Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #78


"Apakah kalian akan terus berdiri disana? Lihatlah kakak iparku sudah kepanasan."


Pangeran Rong, permaisuri An dan juga pangeran ketiga menoleh. Mereka melihat oangeran ke 5 berjalan mendekati mereka.


"Bagaimana kabarmu?" Ucap pangeran ketiga pada pangeran ke 5.


"Semuanya baik, begitu juga denganku."


"Itu bagus."


"Kakak ipar, maaf karena saya belum mengunjungi kakak ipar dan kakak di istana kalian." Ucap pangeran ke 5 pada permaisuri An.


"Tidak apa-apa, pangeran ke 5."


"Jadi apakah hari ini kalian akan ke paviliun, untuk mengunjungi nyonya Xia?"


"Benar, sekaligus kami juga akan tinggal disana." Ucap pangeran Rong.


"Jika begitu, apakah kakak akan melepaskan tugas kakak jika ada peperangan."


"Itu tidak mungkin, kesejahteraan rakyat merupakan hal yang utama."


"Tetapi kakak ipar....."


"Pangeran ke 5, saya bukan hanya menikahi seorang pangeran. Tetapi saya juga menikahi seorang dewa perang, yang selalu berada di barisa terdepan setiap kali ada peperangan, tentu saja kita tidak akan diam jika ada negara yang memusuhi kita terlebih mereka telah mengibarkan pendera perangnya." Ucap permaisuri An.


Pangeran ketiga dan pangeran ke 5 mengangguk, jawaban yang di berikan permaisuri An cukup memuaskan.


"Kalian tidak perlu lagi menguji permaisuri ku, dia pernah ikut berperang denganku, bahkan aku hampir kehilangan dia. Tidak akan ada wanita yang sama sepertinya." Ucap pangeran Rong.


"Baik, kami sangat mengerti." Ucap pangeran ke 5.


"Baiklah, karena kalian berdua akan keluar dari istana. Maka aku akan mengantarkan kalian berdua." Ucap pangeran ketiga.


"Apakah pasukan yang sedang kau latih, bisa kau tinggalkan begitu saja?" Ucap pangeran Rong pada pangeran ketiga.


"Aku baru saja melihat mereka, dan aku yakin beberapa bulan lagi, mereka sudah siap berada di barisan terdepan saat berperang."


Pangeran Rong mengangguk, "Bagus jika seperti itu, kerahkan terus kekuatan mereka."


"Iya, kau telah memiliki seorang istri. Aku tidak akan membiarkan istrimu sendirian lebih lama, jadi aku hanya bisa membantu mu dengan pasukan yang aku latih, agar bisa bertahan di peperangan."


Pangeran Rong mengangguk.


"Hanya saja, saya berharap tidak akan ada lagi peperangan." Ucap permaisuri An.


"Iya, apa yang kau katakan benar. Aku juga menginginkan hal tersebut."


Permaisuri An mengangguk.


"Baiklah, kami harus pergi sekarang. Ibu pasti sudah menunggu di paviliun." Ucap pangeran Rong.


"Iya, aku akan mengantarmu."


"Aku juga akan ikut mengantar kakak dan kakak ipar." Ucap pangeran ke 5.


Ke empat orang itu berjalan keluar dari taman istana, dan terus berjalan hinnga sampai di depan istana kerajaan Chao.


"Yang mulia, apakah anda sudah yakin, akan mengikuti saya tinggal di luar istana?" Ucap permaisuri An.


"Tentu saja, apa yag telah aku katakan tidak akan aku ulangi dan aku akan selalu mencoba menepatinya."


"Yang mulia."


"Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan siapapun pun menyakiti mu."


Permaisuri An hanya mengangguk.


Kereta kuda yang akan membawa mereka ke paviliun datang. Kaisar, ratu dan semua anggota kerajaan melihat pangeran Rong dan permaisuri An bersiap akan menaiki kereta kerajaan yang akan membawa mereka ke paviliun yang di tinggali oleh nyonya Xia.


"Apa kau bahagia? Kau pasti sudah merindukan ibu." Ucap pangeran Rong pada permaisuri An.


"Benar, saya sudah merindukan ibu saya. Bahkan masakannya pun saya merindukannya."


