
"Fang Yin pasti telah bertemu dengan seseorang lalu bekerjasama dengan orang tersebut. Tetapi, siapa orang yang telah membantu Fang Yin?" Ucap permaisuri An.
Selama beberapa saat, permaisuri An terus berusaha mengobati nyonya Xia. Dia juga memberikan akupuntur kepada ibunya itu.
Kondisi ibunya semakin menurun, karena dia sendiri tidak tahu apa yang telah ibunya makan yang ada di dalam kue itu.
"Jika saja aku memiliki kue itu, aku pasti bisa mencari obatnya. Namun denyut nadi ibu sedikit berbeda dari denyut nadi orang yang keracunan. Sebenarnya apa yang telah ibu makan?"
Permaisuri An keluar dari kamar nyonya Xia, dia ingin mengingat-ingat obat apa saja yang dapat menimbulkan efek yang cukup berbahaya bagi manusia, yang tentunya sulit untuk di ketahui.
Yang membuat permaisuri An sangat khawatir, dia tidak dapat menemukan obat untuk ibunya. Sehingga kondisi ibunya akan semakin tidak baik.
"Aku harus segera mencari obat itu." Ucap permaisuri An.
Permaisuri An benar-benar tidak mengerti dengan apa yang telah Fang Yin dan ibunya lakukan kepada mereka, selama ini Fang Yin dan ibunya telah menindas istri dan anak sah di kediaman tuan Liu.
Dan setelah Fang Yin juga selir Qian mendapatkan hukumannya, mereka melarikan diri dan membalas dendam atas apa yang mereka dapatkan.
"Mereka benar-benar seperti duri yang menancap pada kaki harimau." Ucap permaisuri An.
Permaisuri An duduk di kamarnya, dia tengah memikirkan apa yang harus dia lakukan terhadap ibunya, sebab dia tidak mengingat perihal obat dengan denyut nadi yang nyonya Xia miliki saat ini.
"Yang mulia, ini saya." Ucap Feng Ying dari luar pintu.
"Kemarilah."
Tak berapa lama, setelah mendengar suara permaisuri An dari dalam kamar. Pintu terbuka dan Feng Ying masuk ke dalam kamar itu.
"Ada apa?" Tanya permaisuri An.
"Yang mulia, bibi Hong berkata kepada saya, jika nyonya kembali terbatuk dan mengeluarkan banyak daraah."
Kedua mata permaisuri An terbuka lebar, "Apa? Ibu mengeluarkan lebih banyak daraah?"
"Benar, yang mulia."
"Cepat, ikut dengan ku. Kita ke kamar ibu sekarang."
Permaisuri An berjalan dengan cepat menuju kamar nyonya Xia, di ikuti oleh Feng Ying di belakangnya.
"Ibu, ibu. Apa yang terjadi pada ibu?" Ucap permaisuri An.
Permaisuri An melihat ibunya memejamkan kedua matanya, lalu menatap bibi Hong seolah mencari jawaban dari pelayan setianya itu.
Namun bibi Hong diam, hanya sesekali mengusap air matanya dengan lengan pakaiannya.
Permaisuri An duduk di samping ibunya, lalu menggenggam tangan putih itu.
"Ibu, Lin'er akan mencarikan obat untuk ibu. Lin'er pasti akan membuat ibu pulih seperti semula lagi." Ucap permaisuri An.
Tidak ada jawaban dari nyonya Xia, terlihat kedua mata permaisuri An berkaca-kaca saat melihat wajah ibunya yang putih tengah memejamkan matanya.
Tetapi tak berapa lama, air mata yang tidak bisa lagi dia bendung akhirnya keluar dengan deras.
"Ibu, bagaimana bisa ibu meninggalkan Lin'er sendirian? Ibu, bukankah kemarin ibu berkata jika ibu akan selalu baik-baik saja? Ibu, Lin'er mohon buka kembali kedua mata ibu. Ibu, ibu." Ucap permaisuri An dengan nada bergetar.
Permaisuri An seketika menangis, dia memeluk tubuh ibunya sambil terisak. Ini adalah kedua kali dalam dua kehidupan dia merasakan kehilangan seorang ibu yang dia cintai.
"Ibu, kenapa ibu tidak mau berbicara dengan Lin'er lagi? Ibu, ibu. Lin'er mohon bangunlah ibu." Ucap permaisuri An lagi di tengah isakannya.
Bibi Hong dan Feng Ying hanya bisa turut menangis di samping kamar, melihat permaisuri An terisak di depan ibunya yang telah meninggalkannya, setelah beberapa hari kondisi tubuhnya memburuk.
Permaisuri terus menangis di depan jasad ibunya yang tidak memberikan respon apapun kepadanya.
