
"Sshhhhh."
Mendengar suara Lin Yao yang sudah bangun dari tidurnya, Feng Ying yang setia berdiri di samping tempat tidur Lin Yao sempat terkejut.
"Yang mulia, anda sudah bangun?" Ucap Feng Ying.
"Feng Ying, tolong bantu aku untuk duduk."
Feng Ying yang mendengar itu mengangguk dan segera membantu Lin Yao.
Lin Yao duduk dengan menutupi sebagian tubuhnya, dia merasa seluruh tubuhnya remuk seperti habis di banting beberapa kali di atas lantai.
"Feng Ying, apakah ini sudah pagi?" Ucap Lin Yao.
"Benar, yang mulia. Semua para pelayan bahkan sudah memulai pekerjaan mereka."
Kedua mata Lin Yao terbuka lebar, ini adalah hari pertama dia tinggal di dalam istana. Dan pagi ini juga dia harus memberi salam pada kaisar dan ratu, tetapi dia bangun terlambat.
" Feng Ying, cepat bantu aku mandi dan bersiap. Aku harus memberi salam pada yang mulia kaisar dan ratu." Ucap Lin Yao.
"Baik yang mulia."
Feng Ying lalu membantu Lin Yao berdiri dan berjalan menuju ruangan samping untuk membersihkan diri.
Sementara di atas tempat tidur, bercak darah terlihat begitu jelas di atas kain berwarna putih yang ada di atas tempat tidur.
Sekitar 10 menit kemudian, Lin Yao masuk kembali ke kamar dengan pakaian yang sudah menempel sempurna pada tubuhnya.
"Yang mulia, saya akan membantu anda menyisir dan menata rambut anda." Ucap Feng Ying.
"Baik, tidak perlu memakai jepit rambut yang begitu banyak. Aku tidak mau yang mulia kaisar dan ratu yang sudah menunggu, semakin menunggu."
"Baik, yang mulia."
Dengan cekatan Feng Ying yang sudah terbiasa menata rambut Lin Yao memulai aksinya.
Kraaaaak
Pintu kamar terbuka, dan pangeran Rong masuk tepat saat Feng Ying memasangkan jepitan rambut terakhir pada rambut Lin Yao.
"Yang mulia." Ucap Lin Yao.
"Apa kau sudah siap untuk memberi salam kepada ayah kaisar dan ibu ratu, permaisuri?" Ucap pangeran Rong pada Lin Yao.
"Yang mulia, anda tahu hari ini kita harus memberikan salam kepada yang mulia kaisar dan yang mulia ratu. Tetapi anda tidak membangunkan saya."
Pangeran Rong tersenyum, "Aku tidak tega untuk membangunkan mu, kau terlihat begitu nyenyak dan kelelahan."
Mendengar itu, Feng Ying menundukan kepalanya dan sedikit tersenyum.
"Yang mulia." Ucap Lin Yao.
"Baiklah, sebaiknya kita pergi ke aula istana sekarang. Semuanya sudah menunggu."
"Semuanya?"
"Benar, setelah kita memberi salam kepada ayah kaisar dan ibu ratu, ayah kaisar berkata jika beliau akan memberikan mu sebuah gelar di depan para perdana menteri."
Lin Yao tertegun.
"Yang mulia, seharusnya anda membangunkan saya lebih awal." Ucap Lin Yao.
Pangeran Rong meraih tangan Lin Yao, "Jangan khawatir, aku akan berbicara pada ayah kaisar dan yang lainnya. Mereka tidak akan berpikir yang tidak-tidak."
"Tetapi yang mulia...."
"Tidak apa-apa, lebih baik kita pergi sekarang."
Lin Yao mengangguk, dia tidak tahu harus berbuat apa. Karena saat ini dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
Dengan menggandeng tangan permaisurinya, pangeran Rong berjalan menuju istana kerajaan untuk menemui kaisar, ratu dan yang lainnya yang telah menunghu mereka di aula istana.
...----------------...
