
"Ibu, pada akhirnya kau tidak mampu bertahan dan memilih untuk meninggalkan aku lagi. Bahkan di kehidupan 100 tahun sebelumnya, kau pun meninggalkan Lin'er dengan cara yang sama. Apakah langit memang tidak memperolehkan Lin'er untuk hidup lebih lama dengan ibu, sehingga dua kehidupan ibu meninggalkan Lin'er."
Permaisuri An menangis di depan peti mati ibunya, uang kertas berwarna putih pun bertaburan di dalam aula paviliun itu.
Suara tangisan dari bibi Hong, pelayan yang telah melayani nyonya Xia selama lebih dari 20 tahun itu tidak bisa lagi dia tahan.
"Nyonya, saya akan terus berada di samping yang mulia permaisuri. Meskipun nyonya telah meninggalkan kami semua. Dan saya berharap, saya bisa bertemu dengan nyonya kembali di kehidupan yang akan datang."
Putri Xiu Ying dan ratu yang masih berada di paviliun, merasa tidak tega melihat permaisuri An yang terus menangis di depan peti nyonua Xia, sambil menebarkan uang kertas berwarna putih.
Sementara keluarga Xiao yang juga sudah datang, merasa sangat kehilangan dan terpukul atas kematian nyonya Xia yang mendadak itu. Berkali-kali nyonya Xiao menyeka air matanya dengan sapu tangan yang selalu dia bawa.
Begitu juga dengan keluarga Xiao yang telah tiba di paviliun itu, kakak maupun adik dari nyonya Xia merasa sangat terkejut, dengan berita yang di katakan oleh seorang pengawal dari paviliun ini tentang kematian nyonya Xia.
Feng Ying berjalan mendekati permaisuri An dan berbisik, "Yang mulia, seseorang telah menyampaikan sesuatu kepada saya. Setelah pemakaman selesai, saya akan memberitahukan kepada yang mulia."
Permaisuri An hanya menganggukan kepalanya, sementara kedua matanya masih menatap peti mati berisi nyonya Xia.
"Permaisuri An, sudah saatnya kakak Wei Yi di makamkan. Tanah yang berada di pemakaman keluarga Xia telah siap." Ucap salah satu adik dari nyonya Xia.
"Baik, aku mengerti." Ucap permaisuri An.
Di bantu oleh Feng Ying, permaisuri An berdiri dan memberikan hormat kepada ibunya.
"Ibu. Lin'er berjanji, jika kita bertemu dan menjadi sepasang anak dan ibu lagi. Lin'er akan lebih berusaha untuk melindungi ibu agar ibu tidak lagi meninggalkan Lin'er. Dan semoga ibu berbahagia disana dengan putri mu, Liu Lin Yao yang telah meninggalkan mu lebih dulu."
Setelah semua orang memberikan penghormatan terakhir kepada nyonya Xia, peti mati nyonya Xia di bawa oleh 8 orang pengawal dari kediaman Xia.
"Yang mulia, mohon untuk kembali. Anda bisa melihat makam Wei Yi satu minggu setelah Wei Yi di makamkan." Ucap paman pertama permaisuri An.
"Baik, saya mengerti."
Setelah menikah dan menjadi anggota dari keluarga kerajaan, permaisuri An harus mengikuti peraturan istana, dimana jika ada anggota keluarga yang meninggal, maka dia tidak di perbolehkan melihat makam keluarganya selama 1 minggu.
Dan hal itulah yang membuat permaisuri An merasa lebih terpukul dan kecewa.
"Permaisuri An, kau tetaplah disini. Kami akan melihat pemakaman itu untuk mu." Ucap nyonya Xiao.
"Baik bibi, saya mengerti."
"Dan berhentilah menangis, kau harus menenangkan dirimu."
"Baik, saya mengerti."
Nyonya Xiao mengangguk.
Keluarga Xia dan keluarga Xiao keluar dari paviliun yang di tinggali oleh permaisuri An.
Melihat peti mati ibunya di bawa menggunakan kereta kuda, tubuh permaisuri An gemetar dan seketika terduduk di atas lantai dengan lemas.
