
Malam ini hujan datang secara tiba-tiba, permaisuri An yang sudah berada di dalam kamar sejak tadi tidak dapat memejamkan kedua matanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, kenapa kau belum tidur?" Ucap pangeran Rong yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Saya tidak bisa memejamkan kedua mata saya."
Pangeran Rong duduk di sisi tempat tidur, lalu meraih tangan permaisuri An.
"Besok kita akan kembali, kau harus beristirahat dengan baik." Ucap pangeran Rong.
"Saya merasa sangat khawatir."
"Jika kau begitu khawatir, bagaimana jika kita tidak perlu kembali dan tetap tinggal disini?"
"Tidak, saya tidak ingin seperti itu. Jika begitu saya akan merasa jika saya sedang melarikan diri."
"Lin'er, permaisuri ku. Tidak akan ada yang berani menyentuh mu, kau adalah permaisuri ku."
"Saya tahu hal itu, hanya saja...."
Pangeran Rong mengusap pipi permaisuri An dengan pelan, "Kau tahu, aku sangat bahagia jika kau khawatir dan peduli padaku. Tetapi, aku tidak juga tidak ingin kau terus memikirkan hal yang tidak seharusnya kau pikirkan."
Permaisuri An menatap pangeran Rong, dia sungguh tidak ingin orang-orang mengatakan hal yang tidak baik tentang pangeran Rong. Karena dia merasa, jika semua ini karena dia yang ingin membalaskan kematian ibunya pada Fang Yin dan juga pangeran kerajaan itu.
"Tidurlah lagi, malam ini hujan begitu deras." Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An terdiam.
"Atau... Kau ingin melakukan sesuatu?" Ucap pangeran Rong lagi.
"Melakukan.... Sesuatu?"
"Benar, ayah kaisar dan ibu ratu mendesak ku agar kita memiliki seorang anak. Mereka ingin kau dan putri Xiu Ying hamil secara bersamaan."
Kedua mata permaisuri An membulat, mendengar itu. Dan dia mengerti sesuatu apa yang di maksud oleh pangeran Rong tadi.
"Li." Ucap permaisuri An.
"Iya."
"Di saat seperti ini, apakah ayah kaisar dan ibu ratu benar-benar menginginkan cucu dari saya dan kak Xiu Ying?"
Pangeran Rong mendekatkan wajahnya pada permaisuri An, lalu perlahan membuka topeng yang menutupi salah satu matanya.
"Aku tidak peduli dengan mereka, begitu juga dengan ayah kaisar dan ibu ratu yang sama tidak peduli. Semua orang tua menginginkan seorang cucu pada anaknya yang telah menikah, begitu juga dengan ayah kaisar dan ibu ratu. Lalu aku, aku juga ingin melihatmu menggendong anak kita." Ucap pangeran Rong dengan pelan.
Jantung permaisuri An berdetak begitu cepat, karena saat ini wajah mereka berdua sangat dekat. Terlebih, permaisuri An dapat melihat kedua mata pangeran Rong dengan sangat jelas.
Pangeran Rong mengusap pipi permaisuri An, lalu dengan lembut mencium bibir permaisurinya. Memberikan sedikit lumaat4n pada bibir yang sejak tadi berbicara itu.
Tangan pangeran Rong meraih jepitan rambut yang di kenakan oleh permaisuri An, lalu mengusap dengan lembur kepala permaisuri An.
Kedua suami istri itu berciuman dengan penuh cinta, hingga ciuman itu mengubah malam dingin mereka, menjadi malam yang penuh dengan kehangatan dan suara yang sulit di katakan.
(Hayoooo traveling sendiri lagi π€π€).
...----------------...
Esok harinya, permaisuri An terbangun dalam pelukan pangeran Rong yang masih memejamkan matanya.
Tubuhnya terasa kaku, dan pinggaangnya seperti akan patah akibat ulah pangeran Rong tadi malam.
"Li." Ucap permaisuri An dengan pelan.
Pangeran Rong tidak menanggapi ucapan permaisuri An, dia tetap memejamkan matanya.
"Li, bangunlah. Ini sudah pagi." Ucap permaisuri An lagi.
Pangeran Rong yang mendengar suara hanya bergerak sedikit, lalu kembali tertidur.
Melihat pangeran Rong yang sepertinya tidak ingin bangun, permaisuri An mencoba menyingkirkan tangan pangeran Rong dari tubuhnya.
"Kembalilah tidur, jangan pergi kemanapun." Ucap pangeran Rong yang memper-erat pelukannya.
"Tetapi ini sudah pagi, dan sepertinya di luar ada seseorang."
"Biarkan saja, mereka adalah pengawal yang menjemput kita."
"Li."
Pangeran Rong membuka kedua matanya, dan kedua mata mereka pun bertemu.
