Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #38


"Nyonya! Nyonya!" Teriak Feng Ying di depan kamar nyonya Xia.


Kraaak


Bibi Hong membuka pintu kamar nyonya Xia.


"Apa yang terjadi, kenapa kau berteriak-teriak seperti itu di depan kamar nyonya?" Ucap bibi Hong pada Feng Ying.


"Maaf bibi Hong, tetapi nona.... Nona..."


"Ada apa dengan Lin'er." Tanya nyonya Xia yang berjalan mendekati pintu.


"Nyonya, nona... Nona telah sadarkan diri."


Kedua mata nyonya Xia membulat "Lin'er telah sadarkan diri?"


"Benar nona, saat ini tabib istana sedang memeriksa nona di kamarnya."


"Baik, kita kesana sekarang."


"Iya nyonya."


Nyonya Xia, bibi Hong dan juga Feng Ying berjalan dengan cepat menuju kamar Lin Yao.


Sementara itu di dalam kamar, pangeran Rong tengah melihat tabib istana yang sedang memeriksa kondisi Lin Yao yang baru sadarkan diri itu.


"Bagaimana keadaan Lin'er?" Tanya pangeran Rong pada tabib istana.


"Nona muda Liu sudah membaik yang mulia, hanya tinggal menyembuhkan luka tusuk yang ada di punggungnya saja."


Pangeran Rong mengangguk mengerti.


"Kau buatkan obat terbaik untuk Lin'er. Bila perlu ambil bahan obatnya dari dalam istana ku."


"Baik, hamba mengerti yang mulia. Hamba akan berusaha menyembuhkan luka nona muda Liu, dan tidak meninggalkan bekas pada punggung nona muda Liu."


"Iya."


Tabib istana berjalan keluar dari kamar Lin Yao.


"Bagaimana keadaanmu?" Ucap pangeran Rong pada Lin Yao.


"Saya baik-baik saja yang mulia, terima kasih atas kebaikan yang mulia."


"Apa yang sudah kau katakan, kau adalah calon permaisuri ku. Tentu saja aku harus melakukan yang terbaik untuk dirimu."


Lin Yao melihat kekhawatiran pada kedua mata pangeran Rong saat menatapnya.


"Maafkan saya yang sudah membuat yang mulia khawatir."


"Kau gadis bod0h, kau bisa menaiki kuda yang terlepas di jalanan dan menghadapi harimau lapar di dalam hutan. Tetapi kau tidak bisa menghindari pisau kecil itu."


"Maaf, saat itu yang saya pikirkan hanyalah menyelamatkan ibu dari pisau yang selir Qian bawa di balik pakaiannya."


Pangeran Rong meraih tangan Lin Yao dan menggenggamnya dengan erat.


"Kau sungguh membuat ku sangat khawatir dan membuat ku takut setengah mati, Lin'er." Ucap pangeran Rong dengan pelan.


Lin Yao sangat terkejut dan terharu mendengar ucapan pangeran Rong yang begitu tulus itu.


"Terima kasih."


Pangeran Rong menggelengkan kepalanya.


Lin Yao memberanikan diri memegang tangan pangeran Rong dan menatapnya.


"Yang mulia yang seperti ini tidak terlihat tampan dan berkarisma lagi." Ucap Lin Yao mencoba menghibur pangeran Rong yang terlihat masih khawatir padanya.


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin kau segera pulih seperti semula."


Lin Yao mengangguk pelan "Iya, saya pasti akan segera pulih yang mulia."


Pangeran Rong menatap Lin Yao dengan lekat, dia sungguh tidak mau melihat Lin Yao seperti saat ini lagi di kemudian hari. Karena jika hal ini terulang lagi, maka pangeran Rong pasti akan menghancurkan orang yang melakukannya.


Kraaaak


Feng Ying membantu nyonya Xia membukakan pintu kamar Lin Yao.


"Lin'er, kau sungguh telah sadar?" Ucap nyonya Xia lagi.


Nyonya Xia berjalan masuk ke dalam kamar Lin Yao untuk melihat keadaan putrinya.


Pangeran Rong berdiri melihat nyonya Xia berjalan mendekati tempat tidur Lin Yao, dan duduk di kursi yang ada di dalam kamar itu.


"Ibu, maafkan Lin'er karena sudah membuat ibu khawatir." Ucap Lin Yao.


