
Sraaaaang!
Permaisuri An menarik pedang yang ada padanya, dan berjalan mendekati pangeran negara musuhnya itu.
Traaaang!
Suara nyaring karena bertemunya dua pedang terdengar, pangeran negara itu menatap permaisuri An yang tiba-tiba menyerangnya.
"Kau harus mati di tanganku, karena kau telah membantu Liu Fang Yin." Ucap permaisuri An.
Pangeran negara itu sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh permaisuri An padanya.
"Jadi kau permaisuri dari pangeran Rong itu? Aku tidak akan segan lagi, karena kau telah menyerangku lebih dulu." Ucap pangeran itu.
Pertarungan permaisuri An dan pangeran itu tidak bisa di elakan lagi, sementara pangeran Rong tengah bertarung dengan panglima perang negara musuh.
Pangeran itu tidak mengetahui jika permaisuri An bukanlah seorang wanita biasa, dan seorang permaisuri yang lemah. Sehingga dia meremehkan permaisuri An.
Traaaaaaang!
Traaaaaaang!
Syuuuuuuuut.
Pangeran itu dan permaisuri An menghentikan pertarungan mereka, lalu mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Permaisuri, kau terlihat cantik dengan rambut yang seperti itu." Ucap pangeran itu saat melihat rambut permaisuri An tergerai karena jepit rambutnya berhasil di lepas.
"Terima kasih, tetapi sayangnya kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi."
"Apa.... Apa maksud....."
Bruuuuuuuk
Pangeran dari negara musuh jatuh di atas tanah, dia tidak menyadari jika dadanya tengah tertusuk oleh jarum beracun dari permaisuri An.
"Kau akan merasakan rasa sakit itu dengan perlahan, dan kau akan mati setelah itu. Jadi nikmatilah saat kematian mu." Ucap permaisuri An.
Traaaaaang!
Jleeeeb!
Pangeran Rong berhasil menancapkan pedangnya dan membuat panglima perang negara itu mati seketika.
Melihat pangeran dan panglima perang mereka telah mati, semua pasukan negara itu berlari tanpa arah karena tidak ingin mati disana. Mereka melakukan itu, sebab mereka tahu jika mereka telah kalah dalam peperangan.
"Tangkao semuanya, dan bawa mereka ke istana." Ucap pangeran Rong pada Xiao Bo yang juga telah membunuh begitu banyak pasukan musuh.
"Baik, yang mulia."
Permaisuri An melihat pangeran itu yang telah tergeletak tak bernyawa di depannya.
"Ibu, aku telah membalas perbuatan mereka. Aku mohon, ibu harus bahagia di kehidupan ibu setelah ini." Ucap permaisuri An.
Pangeran Rong berjalan mendekati permaisurinya.
"Lin'er." Ucap pangeran Rong.
"Yang mulia, saya.... Saya telah membunuhnya, dia tidak akan lagi bisa menyelamatkan Liu Fang Yin yang telah sekarat itu."
Pangeran Rong mengangguk lalu memeluk permaisurinya, "Iya, aku bisa melihatnya. Aku akan memberitahu pada ayah kaisar mengenai hal ini."
"Yang mulia, saya telah membunuhnya. Dan Liu Fang Yin, saya akan membuatnya menyesal karena telah melakukan semua hal yang kejam itu."
Saat ini permaisuri An merasa sedikit lega, karena orang yang sudah membantu Fang Yin melakukan rencana untuk membunuh ibunya, telah terkapar tak bernyawa.
"Kali ini, kita telah menenangkan peperangan. Dan telah mengalahkan pangeran juga dua panglima perang negara mereka." Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An hanya mengangguk, dan tak terasa air matanya mengalir. Dia merasa dadanya terasa sesak, mengingat kematian ibunya yang baru kemarin di makamkan.
Pangeran Rong yang merasakan tubuh permaisurinya gemetar, segera mengangkat tubuh kecil permaisuri An dan membawanya masuk ke dalam tenda.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan berbicara dengan ayah kaisar." Ucap pangeran Rong seraya mendudukan permaisuri An pada sebuah kursi di dalam tenda.
"Aku telah memberikan sedikit hukuman pada Liu Fang Yin, tetapi sepertinya dia tidak pernah mau mengakui kesalahannya."
"Tidak apa-apa, kau bisa melakukan apapun terhadap wanita itu."
