersihkan wajah Lin Yao.


"Baik yang mulia."


Feng Ying menyerahkan kain kecil itu pada pangeran Rong, lalu keluar dari dalam kamar.


"Ada apa, kenapa... Kenapa kau memintanya berhenti?" Ucap Lin Yao dengan heran pada pangeran Rong.


"Karena aku yang akan melakukannya."


Kedua mata Lin Yao membulat, dia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh pangeran Rong.


"Te... Tetapi....."


"Kau cukup diam, aku bisa melakukannya." Ucap pangeran Rong dengan cepat.


Lin Yao hanya bisa pasra*h dan memejamkan kedua matanya membiarkan pangeran Rong membantunya membersihkan wajah.


Dengan hati-hati pangeran Rong mulai mengusap wajah Lin Yao dengan kain kecil yang sudah di basahi sebelumnya.


Pangeran Rong menatap wajah Lin Yao yang begitu cantik, bulu mata yang lentik, garis alis yang indah dan.... Bibir yang tipis.


"Kau sungguh cantik." Ucap pangeran Rong dengan lembut.


Mendengar itu kedua mata Lin Yao terbuka, dan mata mereka berdua saling menatap.


Dan entah kenapa, pangeran Rong mendekatkan wajahnya pada wajah Lin Yao dan mencium bibit yang tidak pernah di sentuh oleh orang lain itu.


Lin Yao membulatkan kedua matanya saat bibir mereka saling menempel.


"Permaisuri, kau sudah mengg0daku dengan wajah cantik mu. Jadi bisakah aku melakukannya malam ini?" Ucap pangeran Rong setelah dia melepaskan ciumannya.


Lin Yao hanya diam, saat ini dia telah menjadi seorang istri dan tentu mau tidak mau, dia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


Dengan pelan dan ragu-ragu, Lin Yao menganggukan kepalanya lalu menundukan wajahnya.


Melihat itu pangeran Rong tersenyum, dan tanpa menunggu lagi dia mengangkat dan menggendong tubuh Lin Yao.


"Dia pasti sangat malu dan takut, tetapi aku sungguh ingin memilikinya dengan sepenuhnya malam ini."


Dengan pelan pangeran Rong membaringkan tubuh Lin Yao di tempat tidur lalu menatap Lin Yao dengan lembut.


"Siang tadi aku berjanji padamu, jika aku akan membuka topeng yang selama ini aku pakai untuk menutupi bekas luka ku karena berperang." Ucap pangeran Rong.


"Apa.... Apakah boleh?" Ucap Lin Yao dengan terbata.


Setelah berkata seperti itu, pangeran Rong lalu melepaskan topeng yang selama ini menutupi mata sebelah kanananya.


Lin Yao bisa melihat dengan jelas bekas luka yang ada pada sudut mata kanan pangeran Rong yang terlihat cukup dalam itu.


Dengan ragu Lin Yao mengulurkan tangannya dan memyentuh bekas luka yang sangat terasa pada telapak tangannya.


"Luka ini cukup dalam, kau pasti sangat kesakitan saat luka ini masih basah." Ucap Lin Yao.


"Benar, tetapi akan lebih menyakitkan jika aku membiarkan mereka menghancurkan sebagian kota negara Chao ini."


Lin Yao tidak menjawab, dia terus menatap bekas luka itu.


(Bekas lukanya seperti bekas luka jahitan, jadi terasa agak timbul di permukaan kulit saat di sentuh)


Pangeran Rong menatap Lin Yao yang terlihat seperti merasa simpati pada luka yang dia dapatkan itu.


"Kau masih tidak berubah, meski tanpa memakai topeng itu. Kenapa kau tidak melepasnya?" Ucap Lin Yao.


"Benarkah, permaisuri ku?"


Lin Yao terdiam, saat ini wajah mereka cukup dekat dan itu membuat detak jantung Lin Yao mulai berdetak dengan cepat lagi.


Pangeran Rong mengusap pipi Lin Yao dengan lembut, lalu mencium kening Lin Yao.


"Terima kasih karena kau tidak merasa takut dan tidak merasa jika luka yang aku miliki ini menjijiikan." Ucap pangeran Rong.


Lin Yao yang tengah gugup hanya bisa mengangguk dengan pelan.


Pangeran Rong tersenyum, laku mencium bibir Lin Yao dan memberikannya sedikit hisap4n.


Malam itu sepasang suami istri baru, menikmati malam pengantin mereka dengan bahagia dan sedikit rasa gugup, karena ini merupakan hal yang pertama bagi keduanya.


(Maaf tidak ada adegan secara detail di cerita kali ini πŸ™πŸ˜ traveling sendiri saja ya 🀭).


****


Esok harinya, pangeran Rong yang bangun lebih dulu menatap wajah Lin Yao yang sudah menjadi miliknya dengan utuh, karena tadi malam mereka telah menyatu seutuhnya.


"Akhirnya aku memiliki mu seutuhnya, Lin'er. Aku tidak akan pernah membuatmu mendapat perlakuan seperti tadi malam lagi, dari wanita yang mencoba membuat mu pergi dariku."


Dengan lembut pangeran Rong menyingkirkan rambut yang berada di atas wajah istri cantiknya itu.


"Kau selalu terlihat cantik meski kau masih terlelap." Ucap pangeran Rong.


Pangeran Rong duduk dan beranjak dari tempat tidur mereka dengan pelan, karena tidak ingin membangunkan Lin Yao yang masih tidur.


Dengan hanya mengenakan celananya, pangeran Rong berjalan ke ruangan samping untuk mandi.


Pangeran Rong membiarkan Lin Yao tidur lebih lama, meskipun dia tahu pagi itu mereka harus memberi salam pada kaisar dan ratu, tetapi pangeran Rong tidak membangunkannya.


Lagi pula, kaisar dan ratu pasti akan mengerti dengan keterlambatan mereka memberi salam pagi itu.


Setelah selesai, pangeran Rong yang telah memakai pakaiannya berjalan keluar dari kamar.


"Beritahu koki istana untuk menyiapkan sup tulang sapi, dan berikan sup itu pada permaisuri setelah kami memberikan salam pada yang mulia kaisar dan ratu." Ucap pangeran Rong pada seorang pelayan istana.


"Baik yang mulia."


"Feng Ying."


"Hamba, yang mulia."


"Masuklah ke dalam, dan setelah permaisuri bangun kau bantu dia. Aku akan kembali setelah kau membantunya."


"Baik yang mulia."


Pangeran Rong mengangguk lalu berjalan pergi ke ruang bacanya.


Sebagai sepasang suami istri yang baru kali pertama melakukan itu, pangeran Rong sangat mengerti bagaimana perasaan Lin Yao saat dia bangun tetapi di dalam kamar masih ada pangeran Rong.


Karena itu pangeran Rong memilih untuk pergi dan kembali lagi setelah Lin Yao telah siap untuk memberi salam pada kaisar dan ratu pagi itu.