
"Yang mulia, saat ini semuanya telah selesai. Dia juga telah mati dengan kematian yang sangat tidak baik, saya mohon kepada yang mulia agar tidak lagi bersedih, dan memendam dendam yang anda rasakan saat ini." Ucap Feng Ying.
"Feng Ying, katakan padaku. Seorang permaisuri negara telah membunuh dua orang, dan salah satunya adalah orang yang berharga bagi sebuah negara laij. Apa yang akan di katakan oleh para perdana menteri itu kepada ayah kaisar dan pangeran Rong?"
Feng Ying hanya bisa diam, karena dia tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan permaisuri An.
Kraaaaak
Pintu kamar terbuka, pangeran Rong datang dengan pakaian yang sudah berganti. Sementara di belakangnya ada seorang pelayan istana membawakan makanan untuk permaisurinya.
"Kau keluarlah dulu, biar aku yang akan membantu permaisuri menyisir rambutnya." Ucap pangeran Rong pada Feng Ying.
"Baik, yang mulia." Feng Ying dan pelayan yang membawa makanan itu kemudian berjalan keluar, meninggalkan pangeran Rong dan permaisuri An di dalam.
Pangeran Rong berjalan mendekati permaisuri An, lalu mengambil sisir yang ada pada tangan permaisurinya itu.
"Katakan padaku, apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa aku mendengar kau menyebut perdana menteri?" Ucap pangeran Rong seraya menyisir rambut permaisuri An.
"Yang mulia, mohon untuk tidak melakukan hal ini. Saya bisa melakukannya sendiri."
"Tidak, aku ingin melakukannya padamu. Maka aku akan melakukan."
Permaisuri An terdiam, dan hanya bisa menatap wajahnya dari pantulan cermin kecil.
"Setelah ini kau bisa makan, aku telah meminta koki istana membuatkan mu sup kacang dengan gingseng." Ucap pangeran Rong lagi.
"Baik, saya mengerti."
Pangeran Rong tersenyum mendengar ucapan permaisuri An.
Pangeran Rong menyisir rambut permaisuri An yang cukup panjang tetapi sangat lembut itu, dia merasa begitu terpesona melihat wajah permaisuri An yang tanpa riasan apapun pada cermin. Meskipun wajah itu menampakan sebuah kesedihan yang tidak bisa di sembunyikan.
"Saat hari ke 7, aku akan membawamu ke makam ibu. Beliau pasti sangat ingin kau kesana." Ucap pangeran Rong.
"Feng Ying berkata, jika bibi Xiao dan kak Ming Yu selalu datang ke makam ibu."
"Aku mengerti, hal ini pasti sangat tidak adil dan membuat mu begitu terpukul. Tetapi kau pasti tahu bagaimana peraturan di dalam istana ini."
Permaisuri An mengangguk, "Iya, saya sudah mengerti akan hal itu."
"Jadi berhentilah bersikap seperti ini. Karena aku benar-benar tidak mengerti bagaimana harus membuatmu lebih baik."
"Yang mulia, saya tidak apa-apa. Yang mulia tidak perlu...."
"Makanan yang di buat oleh koki istana sudah disini, aku akan menemani mu makan." Ucap pangeran Rong yang tidak ingin mendengar alasan apapun dari permaisurinya.
Permaisuri An mengangguk, dia mengerti jika pangeran Rong tidak ingin berdebat dengannya.
Dengan hati-hati pangeran Rong membantu permaisuri An berdiri dan berjalan ke arah meja yang berada di dalam kamar itu.
"Bagaimana dengan mayaat Liu Feng Ying dan pangeran itu?" Ucap permaisuri An.
"Liu Feng Ying akan di makamkan di pemakaman pengasingan, sementara pangeran yang telah kau bunuh, akan menjadi sebuah alat tukar yang bisa membuat negara ini sedikit berkembang dan sedikit lebih baik. "
Permaisuri An mengangguk, "Liu Feng Ying, kau sendiri yang telah meminta kematian yang seperti ini. Jadi kau memang
pantas menerima perlakuan pemakaman yang seperti itu."
Pangeran Rong mengambilkan sepotong daging ikan, lalu meletakannya di atas mangkuk permaisuri An.
"Yang mulia." Ucap permaisuri An.
