
Di saat pangeran Rong dan permaisuri An bersantai di dalam istana mereka, berbeda dengan kerajaan musuh mereka. Karena pagi ini semua rakyat di ibu kota negara itu gempar, dengan mayaat salah satu pangeran mereka yang tergantung di aula yang berada di tengah pasar ibu kota negara itu.
"Bagaimana bisa pangeran ke 3 mati dan mayaatnya di gantung seperti itu?" Ucap salah satu rakyat negara itu yang melihat.
"Pangeran ke 3 masih mengenakan pakaian perang, sepertinya dia kalah dan mayaatnya di gantung oleh negara yang menang." Ucap yang lain.
"Benar, beberapa hari yang lalu pangeran ke 3 dan pasukannya pergi berperang melawan negara Chao."
"Tetapi kenapa bisa dia tergantung dengan masih mengenakan pakaian perangnya? Dan juga, baunya sudah sangat busuuk seperti ini."
"Sepertinya, kaisar tidak mau menjemput mayaat pangeran ke 3 yang mati saat berperang, jadi mayaatnya di gantungkan begitu saja."
Semua orang yang melihat mayaat pangeran ke 3 mereka menatap dengan penuh tanya, ada juga yang menghinaa tindakan kaisar mereka yang tidak mau menjemput mayaat pangeran ke 3, karena bagaimana pun, dia adalah anggota kerajaan, ada juga yang dari mereka yang menyayangkan kematian pangeran ke 3 itu.
Beberapa pengawal kerajaan dan juga dua pangeran negara itu datang untuk menurunkan pangeran ke 3, yang di gantung di depan para rakyat.
"Pangeran Rong dari negara Chao, benar-benar kejii. Bahkan orang yang telah mati pun tidak dia lepaskan." Ucap pangeran ke 2.
"Kakak benar, sebenarnya aku sudah berbicara dengan ayah untuk menemui kaisar Chao dan menjemput mayaat kakak ke 3, tetapi ayah tidak mau."
"Ayah adalah orang yang keras kepala, dia hanya akan mendengar apa yang di katakan oleh kakak pertama. Dan kakak pertama selalu mendukung apa yang di inginkan oleh ayah. Bahkan peperangan ini pun karena keinginannya."
Bau busuuk yang sangat menyengat semakin teecium, saat mayaat pangeran ke 3 mereka di turunkan. Bahkan tubuhnya sudah melunak, karena mati dengan luka lebam dan juga tusukan pedang dari permaisuri An.
"Kita harus segera memakamkan kakak ke 3, jika tidak tubuhnya akan semakin membusuuk dan hancur." Ucap pangeran ke 4.
"Kau benar."
Para pengawal yang menurunkan tubuh pangeran ke 3, meletakan mayaat itu di dalam peti yang telah mereka bawa. Dan segera membawa mayaat itu ke istana, agar tidak semakin membuat keributan disana.
Bagaimanapun yang mati adalah seorang pangeran, dan dia mati di medan perang. Tetapi kaisar tidak mau menjemput pangeran ke 3 yang telah berperang demi negara itu.
Dan tentu saja hal tersebut membuat rakyat negara itu bertanya-tanya, dan menyayangkan perlakuan kaisar terhadap salah satu putranya itu.
...----------------...
Setelah menikmati sarapan mereka, pangeran Rong dan permaisuri yang telah siap akan berangkat ke paviliun pangeran Rong, keluar dari dalam kamar mereka.
"Feng Ying, apa kau telah menyiapkan semuanya?" Ucap permaisuri An.
"Sudah, yang mulia. Saya telah menyiapkan semuanya. Yang mulia permaisuri tidak perlu mengkhawatirkan apapun selama anda disana."
Permaisuri An mengangguk, "Baik, terima kasih."
"Yang mulia, ini merupakan tugas saya. Dan saya sangat merasa bahagia karena bisa membantu yang mulia."
Kali ini pangeran Rong hanya akan membawa permaisuri An saja ke paviliun miliknya, karena itu pangeran Rong dan permaisuri An meminta Feng Ying dan yang lain menyiapkan semuanya.
"Yang mulia, apakah anda benar-benar ingin hanya kita berdua saja yang pergi kesana?" Ucap permaisuri An pada pangeran Rong.