"Dasar anak bod0h. Seharusnya kau tidak menarik ibu waktu itu, lihatlah kau terluka dan tidak sadarkan diri selama 3 hari."


"Ibu, bagaimana mungkin Lin'er membiarkan ibu yang menerima tusukan itu?"


Nyonya Xia menyeka air matanya, dia merasa bersyukur karena Lin Yao telah sadarkan diri. Rasa takutnya akan kehilangan Lin Yao berubah dengan rasa bahagia dan lega.


"Kau harus berterima kasih pada yang mulia pangeran Rong, karena pangeran Rong telah memghukum selir Qian dan Fang Yin." Ucap nyonya Xia.


Lin Yao mengangguk lalu menatap pangeran Rong yang duduk di kursi, dan terlihat memejamkan kedua matanya.


"Tetapi kenapa yang mulia terlihat sangat kelelahan?" Tanya Lin Yao.


"Tentu saja, itu karena selama 3 hari ini pangeran Rong terus menjaga mu. Dia bahkan tidak mau makan, jika ibu atau yang mulia ratu memaksanya."


"Yang mulia ratu?"


"Iya, beberapa kali yang mulia ratu dan putri Xiu Ying datang untuk melihat keadaan mu."


Lin Yao mengangguk dan menatap pangeran Rong yang terlihat sangat lelah dan telah terlelap itu.


"Ternyata dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab."


Nyonya Xia meraih tangan Lin Yao "Ibu dan yang mulia ratu telah sepakat, kau dan yang mulia pangeran Rong akan menikah 2 bulan setelah putri Xiu Ying menikah bulan depan."


"Ma... Maksud ibu, aku dan yang mulia akan menikah 3 bulan lagi?"


Nyonya Xia mengangguk "Benar, saat ini di ibu kota dan juga di beberapa kota lainnya sudah menyebar berita jika pangeran Rong telah melamar mu dan akan segera menikahi mu. Karena itu yang mulia ratu juga yang mulia kaisar menyarankan untuk segera menikahkan kalian berdua setelah putri Xiu Ying menikah."


"Te... Tetapi ibu."


"Lin'er. Percayalah, yang mulia pangeran Rong adalah laki-laki yang baik. Dia benar-benar mencintaimu."


Lin Yao melihat ke arah pangeran Rong yang telah tertidur di kursi.


"Lihatlah, bahkan dia sampai rela kelelahan hanya karena tidak mau meninggalkan mu yang sedang terluka disini." Ucap nyonya Xia lagi.


Lin Yao diam, apa yang di katakan oleh ibunya memang benar. Terlebih mendapatkan laki-laki yang baik, perhatian dan juga penuh kasih sayang seperti pangeran Rong, sangat sulit.


"Lin'er." Ucap nyonya Xia.


Lin Yao menatap ibunya "Jika memang langit menjodohkan aku dengannya, maka aku tidak bisa untuk menolaknya lagi ibu. Dia adalah laki-laki yang baik, dan juga telah membuat kerajaan ini sejahtera."


Nyonya Xia tersenyum "Iya, ibu hanya ingin kau mendapatkan laki-laki yang bisa menjagamu dan juga menyayangi mu. Dan.... Tidak mudah untuk mengkhianati pernikahan kalian."


"Ibu aku juga berharap seperti itu, aku tidak ingin kembali di khianati oleh orang yang berkata jika dia hanya akan hidup bersama dengan Lin'er saja."


Nyonya Xia mengangguk, dia merasa bahagia karena akhirnya Lin Yao akan mendapatkan laki-laki yang baik, dan bisa melindunginya dari orang-orang yang ingin berbuat jahat padanya.


"Baiklah, ibu akan meminta Feng Ying untuk membuatkan bubur untuk mu." Ucap nyonya Xia seraya berdiri.


"Iya, terima kasih ibu."


Nyonya Xia mengangguk dan keluar dari kamar Lin Yao bersama dengan bibi Hong dan Feng Ying.


Saat ini di dalam kamar hanya ada Lin Yao dan pangeran Rong yang sedang tidur di atas kursi.


Lin Yao menatap pangeran Rong, "Dia pasti sangat kelelahan. Terima kasih karena terus menjaga ku di saat aku tidak sadarkan diri, yang mulia."