"Bibi Hong, Feng Ying, kalian siapkan pemakaman untuk ibuku." Ucap permaisuri An.
"Baik yang mulia."
Sementara permaisuri An masih duduk di depan ibunya, menatap wajah wanita cantik yang sudah tidak bernyawa itu.
"Ibu, bagaimana bisa mereka begitu kejam terhadap mu? Bagaimana bisa seseorang memiliki hati yang begitu rendah, sehingga tega melakukan hal seperti itu padamu? Kau adalah wanita yang sangat baik, tetapi mereka memperlakukan mu seperti ini." Ucap permaisuri An.
Kembali air mata permaisuri An mengalir, perasaan kehilangan yang dulu dia rasakan kembali lagi. Perasaan kehilangan yang sungguh menyayat.
"Selir Qian, Feng Ying. Aku bersumpah akan membalas apa yang telah kalian lakukan kepada ibuku. Tidak akan aku melepaskan kalian, meski aku harus bertarung dengan kalian berdua sekali lagi."
Feng Ying masuk ke dalam kamar nyonya Xia.
"Yang mulia, yang mulia ratu dan putri datang mengunjungi anda." Ucap Feng Ying.
Permaisuri menoleh, "Yang mulia ratu dan yang mulia putri?"
"Benar yang mulia."
"Persilahkan mereka masuk."
"Baik yang mulia."
Ratu dan putri masuk ke dalam kamar nyonya Xia dengan tergesa-gesa, setelah mendengar kabar dari Feng Ying yang sedang mempersiapkan pemakaman untuk nyonya Xia di halaman paviliun.
"Ibu ratu, putri." Ucap permaisuri An.
"Permaisuri An."
Ratu segera memeluk menantu perempuannya itu, dia turut bersedih atas kematian nyonya Xia. Karena bagaimana pun dulu mereka merupakan teman yang cukup dekat.
"Ibu ratu."
"Tenangkan dirimu, aku mengerti bagaimana perasaan mu sekarang."
Ratu menepuk punggung permaisuri An dengan pelan beberapa kali, mencoba memberikan kekuatan kepada menantunya yang tengah kehilangan ibunya itu.
Permaisuri An tidak menjawab, mulutnya seolah terdiam dan tidak bisa berkata apapun. Kesedihan yang dia rasakan benar-benar membuatnya sangat rapuh.
Terlebih saat ini pangeran Rong sudah berada di perbatasan timur, dan tengah menghadapi peperangan.
"Permaisuri An, kau masih memiliki kami." Ucap putri Xiu Ying.
Ratu melepaskan pelukan mereka dan menatap permaisuri An, yang kedua matanya sudah terlihat agak bengkak.
"Sakit, hidup, mati. Langit telah menentukan semuanya, jadi kau harus bisa menenangkan ." Ucap ratu seraya menggenggam tangan permaisuri An.
"Apa yang di katakan oleh ibu ratu benar, tetapi kematian ibu saya adalah karena Liu Fang Yin. Dia memerintahkan seseorang untuk memberikan makanan yang mengandung obat, dan saya tidak mengetahui jenis obat tersebut." Ucap permaisuri An.
"Liu Fang Yin, putri tuan Liu bersama dengan selirnya?" Ucap putri Xiu Ying dengan terkejut.
"Benar, seorang pelayan yang telah memberikan kue kepada ibu saya telah mengakuinya, dan saat ini dia berada di dalam sebuah gudang paviliun."
"Berani sekali dia melakukan hal seperti itu."
"Dia memiliki sifat yang sangat kejam seperti ibunya, saya mengira setelah pangeran Rong mengirim mereka berdua ke pengasingan, mereka tidak akan pernah melakukan apapun lagi terhadap saya dan ibu saya, tetapi...."
Ratu yang masih menggenggam tangan permaisuri An, merasa turut bersedih. Dulu ketika dia mendengar bagaimana perlakuan tuan Liu kepada nyonya Xia dan permaisuri An, dia sudah sangat ingin membuat tuan Liu menceraikan nyonya Xia.
Hanya saja ratu tidak memiliki hak apapun untuk melakukan hal tersebut, meskipun dia dapat menggunakan kekuasaannya.
"Lebih baik saat ini, kita segera memakamkan nyonya Xia. Dan kita berdoa, semoga langit akan mempertemukanmu kembali dengan nyonya Xia di kehidupan kalian berikutnya." Ucap putri Xiu Ying.
"Benar, aku akan meminta seseorang melakukan pemakaman terbaik untuk Wei Yi." Ucap ratu.
Permaisuri An mengangguk, "Baik ibu ratu."
Putri Xiu Ying sangat bersimpati terhadap kehidupan permaisuri An, terlebih saat ini ketika ibunya meninggal, pangeran Rong justru sedang menghadapi peperangan di perbatasan.