
Pangeran Rong berjalan dengan pelan mendekati kelinci itu, dan bersiap akan melesatkan anak panah yang dia bawa.
Sementara itu permaisuri An kembali memetik tanaman yang akan di jadikan makan malam mereka, untuk menemani daging kelinci yang sedang di tangkap oleh pangeran Rong.
"Lin'er!" Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An menoleh, dan mendapati pangeran Rong telah berhasil menangkap kelinci buruannya, dan menunjukkan kelinci itu seraya tersenyum.
"Kelinci ini cukup besar, sepertinya saya bisa membuat daging kelinci asap." Ucap permaisuri An setelah pangeran Rong berada di depannya.
"Kau bisa membuat daging kelinci asap?"
"Iya, sekarang bantu saya mencari bunga Pum dan juga akar xin."
"Kau akan membuat daging kelinci asap dengan akar xin?"
"Benar, jika menggunakan akar xin. Daging akan terasa lebih lunak dan bisa bertahan lebih dari 1 minggu."
"Aku bahagia memiliki permaisuri yang begitu banyak memiliki bakat."
"Tolong berhenti memuji saya, rasanya sedikit berlebihan."
"Kau memang wanita yang pintar dan memiliki berbagai kemampuan. Aku mengatakan yang sebenarnya."
Permaisuri An tersenyum, "Baiklah, kita harus mencari bunga Pum dan akar xin sekarang."
Pangeran Rong mengangguk, dan sambil membawa kelinci buruannya, pangeran Rong membantu permaisuri An mencari dua tanaman itu.
"Lin'er, apakah ini bunga Pum?" Ucap pangeran Rong yang melihat bunga liar berwarna kuning.
Permaisuri An tersenyum, "Benar, itu adalah bunga Pum. Kita bisa memasak tanaman tadi dengan bunga Pum itu."
"Jika begitu kita harus memetiknya."
"Berhati-hatilah, jangan sampai kau memetik daun dari bunga itu."
"Ada apa dengan daunnya?"
"Daun dari bunga Pum memiliki rambut yang halus, namun jika terkena kulit akan gatal dan mengaluarkan bintik-bintik merah."
Pangeran Rong mengangguk, "Baik, aku akan berhati-hati."
Dengan hati-hati dan pelan, pangeran Rong memetik beberapa bunga Pum yang ada di depannya.
Sementara pangeran Rong memetik bunga Pum, permaisuri An mencari akar xin.
Senyum terukir pada bibir permaisuri An saat dia menemukan akar xin yang dia cari, bahkan bukan hanya akar xin saja. Tetapi dia juga menemukan jamur yang bisa mereka makan untuk malam ini.
Setelah memetik bunga Pum, pangeran Rong mencari dimana permaisurinya berada. Dan dia melihat jika permaisurinya sedang berjongkok tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Apa kau sudah menemukan akar xin, Lin'er?" Ucap pangeran Rong yang sudah berada di belakang permaisuri An.
"Benar, saya juga menemukan jamur. Kita bisa memasaknya malam ini."
"Sepertinya kita akan memiliki banyak makanan untuk malam ini."
"Benar."
Setelah mendapatkan semua bahan makanan, pangeran Rong dan permaisuri An kembali ke paviliun untuk mengolah bahan makanan yang telah mereka dapatkan di hutan.
Pangeran Rong akan membersihkan kelinci yang dia dapat dan membuat sup juga masakan dari daging kelinci itu.
Sementara permaisuri An akan memasak tanaman yang mereka dapatkan dan juga jamur.
"Aku tidak menyangka, jika kau bisa melakukan semuanya dengan baik. Hidup di dalam hutan dengan makanan yang kita dapatkan disini." Ucap pangeran Rong.
"Saya juga tidak menyangka, jika pangeran Rong kita bisa melakukan hal seperti ini. Dan juga akan mengolah kelinci itu."
Pangeran Rong hanya tertawa mendengar perkataan permaisurinya.
"Baiklah, kelincinya sudah aku bersihkan. Kita bisa membuat daging kelinci asap dengan daging bagian dada ini." Ucap pangeran Rong.
