
"Yang mulia, mohon ampuni kami. Kami tidak bermaksud demikian." Ucap penasehat Xia.
"Tidak bermaksud, jadi apa maksud kalian memberikan permaisuri An hadiah itu?"
"Itu....."
"Penasehat Xia, tolong katakan pada mereka, jika mereka masih ingin melakukan hal itu pada saya, maka saya akan memutuskan hubungan keluarga dengan keluarga Xia." ucap permaisuri An.
Semua orang yang ada di dalam aula istana pangeran Rong terkejut, mendengar keputusan dari permaisuri An.
"Permaisuri An." Ucap nyonya Xiao.
"Ini adalah keputusan saya, karena saya tidak mau hidup di bawah tekanan orang lain."
Penasehat Xia mengangguk, "Baik, saya mengerti."
Bersama dengan beberapa anggota keluarga Xia, penasehat Xia keluar dari istana pangeran Rong. Dan tidak lupa, mereka juga membawa kembali kotak hadiah yang telah membuat keributan di dalam aula istana pangeran Rong itu.
Beberapa anggota keluarga Xia yang datang ke istana tentu merasa kesal pada permaisuri An, yang menolak hadiah itu. Namun mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
"Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti itu pada permaisuri An? Sungguh keterlaluan." Ucap nyonya Xiao.
Pangeran Rong memeluk permaisuri An dari samping, karena dia tidak ingin kemarahan permaisuri An akan berdampak pada bayi mereka, jika permaisuri An terus merasa tertekan seperti tadi.
"Yang mulia, lebih baik anda membawa permaisuri An untuk beristirahat sekarang, dan saya akan kembali lagi kesini besok." Ucap nyonya Xiao pada pangeran Rong.
"Baik, terima kasih bibi Xiao."
Nyonya Xiao mengangguk.
"Saya akan meminta beberapa orang untuk mengawasi keluarga Xia dari luar." Ucap tuan muda Xiao.
"Baik, terima kasih." Ucap pangeran Rong.
Nyinya Xiao melihat ke arah kaisar, "Yang mulia, saya mohon diri. Dan akan kembali mengunjungi permaisuri An besok."
"Baik, kau bisa melakukannya."
"Terima kasih, yang mulia."
Nyonya dan tuan muda Xiao lalu berjalan meninggalkan istana pangeran Rong dan permaisuri An, setelah memberi hormat pada kaisar.
"Ayah kaisar, saya akan membawa permaisuri An ke kamar terlebih dulu." Ucap pangeran Rong.
"Iya, dia memang harus lebih banyak beristirahat."
"Baik, terima kasih ayah kaisar."
Pangeran Rong membawa permaisuri An keluar dari aula istananya, dan berjalan menuju kamar mereka.
"Istirahatlah, dan berhenti memikirkan hal yang membuat mu tidak nyaman. Karena aku yang akan menghadapi mereka semua." Ucap pangeran Rong pada permaisuri An dengan pelan setelah mereka tiba di dalam kamar.
"Katakan pada saya, apa kesalahan saya dan ibu kepada mereka? Kenapa mereka melakukan hal itu terhadap saya dan ibu?"
Pangeran Rong hanya bisa memeluk permaisuri An untuk menenangkannya. Karena dia juga tidak mengerti jalan pikiran keluarga Xia.
"Aku akan melindungimu, walaupun seluruh keluarga bangsawan ingin menyerang. Aku akan berada di depan untuk melawan mereka, jadi kau jagan mengkhawatirkan apapun." Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An hanya bisa mengangguk, dan meneteskan air matanya dalam pelukan pangeran Rong.
...----------------...
Braaaaaak!
"Apa kalian menganggapku sudah mati! Beraninya kalian memberikan hadiah seperti itu kepada permaisuri An!" Seru tetua pertama pada keluarga Xia yang ada di dalam aula besar.
"Kalian sungguh tidak mendengarkan apa yang aku katakan." Ucap tetua ke 3.
"Saat ini dia adalah satu-satunya harapan kita, jika anak yang ada dalam perutnya adalah laki-laki, bukankah kita akan memiliki penerus di keluarga ini?" Ucap tetua yang memberikan hadiah pada permaisuri An (tetua ke 2).
"Lancang! Dia adalah seorang permaisuri. Walaupun dia bagian dari keluarga Xia, dan kita merupakan keluarga bangsawan, tetapi kita tidak bisa melakukan hal itu. Apa kalian ingin keluarga Xia ini hancur oleh pangeran Rong!"
Semua tetua dan para anak cucu yang berada di aula besar kediaman Xia terdiam.
"Permaisuri An telah mengatakan hal seperti itu, yang artinya dia tidak akan pernah membiarkan anaknya mendatangi kediaman ini, kemungkinan dia juga pasti tidak akan membiarkan salah satu dari keluarga Xia mengunjunginya lagi. Kalian benar-benar telah membuat lembah kebencian pada permaisuri An menjadi lebih lebar dari sebelumnya." Ucap tetua pertama lagi.