"Iya, aku akan melakukan semuanya untuk mu. Dan aku tidak ingin orang lain bersama dengan kita."
Permaisuri An mengangguk, "Baiklah, jika itu keinginan yang mulia."
Pangeran Rong menggenggam tangan permaisuri An, "Aku ingin menikmati waktuku hanya denganmu. Dan aku tidak ingin ada orang lain yang ikut bersama dengan kita selama kita disana."
"Baik, saya mengerti yang mulia."
Pangeran Rong tersenyum mendengar jawaban dari permaisuri An.
"Baik, kita berangkat sekarang." Ucap pangeran Rong.
Kereta kuda mulai bergerak, meski hanya ada 2 orang yang ikut untuk membantu mereka memindahkan barang-barang, namun di tempat lain, Xiao Li dan Xiao Bo tentu mengikuti pangeran Rong dan permaisuri An dari jauh.
"Jika kau merasa lelah, kau bisa beristirahat." Ucap pangeran Rong saat mereka berdua berada di dalam kereta.
"Baik."
Pangeran Rong menggenggam tangan permaisuri An, dia sungguh merasa selau ingin menjaga permaisurinya itu.
"Yang mulia, apakah disana ada sungai?" Ucap permaisuri An.
"Iya, kita bisa pergi ke sana dengan berjalan kaki. Karena sungai itu berada di belakang paviliun."
"Bisakah saya menangkap ikan disana?"
Pangeran Rong menatap permaisuri An, "Kau bisa menangkap ikan?"
"Iya, yang mulia. Saya bisa membuat sebuah keranjang kecil dan memasangnya. Ikan-ikan itu akan terperangkap di dalam keranjang itu."
"Baiklah, kita akan menangkap ikan disana. Dan aku akan membakarnya untukmu."
"Yang mulia bisa membakar ikan?"
"Tentu saja, selama ini aku hidup di medan perang. Dan selama bersembunyi di dalam hutan, tentu kami harus bisa membuat atau menemukan sesuatu yang bisa di makan, ketika persediaan makanan telah sangat berkurang."
Permaisuri An mengangguk, saat dia masih hidup di 100 tahun yang lalu. Dia juga pernah melakukan hal itu, tetapi itu dalam sebuah pelatihan dari gurunya.
Kereta kuda terus berjalan, dan mereka telah memasuki sebuah kota terakhir yang akan mereka lewati.
Permaisuri An yang merasa lelah, tidak bisa lagi menahan rasa kantuk yang menderanya.
Pangeran Rong yang melihat kepala permaisuri An terkantuk, segera memeluknya dan meletakan kepala permaisuri An di atas bahunya.
"Tidurlah, aku akan membangunkan mu setelah kita tiba disana." Ucap pangeran Rong.
"Baik, yang mulia."
Permaisuri An memejamkan kedua matanya, dan tak lama dia tertidur dalam pelukan pangeran Rong.
Pangeran Rong menepuk-nepuk dengan pelan bahu permaisuri An. Dia sangat bahagia melihat permaisurinya tidur begitu lelap saat ini.
"Tidurlah, aku berharap setelah kau bangun. Kau akan kembali seperti Lin'er yang pertama kali aku miliki."
Dengan lembut, pangeran Rong mengusap punggung tangan permaisuri An, juga mengusap cincin giok darinya yang permaisuri An kenakan.
"Giok yang bagus, memang akan terlihat cantik pada orang yang tepat." Ucap pangeran Rong pelan.
Kereta kuda yang mereka naiki memasuki sebuah hutan yang tidak begitu lebat, dan jalanan yang mereka lewati pun di penuhi dengan bebatuan kecil, sehingga kereta kuda terus bergoyang dan membuat permaisuri An terbangun.
"Kau baik-baik saja?" Ucap pangeran Rong.
"Iya, saya....."
Ucapan permaisuri An terhenti saat kedua mata mereka saling menatap dan mengunci satu sama lain.
Pangeran Rong mengusap dengan pelan pipi permaisuri An, dan karena roda kereta yang mereka naiki menginjak batu yang cukup besar, membuat kereta tidak begitu seimbang, dan dengan cepat pangeran Rong memeluk tubuh permaisuri An agar tidak terjatuh.