"Apa kau tidak merasa lelah?" Ucap pangeran Rong seraya mengusap pipi permaisuri An.
Mendengar perkataan pangeran Rong, wajah permaisuri An seketika merona. Dia sungguh tidak menyangka jika pangeran Rong akan menanyakan hal itu padanya.
"Tidurlah sebentar lagi, biarkan mereka menunggu." Ucap pangeran Rong.
"Ti.... Tidak, saya ingin bangun saat ini."
Permaisuri An mengangguk, lalu mencoba untuk bangun. Tetapi baru saja dia akan duduk, pinggaangnya terasa begitu sakit.
"Ada apa, apa kau tidak ingin bangun?" Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An menggelengkan kepalanya.
Pangeran Rong menatap permaisuri An dengan bingung.
"Ada apa, Lin'er?" Ucap pangeran Rong lagi.
"Pi.... Pinggaang saya terasa sakit."
Mendengar perkataan permaisuri An, pangeran Rong tersenyum. Dia tahu jika tadi malam dia telah melakukan itu tanpa berhenti hingga larut malam, dan tentu saja itu membuat permaisuri An seperti sekarang ini.
"Maafkan aku, aku akan membantumu untuk bangun." Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An hanya diam, karena saat ini dia sedang menahan rasa malunya kepada pangeran Rong.
Pangeran Rong turun dari tempat tidurnya, lalu membantu permaisuri An pergi ke ruangan samping untuk membersihkan diri.
Setelah itu, pangeran Rong keluar untuk menemui para pengawal istana yang sudah berada di luar paviliunnya.
"Kalian bisa membereskan semuanya." Ucap pangeran Rong.
"Baik yang mulia."
Para pengawal itu lalu berjalan ke arah samping paviliun pangeran Rong, sementara pangeran Rong sendiri akan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Braaaaak!
Pangeran Rong yang mendengar suara benda terjatuh segera bergegas masuk ke dalam kamarnya.
" Lin'er!" Ucap pangeran Rong dengan terkejut.
Pangeran Rong berjalan dengan cepat mendekati permaisuri An yang terjatuh di atas lantai, dan membuat sebuah meja kecil ikut jatuh di sampingnya.
"Kenapa kau tidak memanggil ku? Apa kau baik-baik saja." Ucap pangeran Rong dengan cemas.
"Saya baik-baik saja."
Pangeran Rong segera mengangkat tubuh permaisuri An dan membawanya ke kamar.
Dengan hati-hati pangeran Rong mendudukan permaisuri An di atas tempat tidur mereka.
"Apa kau terluka?" Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An menggelengkan kepalanya, "Saya tidak apa-apa, setelah tiba di istana, saya akan meminta Feng Ying untuk merebus obat."
"Maafkan aku, karena semalam aku tidak bisa menghentikannya."
"Tidak, kau tidak bersalah. Mungkin tubuh saya ini sedang tidak baik."
Pangeran Rong meraih tangan permaisuri An, lalu menatap permaisurinya itu. Dia sungguh merasa sangat bersalah karena tidak bisa berhenti tadi malam.
"Jangan seperti ini, saya sungguh tidak apa-apa." Ucap permaisuri An.
"Aku akan meminta tabib istana untuk memeriksa kondisi mu, setelah kita tiba di istana."
"Apakah kau sudah melupakan, jika saya bisa mengobati diri saya sendiri?"
Pangeran Rong tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena dia sungguh merasa menyesal. Bukan menyesal karena telah melakukan hal itu dengan permaisuri An, tetapi menyesal karena tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Berhentilah bersikap seperti itu, saya baik-baik saja. Setelah meminum obat beberapa kali, saya akan kembali pulih." Ucap permaisuri An.
"Tetapi tetap saja, semuanya karenaku."
Permaisuri An tersenyum, "Baiklah, jika kau merasa bersalah. Maka kau tidak perlu melakukannya lagi."
Kedua mata pangeran Rong membulat mendengar ucapan 'tidak perlu melakukannya lagi' dari bibir permaisurinya.
"Lin'er, bagaimana mungkin aku....."
"Jika begitu, maka berhentilah terus merasa bersalah seperti itu."
Pangeran Rong hanya bisa mengangguk mendengar permintaan permaisuri An.
"Kau tetaplah disini, aku akan mandi terlebih dulu. Karena saat ini para pengawal istana sedang membereskan barang-barang di ruangan yang lain." Ucap pangeran Rong.
"Baik, saya mengerti."
Pangeran Rong mengangguk, lalu berjalan ke kamar mandi.
Permaisuri An menatap punggung pangeran Rong yang masuk ke dalam ruangan samping.
"Dia benar-benar seorang laki-laki yang baik. Jika saja Liu Lin Yao pada masa ini masih hidup, dan menjalani hal ini. Dia tentu akan merasa sangat bahagia."