Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #70


"Dia telah membuat jantungku berdetak begitu kencang." Ucap Lin Yao setelah pangeran Rong pergi.


Lin Yao melihat kamar pangeran Rong yang tidak pernah di masuki oleh wanita lain, selain anggota kerajaan (ratu, putri Xiu Ying) dan pelayan yang ada di dalan istananya.


Dengan pelan Lin Yao berdiri dan berjalan menuju tempat tidur yang biasa pangeran Rong tempati.


"Dia memiliki kamar yang cukup besar, tetapi dia berkata jika dia akan ikut bersamaku. Apakah tidak apa-apa jika dia ikut tinggal di paviliun denganku dan ibu, yang tidak begitu besar itu?" Ucap Lin Yao lagi.


Lin Yao memainkan cincin giok yang melingkar pada jari telunjuknya.


(Di zaman kerajaan dulu, cincin pernikahan di pakai pada jari telunjuk atau jempol sebelah kiri dan terbuat dari giok terbaik)


Entah berapa lama Lin Yao termenung memikirkan keputusan pangeran Rong yang ingin ikut kemanapun dia akan tinggal. Hingga dia tertidur di atas tempat tidur itu.


***


Kraaaaak


Feng Ying membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam kamar itu.


"Yang mulia, yang mulia. Anda harus bangun dan bersiap." Ucap Feng Ying mencoba membangunkan Lin Yao.


Mendengar suara, Lin Yao mengerjapkan kedua matanya.


"Feng Ying, apakau itu kau?" Ucap Lin Yao.


"Benar yang mulia, ini saya."


"Yang mulia?"


Feng Ying tersenyum, "Saat ini anda telah menikah dan menjadi permaisuri yang mulia pangeran Rong, jadi saya juga harus memanggil anda dengan sebutan yang mulia permaisuri."


Lin Yao terdiam, walaupun pangeran Rong kelak akan ikut dengannya tinggal di dalam istana. Tapi gelar pangeran dan permaisuri tentu tidak akan hilang. Sebab itu dia hanya bisa mengangguk dan menerimanya.


"Baiklah, apakah sudah saatnya untuk bersiap?" Ucap Lin Yao.


"Benar, yang mulia. Saya telah menyiapkan air mandi untuk anda. Dan saya akan membantu yang mulia menggosok tangan juga punggung anda."


Lin Yao kembali mengangguk, lalu berdiri dari tempat tidur.


Di antar oleh Feng Ying, Lin Yao pergi ke kamar mandi yang ada di samping kamar tidur itu.


Sebuah kamar mandi yang juga cukup besar, membuat Lin Yao terdiam sejenak.


"Ada apa yang mulia?" Ucap Feng Ying.


Lin Yao menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak apa-apa."


"Jika begitu, saya akan membantu anda melepaskan semuanya."


"Iya."


Feng Ying membantu Lin Yao selama mereka berada di dalam kamar mandi itu.


Setelah membantu Lin Yao mandi, Feng Ying juga membantu Lin Yao memakai pakaian yang telah di siapkan untuk pesta pernikahan Lin Yao dan pangeran Rong malam ini.


Feng Ying juga membantu menata rambut Lin Yao dan merias wajahnya agar terlihat lebih cantik.


"Yang mulia, anda sangat cantik. Saya yakin anda akan menjadi wanita paling cantik." Ucap Feng Ying setelah selesai membanru Lin Yao.


"Kau yang sudah membuatku seperti ini, terima kasih Feng Ying."


"Yang mulia."


"Panggilan yang mulia padaku seperti itu, sedikit membuatku tidak berbeda."


"Anda akan terbiasa, yang mulia."


Lin Yao mengangguk, "Kau benar."


Kraaaaak


Pintu kamar terbuka, pangeran Rong yang telah siap masuk ke dalam kamar itu dan di belakangnya ada seorang pelayan istana yang membawa baki berisi makanan.


"Yang mulia." Ucap Feng Ying seraya membungkukkan badannya dan mundur beberapa langkah.


"Bagaimanapun penampilan mu, kau selalu terlihat sangat cantik." Ucap pangeran Rong pada Lin Yao.