"Baik, saya akan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat daging kelinci asap itu."
Pangeran Rong mengangguk, "Apakah ini tanaman dan bunga pum yang kita dapatkan tadi?"
"Benar, saya akan memasaknya setelah mendiamkan bunga pum dan daun tanaman itu."
"Kau benar-benar sangat pintar membuat makanan."
Permaisuri An hanya tersenyum.
Di kehidupannya yang dulu, dia hanya tinggal bersama dengan gurunya. Dan tentu saja dia harus bisa bertahan hidup, juga harus bisa membuat makanan untuk bisa bertahan ketika melakukan latihan di dalam hutan dan gua.
...----------------...
"Aku berharap pangeran Rong bisa membuat permaisuri An merasa lebih baik, setelah membawanya keluar untuk sementara dari istana ini." Ucap ratu pada putri Xiu Ying.
"Ibu ratu benar, saya merasa ikut bersedih ketika melihat tatapan permaisuri An yang begitu kehilangan."
"Iya, dia adalah anak yang baik. Dan juga sangat berbakti."
"Selir dari tuan Liu dan anaknya benar-benar sudah sangat keterlaluan memperlakukan permaisuri An dan nyonya Xia."
"Benar, tetapi aku sangat senang karena mereka sudah tidak ada lagi dunia ini. Sehingga permaisuri An bisa hidup bahagia dengan pangeran Rong."
"Ibu ratu, saya mendengar jika saat ini para perdana menteri sedang mendesak ayah kaisar untuk menurunkan permaisuri An, karena sebagai seorang permaisuri, dia ikut berperang dan membunuh putri tuan Liu."
"Itu benar, hanya saja yang mulia masih tidak menanggapi keinginan mereka, dan yang mulia berkata jika pangeran Rong yang akan memberi keputusan kepada mereka."
Putri Xiu Ying mengangguk, "Saya berharap mereka tidak akan mendesak ayah kaisar lagi setelah pangeran Rong memberi keputusan."
"Iya, aku juga berharap seperti itu."
Ratu dan putri Xiu Ying tidak mengerti dengan pemikiran para perdana menteri itu, mereka seolah tidak peduli akan kemenangan yang di dapatkan berkat permaisuri An yang berhasil membunuh pangeran negara itu.
Seolah mereka sudah lama mencari celah agar mereka bisa memaksa pangeran Rong supaya mau membuat istana harem untuk putri-putri mereka.
Pangeran He Xuan Li berjalan memasuki aula istana raja dengan putra mahkota.
"Salam kepada ibu ratu." Ucap putra mahkota dan pangeran He Xuan Li.
"Duduklah."
"Terima kasih, ibu ratu." Ucap pangeran He Xuan Li.
Putra mahkota dan pangeran He Xuan Li duduk di depan ratu dan putri Xiu Ying.
"Ibu ratu, apa yang sedang ibu dan putri Xiu Ying bicarakan?" Ucap putra mahkota.
"Kami sedang membicarakan permaisuri An dan pangeran Rong."
"Saya mendengar jika hari ini pangeran Rong membawa permaisuri An ke paviliun miliknya yang berada di dalam hutan."
"Benar, yang mulia membiarkan mereka pergi. Karena yang mulia tidak ingin jika permaisuri An terus merasa bersedih atas kematian ibunya."
"Keputusan ayah kaisar benar, jika membiarkan permaisuri An terus seperti itu, saya takut pangeran Rong akan membuat semua para perdana menteri itu menerima kemarahannya."
Putra mahkota sangat mengerti bagaimana sifat pangeran Rong, jadi sebisa mungkin mereka akan menekan balik para perdana menteri itu untuk sementara waktu.
"Saya berharap, setelah pangeran Rong dan permaisuri An kembali, perasaan permaisuri An akan menjadi lebih baik." Ucap pangeran He Xuan Li.
"Benar, kami juga berharap demikian." Ucap ratu.
Kematian nyonya Xia yang begitu mendadak benar-benar membuat semua orang merasa kehilangan, dan bagi permaisuri An, ini tentu saja merupakam hal yang paling berat dan membuat kehidupannya tidak baik.