"Aku tahu jika saat ini kau tidak ingin memakan apapun. Tetapi kau tetap harus memiliki kekuatan untuk bertahan."
"Permaisuri ku, kau tidak perlu memikirkan hal itu. Aku dan ayah kaisar telah memiliki rencana."
"Apakah benar seperti itu?"
"Iya, jadi makanlah dengan baik."
Permaisuri An merasa ada sesuatu yang janggal pada pengeran Rong, namun dia mengerti jika pangeran Rong juga pasti memiliki sebuah rahasia sendiri.
Dengan perlahan permaisuri An dan pangeran Rong memakan makanan yang telah di siapkan oleh koki istana.
...----------------...
Braaaaak!
"Kurang4jar! Beraninya negara Chao membunuh putra ketiga ku! Aku akan membalas kalian semua, terutama orang yang telah membunuh putraku."
Seorang kaisar begitu murka setelah mendengar jika semua pasukan yang putranya bawa telah mati, bukan hanya pasukannya saja, tetapi putranya dan dua panglima perang pun terbunuh.
Kerajaan mereka yang telah mengibarkan bendera perang pertama kali, merasa harus membalas kekalahan mereka pada negara Chao.
"Kali ini kita telah kalah, dan anak itu. Aku sudah membawakannya pasukan begitu banyak dan hebat, tetapi masih kalah dan juga membuatnya mati." Ucap kaisar itu lagi.
Tap tap tap
"Ayah kaisar, ketika saya akan kesini. Saya melihat seorang pengawal membawakan sebuah pesan." Ucap pangeran ke 4 negara itu.
Kaisar mengambil lalu membaca surat yang berada di tangannya.
"Kurang4jar! Kaisar negara Chao benar-benar sudah membuatku sangat membencinya!" Seru kaisar itu.
"Ayah, apa yang telah terjadi. Dan apa yang tertulis pada surat itu?" Ucap pangeran ke 4.
"Mereka telah membunuh pangeran ketiga, dan mereka berkata jika tidak ingin rakyat negara ini tahu bagaimana pangeran ketiga mati, maka kita harus datang ke negara Chao."
"Ayah, ini pasti sebuah jebakan."
Kaisar itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, karena sepertinya kaisar negara Chao menulis surat ini sendiri. Dia ingin aku pergi ke kerajaannya untuk membicarakan sesuatu."
"Jika begitu, maka saya akan mengikuti ayah."
Kaisar mengangguk, kedua tangannya m*rem4s surat yang berada di dalam kamarnya.
"Kaisar Chao, beraninya kau ingin melakukan kesepakatan dengan ku. Sampai kapan pun, kau tidak akan bisa melakukannya." Ucap kaisar itu.
Saat ini jasaad salah satu putranya berada di tangan kerajaan Chao, dan jika sampai dua hari kaisar itu tidak melakukan sesuatu, maka dia tidak akan pernah bisa mendapatkan jasaad putranya itu.
Bagi sebuah kerajaan, hal tersebut akan menjadi sebuah pertanyaan dan tentu saja akan menjadi salah perdebatan para menteri kerajaan dan juga rakyat.
"Ayah kaisar. Ayah kaisar, apakah benar jika adik ke 3 mati dalam peperangan dan mayatnya tidak di temukan?" Ucap Salah seorang pangeran yang baru saja datang.
"Itu benar, pangeran Rong telah mengambil mayaat adikmu, dan kaisar Chao ingin membuat kesepakatan dengan negara kita, jika kita menginginkan mayaat adikmu."
"Bagaimana bisa kaisar Chao melakukan hal itu?"
"Kita kalah dalam peperangan, dan tentu saja itu membuat kerajaan yang menang memiliki kesempatan untuk memperluas wilayah atau meminta apapun dari kita. Dan aku yakin kaisar negara Chao akan meminta 2 kota yang berada di luar kerajaan kita ini."
"Dua kota yang berada di luar kerajaan kita merupakan kota yang paling bagus tanahnya, kita tentu tidak bisa memberikannya."
"Kau benar, tetapi kita sendiri yang telah mebgibarkan bender a perang dengan negara Chao, dan kita juga telah kalah. Dan tentu saja kita tidak mungkin membiarkan mayaat adikmu tetap berada di kerajaan Chao."
Pangeran itu mengangguk, dia yang tidak pernah melangkahkan kakinya di medan perang tentu saja tidak mengerti.