"Ibu, ibu. Lin'er ingin memeluk ibu sekali lagi. Ibu, Lin'er memohon kepada ibu." Ucap permaisuri An seraya menangis.
Mendengar dan melihat permaisuri An menangis, membuat orang-orang yang melihatnya merasa terenyuh karena merasakan kesedihan yang tengah permaisuri An rasakan saat ini.
Putri Xiu Ying berlutut dan memeluk permaisuri An, dan sesekali menepuk dengan pelan punggungnya.
Permaisuri An hanya menggelengkan kepalanya, baginya kehilangan dua ibu di dua kehidupan yang dia jalani, merupakan sebuah kehilangan yang sangat ingin dia hentikan.
Setelah permaisuri An mulai tenang, dan tidak lagi menangis. Putri Xiu Ying membantu permaisuri An berdiri. Meskipun dia adalah seorang putri istana, namun berlutut dan menenangkan permaisuri An yang terduduk di atas tanah, bukanlah hal yang perlu di pertimbangkan lagi.
"Baiklah, mari kita ke kamar mu. Kau harus beristirahat dengan baik." Ucap putri Xiu Ying.
Dengan pelan putri Xiu Ying menyeka air mata permaisuri An, dan membawanya ke dalam kamar permaisuri An dan pangeran Rong.
"Beristirahatlah, kau pasti sangat lelah karena sudah berlutut di depan nyonya Xia terlalu lama." Ucap ratu kepada permaisuri An.
"Baik, terima kasih ibu ratu."
Ratu mengangguk, "Kalian tetap disini untuk menjaga permaisuri An." Ucap putri Xiu Ying pada Feng Ying.
"Baik, yang mulia."
"Permaisuri An, kami akan kembali ke istana terlebih dulu dan akan kembali lagi esok hari." Ucap ratu.
"Baik, terima kasih ibu ratu, dan kakak ipar."
Ratu dan putri Xiu Ying mengangguk, mereka lalu berjalan keluar dari paviliun.
Setelah permaisuri An melihat ratu dan putri Xiu Ying keluar dari paviliun, permaisuri An menatap Feng Ying.
"Bicaralah, apa yang di katakan oleh orang itu." Ucap permaisuri An.
"Yang mulia, saat ini nona Feng Ying tengah bekerjasama dengan negara yang sedang di hadapi oleh yang mulia pangeran Rong."
"Apa? Kau berkata jika Feng Ying telah bekerjasama dengan negara yang saat ini menyerang negara Chao?"
"Benar yang mulia, itu kabar yang saya dapatkan dari orang itu."
"Baik, aku mengerti. Mungkin pangeran Rong telah mengetahui hal ini, jadi dia tidak membiarkan Xiao Li untuk memberitahukannya padaku."
"Yang mulia."
"Bawakan aku pakaian pria yang kau simpan."
"Yang mulia, apa yang akan anda lakukan?"
"Mereka telah membuat ibuku meninggalkan dunia ini, aku tentu tidak akan membiarkan mereka menjatuhkan pangeran Rong."
"Tetapi yang mulia...."
"Cepat ambilkan!"
Feng Ying tersentak mendengar suara permaisuri An yang sedikit keras itu, dan dengan takut Feng Ying melakukan apa yang di perintahkan oleh permaisuri An.
Permaisuri An yang masih dalam suasana hati yang tidak baik dan juga masih sangat bersedih, akan memberikan balasan terhadap wanita bernama Fang Yin, yang tidak pernah merasa bersalah atas apa yang pernah dia lakukan terhadapnya dan juga ibunya.
"Liu Fang Yin, kau telah melakukan hal yang membuat ku tidak bisa memaafkan mu. Kematian ibuku, dan juga Liu Lin Yao di kehidupan ini, aku akan membalasnya dengan baik padamu."
Aura membunuh yang selalu dia keluarkan pada kehidupannya di 100 tahun yang lalu, saat ini terasa lebih kuat karena sebuah kebencian telah membuat permaisuri An tidak bisa lagi menahannya.