"Setelah ini, kita akan bersama tinggal bersama dengan ibu. Jadi kau tidak perlu memikirkan hal lain lagi. Karena kita berdua sudah pergi dari istana, dan tentu saja para menteri telah mengetahuia hal itu."


Permaisuri An mengangguk "Yang mulia, jika saja kau bukan anggota kerajaan, pasti aku juga akan ikut serta kemanapun anda inginkan."


Setelah pangeran Rong dan permaisuri An berpamitan dengan semua anggota kerajaan, mereka pergi ke paviliun menggunakan kereta kuda kerajaan yang telah siap.


Di dalam kereta kuda, permaisuri An tidak berkata apa-apa, dia lebih memilih diam.


"Setelah kembali ke paviliun, kami akan menjalani kehidupan kami seperti rakyat biasa. Aku berharap dia akan terus seperti ini."


Tiba di depan paviliun, pangeran Rong dan permaisuri An turun dari kereta kuda. Para rakyat yang melihat mereka mengangguk dan mereka terlihat bahagia.


Dengan pelan pangeran Rong dan permaisuri An memasuki pintu gerbang paviliun, dan di dalam paviliun semua para pelayan dan pengawal berdiri menyambut mereka.


"Salam kepada yang mulia pangeran Rong dan yang mulia permaisuri An. Semoga yang mulia panjang umur dan sejahtera." Ucap para pelayan dan pengawal secara bersamaan.


Permaisuri An mengangguk, "Baik, terima kasih."


Pangeran Rong membawa permaisuri An ke dalam aula paviliun, disana sudah ada nyonya Xia, dan keluarga Xiao yang telah menganggap permaisuri An keluarga mereka sendiri.


Sepasang suami istri baru ini lalu berjalan memasuki aula paviliun bersamaa, dan berjalan mendekati ibu mereka.


"Salam kepada ibu, semoga ibu panjang umur dan selalu berbahagia." Ucap pangeran Rong dan permaisuri An bersamaan.


Nyonya Xia yang melihat itu sangat bahagia.


"Berdirilah kalian, aku sangat bahagia karena akhirnya kalian telah datang." Ucap nyonya Xia.


Pangeran Rong dan permaisuri An menegakkan kembali badan mereka.


Nyonya Xia berdiri dan berjalan mendekati anak dan juga menantunya itu.


"Aku berharap kalian akan selalu berbahagia, dan tidak akan ada orang yang berusaha membuat kalian memiliki kesalahpahaman." Ucap nyonya Xia.


"Terima kasih ibu, saya berjanji itu tidak akan pernah terjadi." Ucap pangeran Rong.


Nyonya Xia mengangguk.


Setelah itu mereka duduk bersama di dalam aula dan membicarakan banyak hal. Karena di sana juga ada keluarga Xiao.


Setelah berbicara cukup waktu, sekarang pangeran Rong dan permaisuri An akan pergi ke kamar mereka, yang semula adalah kamar permaisuri An.


Feng Ying, pelayan setia permaisuri An, mengantarkan mereka berdua ke kamar itu.


Kraaaaaak


Pintu kamar terbuka, pangeran Rong dan permaisuri An berjalan masuk ke dalam.


"Apakah kamarku di perbesar?" Ucap permaisuri An yang merasa kamarnya terlihat sedikit lebih luas.


"Tidak, yang mulia. Ibu anda hanya memindahkan sebagian barang-barang yang berada di dalam kamar, lalu menggantinya dengan barang yang lain." Ucap Feng Ying.


Permaisuri An mengangguk, dia merasa kamarnya telah banyak berubah. Mungkin karena dia telah menikah dengan pangeran Rong dan akan tinggal di paviliun itu, sehingha sedikit ada perubahan.


"Baiklah, kau minta koki untuk menyiapkan makanan." Ucap pangeran Rong pada Feng Ying.


"Bai yang mulia."


Feng Ying keliar dari kamar, untuk memberitahu koki paviliun agar segera memasak makanan.


"Aku merasa kamarmu sangat nyaman, permaisuri." Ucap pangeran Rong.


"Benar, tetapi sebelumnya ini tidak terlihat begitu luas seperti saat ini."


"Tidak apa-apa, ibu pasti mengubahnya sedikit."


"Benar."


Pangeran Rong tersenyum dan mengangguk.