"Yang mulia."


Pangeran Rong tersenyum dan mengangguk, "Aku sudah meminta koki istana membuat beberapa makanan. Kau bisa memakannya lebih dulu sebelum kita berangkat ke aula istana."


"Makanan?"


"Benar, aku yakin kau tidak akan makan terlalu banyak disana. Jadi kau bisa makan terlebih dulu sekarang."


Lin Yao mengangguk, "Dia cukup perhatian dan baik."


Pangeran Rong membantu Lin Yao berdiri dan mereka berjalan menuju meja lain yang sudah tertata dengan rapi berbagai masakan di atasnya.


Setelah Lin Yao dan pangeran Rong duduk, di depan meja itu. Pangeran Rong mengambilkan sepotong daging dan meletakannya di atas mangkuk milik Lin Yao.


"Makanlah, kau harus makan lebih banyak." Ucap pangeran Rong.


"Baik, terima kasih."


Pangeran Rong mengangguk.


Lin Yao menyumpit daging yang di berikan oleh pangeran Rong tadi, lalu memakannya dengan perlahan.


Kedua suami istrii baru itu menikmati makanan mereka bersama, sementara Feng Ying berdiri di depan pintu bersama dengan pelayan yang lainnya.


...----------------...


Di dalam aula istana, para kaisar dan pangeran dari berbagai negara telah datang dan duduk di kursi mereka.


Mereka semua tentu harus menghadiri pernikahan pangeran Rong sang dewa perang yang terkenal dari negara Chao itu.


"Aku penasaran dengan wanita yang telah membuat dewa perang yang terkenal dingin dan kejam itu tertarik dan menikahinya." Ucap pangeran dari negara Yi.


"Benar, aku juga penasaran." Ucap pangeran dari negara lainnya.


Kaisar dan pangeran pertama dari negra He, yang tak lain adalah ayah mertua putri Xiu Ying datang dan berjalan memasuki aula istana.


"Salam kepada yang mulia kaisar dan yang mulia ratu, semoga yang mulia selalu panjang umur dan sejahtera." Ucap kaisar He seraya memberi hormat.


"Terima kasih karena kaisar He telah datang." Ucap kaisar Changming.


"Yang mulia pangeran Rong menikah, tentu saja saya harus menghadiri pernikahannya."


"Bagus, silahkan duduk."


"Terima kasih, yang mulia."


Kaisar He dan putranya berjalan lalu duduk di kurai yang sudah tersedia.


Kedua mata pangeran pertama He melihat ke arah adiknya, pangeran He Xuan Li. Yang duduk di samping putri Xiu Ying.


Dia tentu masih tidak menerima pernikahan adiknya yang dari seorang selir itu dengan wanita yang telah lama dia sukai.


"Jangan membuat keributan, ayah tidak akan membantumu jika kau melakukan sesuatu disini." Ucap kaisar He yang melihat sorot mata pangeran pertamanya terhadap putranya yang lainnya dan menantunya.


"Ba... Baik, aku mengerti ayah."


Putri Xiu Ying yang melihat sorot mata daru pangeran He pertama hanya diam, dia justru tersenyum manis pada suaminya.


"Apa kau tidak apa-apa?" Ucap pangeran He Xuan Li pada putri Xiu Ying.


"Tentu aku tidak apa-apa, tetapi kakakmu sepertinya masih belum bisa menerima pernikahan kita, yang mulia."


"Kau benar, dia selalu memiliki ambisi yang sangat kuat jika telah menginginkan sesuatu."


"Tetapi aku tidak peduli, karena seseorang yang memiliki ambisi begitu kuat hanya akan membuat dirinya sendiri hancur."


"Kau benar permaisuri ku."


Putri Xiu Ying mengangguk, dia merasa sangat bersyukur karena memiliki suami yang rendah hati seperti pangeran He Xuan Li.


Meski dia hanyalah anak dari seorang selir yang telah meninggal dan telah menikah dengan putri Xiu Ying, tetapi dia jauh lebih mengerti dan lebih menghargai orang lain.