"Ayah, bagaimana bisa ayah melakukan itu. Kau sungguh membuatku kecewa." Ucap salah satu anak dari tetua ke 2.
Para tetua lain yang setuju untuk memberikan hadiah itu pada permaisuri An terdiam, saat ini mereka tentu tidak tahu apa yang harus di lakukan. Karena apa yang di katakan oleh tetua pertama tadi benar, jika permaisuri An pasti tidak akan lagi mau menemui mereka, atau mengajak anaknya berkunjung ke kediaman Xia.
"Apa yang di katakan oleh kakak pertama memang benar, tetapi kita juga tidak mempunyai pilihan lain. Jika anak itu adalah laki-laki, maka keluarga kita akan memiliki penerus." Ucap tetua ke 4.
Saat ini keluarga Xia tidak lagi memiliki pilihan, apa yang telah mereka lakukan sudah membuat permaisuri An dan juga keluarga kerajaan merasa marah dan kecewa pada mereka, dan sudah di pastikan. Mereka akan kesulitan untuk membujuk permaisuri An.
"Tidak bisa, kita harus melakukan sesuatu. Kita tidak mungkin membiarkan keluarga ini tidak memiliki penerus. Walaupun kakak pertama dan adik ketiga menentang, kita harus melakukan sesuatu." Ucap tetua ke 2.
Meski tetua ke 2 dan ke 4 telah mendapat teguran dari kakak mereka, namun mereka tidak ingin jika anak laki-laki yang cacaat dari selir tetua ke 3 yang menjadi penerus keluarga Xia, karena dia adalah cucu laki-laki satu-satunya di keluarga itu.
...----------------...
Keesokan harinya, di dalam kamar permaisuri An, Feng Ying tengah menemani dan juga membantu memijat tangan permaisuri An.
"Yang mulia, apa yang sedang anda pikirkan? Anda terlihat tidak baik akhir-akhir ini." Ucap Feng Ying.
"Aku tidak apa-apa. Feng Ying, tolong ambilkan manisan buah persik dari bibi Xiao kemarin."
"Baik yang mulia."
Feng Ying berjalan menuju ruang penyimpanan makanan yang berada di sisi lain kamar permaisuri An, untuk mengambilkan manisan buah persik yang permaisuri An inginkan.
"Yang mulia, anda belum memakan apapun setelah tadi pagi. Apakah anda akan baik-baik saja memakan manisan yang terlihat agak asam ini?" Ucap Feng Ying saat dia telah kembali dengan satu piring manisan persik.
"Tidak apa-apa, aku sedang ingin memakan manisan itu."
Feng Ying mengangguk, "Baiklah jika begitu."
Dengan pelan Feng Ying meletakan manisan yang dia bawa di atas meja, lalu kembali memijat tangan permaisuri An.
Permaisuri An memakan manisa itu, rasa asam dari manisan buah persik itu tidak di rasakan oleh permaisuri An. Bahkan Feng Ying yang melihatnya, seperti merasakan rasa asam itu.
"Feng Ying, apa kau ingin mencobanya?" Ucap permaisuri An.
"Tidak yang mulia, saya tidak mau."
"Ini cukup manis, dan juga baik untuk pemulihan tenagamu yang setiap hari berjalan kesana kemari."
"Tidak perlu, yang mulia. Saya bisa membuat sup gingseng yang pernah yang mulia ajarkan kepada saya."
"Baiklah jika begitu."
Permaisuri An kembali memakan manisan buah persik itu dengan tenang.
"Apa kau sudah memakan sesuatu sebelum makan manisan itu, permaisuri?" Ucap pangeran Rong yang masuk ke dalam kamar.
"Yang mulia."
Feng Ying yang melihat pangeran Rong datang, segera berdiri dan akan keluar.
"Kau tetap disini, dan kembali melakukan apa yang kau lakukan pada permaisuri An." Ucap pangeran Rong pada Feng Ying.
"Baik, yang mulia."
Pangeran Rong berjalan mendekati permaisuri An lalu duduk di sampingnya.
"Katakan padaku, apa kau sudah memakan sesuatu terlebih dulu?" Ucap pangeran Rong pada permaisuri An lagi.
"Saya sedang tidak ingin memakan apapun, yang mulia."
"Lalu, manisan ini?"
"Saat ini, hanya manisan ini yang ingin saya makan."
Pangeran Rong menatap permaisuri An dengan bingung, sebab sekarang permaisuri An hanya ingin memakan manisan persik saja.
"Apa perutmu akan baik-baik saja?" Ucap pangeran Rong.
"Tentu saja, yang mulia. Saya akan baik-baik saja."
Pangeran Rong hanya mengangguk, dan tetap menatap permaisuri An yang tengah memakan manisan buah persik itu.