Permaisuri An menatap pangeran Rong, dia merasa begitu beruntung memiliki suami yang berdiri di sampingnya, yang selalu melindungi dan juga akan melakukan apapun untuk kehidupan mereka kelak.
"Kita akan kembali setelah pasukan mengambil semua barang-barang yang telah mereka bawa."
Di luae tenda, seorang prajurit yang di menemani permaisuri An tadi berjalan ke arah tenda besar pangeran Rong.
"Yang mulia, ini hamba." Ucap prajurit itu.
Pangeran Rong dan permaisuri An berjalan keluar tenda.
"Kau, ada apa yang datang kemari?"
"Maaafkan kami yang mulia, wanita itu telah mati di dalam rumah kayu." Ucap prajurit dengan sedikit takut.
"Jadi dia tidak bisa menahannya?"
"Hamba tidak tahu pasti, yang mulia. Tetapi dari mulutnya keluar banyak daraah."
Permaisuri An mengangguk, "Aku mengerti."
"Kau kembali, dan tetap disana." Ucap pangeran Rong.
"Baik yang mulia."
Prajurit itu lalu bergegas untuk kembali ke rumah kayu dimana Fang Yin berada.
"Pada akhirnya dia mengerti jika dia tidak akan pernah bisa melawan lagi, dan memilih untuk mati dengan racunnya sendiri." Ucap permaisuri An.
"Racun?"
"Benar, sebenarnya saya mengetahui jika dia menyembunyikan sesuatu di dalam mulutnya. Tetapi saya membiarkannya, karena saya ingin melihat seberapa kuat dia ingin bertahan hidup. Namun dia memilih jalan itu."
Pangeran Rong memeluk permaisuri An, "Semuanya telah selesai, ibu pasti sangat bahagia."
Permaisuri An mengangguk, tetapi sesaat kemudian tubuhnya gemetar dalam pelukan pangeran Rong. Dia menangis di dalam pelukan suaminya.
Pangeran Rong yang mendengar tangisan permaisurinya hanya diam, dia ingin semua yang permaisuri An rasakan saat ini di keluarkan. Sehingga tidak ada lagi perasaan yang akan menjadi beban.
"Lebih baik kita kembali, kita telah menenangkan peperangan ini dan ayah kaisar juga ibu ratu pasti telah menunggu di dalam istana." Ucap permaisuri An.
"Baik, tetapi kau sungguh baik-baik saja?"
Permaisuri An mengangguk, "Iya, saya baik-baik saja. Saya hanya mengkhawatirkan Feng Ying, karena dia sendirian di paviliun. Dan kemungkinan ratu memarahinya karena membiarkan saya pergi kesini."
"Aku akan bicara pada ibu ratu setelah kita kembali, kau disinilah dulu. Aku harus melakukan sesuatu sebelum kita kembali."
"Baik."
Pangeran Rong berjalan meninggalkan permaisuri An, dia pergi ke arah utara tenda dimana permaisuri An berada.
Sementara itu permaisuri An kembali masuk ke dalam tenda itu, perasaannya saat ini benar-benar sedikit kacau. Dia telah berhasil membunuh dua orang yang telah menyebabkan ibunya meninggal, tetapi dia memiliki kekhawatiran terhadap pangeran Rong. Karena dia turut melakukan peperangan dan membunuh dua orang itu.
"Aku harus melakukan sesuatu, sehingga jika rakyat telah mengetahui apa telah terjadi, aku bisa menjelaskan semuanya." Gumam permaisuri An.
Permaisuri An menatap kedua lengan pakaian yang dia kenakan, bercak darah akibat membunuh beberapa pasukan musuh dan juga salah satu pangeran dari negara musuh masih sangat jelas terlihat.
"Rasanya cukup sulit, dulu aku hanya harus melemparkan sebuah pisauu kecil atau jarum saja, lalu semua musuhku akan mati. Tetapi disini, aku harus mengerahkan seluruh tenagaku hanya untuk membunuh satu orang saja."
Permaisuri An berjalan lalu duduk di sebuah kursi, dia merasa semua tenaga dalamnya telah terkuras habis saat melawan pangeran dari negara musuh itu.
...----------------...
Maaf untuk sementara ini Xia Lin hanya bisa double up ya, karena pekerjaan Xia Lin sedang menumpuk. Terima kasih atas pengertiannya πππ.