Di dalam aula istana, para perdana menteri yang telah menunggu kedatangan pangeran Rong dan Lin Yao mulai saling berbisik.
Sementara kaisar dan ratu diam sambil melemparkan senyum satu sama lain, karena mereka berharap keterlambatan pangeran Rong dan Lin Yao akan memberikan kabar yang membahagiakan.
"Yang mulia pangeran Rong dan yang mulia permaisuri tiba!" Ucap kepala pengawal istana.
Semua orang menatap ke aarah pintu, dan mereka sangat terkejut melihat pangeran Rong menggandeng tangan Lin Yao serta mereka berjalan beriringan masuk ke dalam aula istana itu.
Kaisar dan ratu yang melihat itu mengangguk dan tersenyum.
"Kami memberi salam kepada ayah kaisar dan ibu ratu, semoga ayah dan ibu panjang umur." Ucap pangeran Rong dan Lin Yao bersamaan sambil memberi hormat.
"Berdirilah kalian, aku senang kalian memberi salam pada kami pagi ini." Ucap kaisar.
"Mohon ampuni saya, yang mulia. Saya membuat permaisuri kurang beristirahat tadi malam. Sehingga kami datang terlambat untuk memberi salam kepada ayah kaisar dan ibu ratu."
Mendengar hal itu, mereka yang memahami apa yang pangeran Rong katakan terkejut. Mereka tidak mengira jika alasan keterlambatan mereka adalah karena hal itu.
"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti hal itu." Ucap kaisar.
"Benar, ibu akan meminta pelayan untuk membawakan lebih banyak gingseng dan tulang sapi ke istana kalian." Ucap ratu.
"Terima kasih atas kebaikan ibu ratu." Ucap pangeran Rong.
Lin Yao yang mendengar ucapan ratu terdiam, dia tengah mengingat kegunaan tulang sapi itu.
"Tulang sapi biasanya di gunakan untuk membuat sup, dan bisa mengembalikan tenaga yang telah terkuras. Ibu ratu, beliau....."
Wajah Lin Yao sedikit merona dan wajahnya menunduk saat mengetahui maksud dari perkataan ratu tadi.
Kaisar Changming berdiri di depan semua orang yang ada di dalam aula istana. Karena bukan hanya para perdana menteri saja yang ada di sana, namun semua anggota kerajaan pun ada disana.
"Baiklah, aku ingin memberikan sebuah titah kaisar secara langsung kepada permaisuri pangeran Rong di depan kalian semua." Ucap kaisar.
Seorang kasim yang bertugas mencatat apa yang akan di katakan oleh kaisar, tengah siap dengan kuas dan kertas di atas meja.
"Hari ini, aku kaisar Changming akan menganugrehkan sebuah gelar kepada permaisuri dari pangeran Rong. Aku akan memberikan gelar permaisuri An kepadanya. Dengan harapan negara ini akan selalu damai dan semakin sejahtera." Ucap kaisar dengan lantang.
"Panjang umur yang mulia, panjang umur permaisuri An." Ucap semua orang yang ada di dalam aula itu.
Lin Yao sendiri hanya bisa mengangguk, lalu tersenyum. Seumur hidup dia tidak pernah mengira jika dia akan menikah, dan menjadi seorang permaisuri dari salah satu seorang pangeran.
"Terima kasih atas kebaikan dan kemurahan hati ayah kaisar, semoga kerajaan kita semakin makmur dan sejahtera." Ucap Lin Yao seraya memberi hormat pada kaisar dan ratu.
Kaisar dan ratu mengangguk, mereka merasa beruntung telah memiliki memantu yang sangat rendah hati dan memiliki etika yang baik. Karena saat ini wanita yang seperti Lin Yao sudah cukup sulit di dapatkan.
Perdana Menteri Xu yang melihat Lin Yao berdiri di samping pangeran Rong merasa menyesal, karena dia telah kehilangan calon menantu yang sangat berbakat dan baik seperti Lin Yao, dan itu demi anak selir yang putranya inginkan.