Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #119


"Bagaimana, apakah ikan yang di bakar dengan daun yim telah siap?" Ucap permaisuri An pada Feng Ying.


"Yang mulia, anda baru saja meminta di buatkan ikan bakar dengan daun yim. Mohon untuk menunggunya beberapa saat lagi."


"Baiklah, tetapi perut ku selalu merasa lapar. Kau melihatnya, baru saja aku menghabiskan 5 kue bulan, dan sekarang aku seperti orang yang tengah kelaparan lagi."


Feng Ying tersenyum, "Yang mulia, saat ini anda sedang hamil. Dan yang saya tahu, jika seorang wanita yang hamil, akan merasa lebih sering lapar. Jadi itu merupakan hal yang wajar, yang mulia."


"Meski begitu, tetapi tetap saja ini membuatku bingung. Sepertinya dalam satu bulan, aku akan menjadi seorang wanita hamil yang sangat gemuk."


Feng Ying hanya bisa tertawa dengan pelan mendengar apa yang di katakan oleh permaisuri An.


"Apakah anda ingin beristirahat dulu, yang mulia. Saat ikan bakar telah siap, saya akan membangunkan anda." Ucap Feng Ying.


"Tidak, lebih baik sekarang kita pergi ke taman dulu saja."


"Yang mulia, hari ini udara sudah semakin dingin. Dan yang mulia pangeran Rong meminta saya untuk menjaga yang mulia, agar yang mulia tidak pergi kemana pun."


"Yang mulia sungguh ingin membuatku menjadi wanita yang berbadan besar."


"Apa yang kau katakan, kenapa aku merasa seseorang sedang memarahiku?" Ucap pangeran Rong yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Yang mulia." Ucap Feng Ying seraya memberi hormat.


Pangeran Rong mengangguk, lalu berjalan dan duduk di samping permaisurinya.


"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" Ucap pangeran Rong.


Permaisuri An diam, karena dia tidak ingin jika pangeran Rong tahu, bahwa dia tengah menunggu ikan bakar.


Pangeran Rong melihat Feng Ying, "Katakan, apa yang permaisuri An inginkan?"


"Yang mulia permaisuri, sedang menunggu ikan bakar, yang mulia." Ucap Feng Ying.


"Ikan bakar?"


"Benar, yang mulia."


Pangeran Rong meraih tangan permaisuri An dan menatapnya.


"Tunggulah sebentar, koki istana pasti sedang membuatnya untuk mu." Ucap pangeran Rong.


"...... Baik yang mulia."


"Lalu, kenapa aku mendengar jika aku ingin membuatmu berbadan besar?"


"Itu....."


Permaisuri An tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena dia sungguh tidak tahu harus berkata apa.


Pangeran Rong tersenyum melihat permaisurinya seperti itu, karena setelah hamil, dia sedikit berubah. Lebih banyak diam di dalam kamar, seolah enggan untuk berpisah dengan kamar mereka itu.


"Kau sedang hamil saat ini, kau harus lebih menjaga kesehatan mu. Aku juga tidak mau terjadi apa-apa pada kalian." Ucap pangeran Rong.


"Saya mengerti yang mulia."


"Aku akan membawamu ke taman, untuk berjalan-jalan."


Permaisuri An mengangguk, "Baik."


Feng Ying yang melihat itu hanya bisa tersenyum, sebab saat ini permaisuri An seperti seorang anak kecil yang tengah merajuk pada ayahnya.


Pangeran Rong membantu permaisuri An berdiri, kemudian mereka berdua berjalan keluar dari kamar menuju taman yang ada di dalam istana mereka.


"Duduklah, kita akan disini beberapa saat. Setelah ikan bakar yang kau inginkan siap, kita akan kembali ke kamar." Ucap pangeran Rong setelah mereka tiba di taman.


"Baik, yang mulia."


Pangeran Rong dan permaisuri An lalu duduk di tengah taman yang cukup luas itu. Mereka menikmati waktu bersama yang jarang mereka lakukan.


"Yang mulia, apakah semuanya baik-baik saja?" Ucap permaisuri An.


"Iya, semua baik-baik saja. Kau tidak perlu memikirkannya."


"Saya hanya khawatir, saat ini saya sedang hamil. Dan tentu saya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap anda."


Pangeran Rong menggenggam tangan permaisuri An, "Kau tidak perlu khawatir, semuanya baik. Dan aku harap akan selalu seperti itu."


Permaisuri An mengangguk dan tersenyum.


"Kita sangat jarang duduk disini, karena aku begitu sibuk dengan semua pekerjaan ku." Ucap pangeran Rong.


"Saya bisa mengerti itu, tetapi anda juga harus memperhatikan kesehatan anda."


Daun dan bunga di taman itu tampak sangat segar, karena saat ini angin musim dingin telah berhembus dan juga setiap hari para pelayan akan menyiram mereka.


"Yang mulia, koki istana berkata jika ikan bakar telah siap. Dan akan segera di bawa ke aula." Ucap Feng Ying.


"Baiklah, kita harus kembali sekarang. Ikan bakar yang kau inginkan telah siap." Ucap pangeran Rong.


"Iya, yang mulia."


Pangeran Rong dan permaisuri An pun berjalan menuju aula.


Tiba di aula, mereka melihat pelayan istana tengah meletakan ikan bakar, dan beberapa sayuran yang juga telah siap di atas meja.


"Apakah koki istana membakar ikan itu dengan daun yim yang aku inginkan?" Ucap permaisuri An.


"Iya, yang mulia. Koki istana juga menyiapkan beberapa sayuran, agar yang mulia tidak hanya memakan ikan bakar saja."


"Baiklah, terima kasih."


Pangeran Rong membantu permaisuri An duduk di kursinya, lalu dia pun duduk di samping permaisurinya.


"Bukankah makanan ini terlalu banyak, yang mulia?" Ucap permaisuri An.


"Tidak, hanya 1 ikan bakar dan dua sayur. Lagi pula kau harus makan dengan baik."


"Iya, yang mulia."


Pangeran Rong tersenyum, lalu mengambil ikan bakar dan meletakannya di atas mangkuk permaisuri An.


"Makanlah, kau sudah menunggu ikan itu." Ucap pangeran Rong.


"Terima kasih, yang mulia."


Permaisuri An menyumpit ikan bakar itu lalu memakannya.


"Rasanya cukup enak, anda juga harus mencobanya, yang mulia." Ucap permaisuri An.


"Iya, aku akan mencobanya."


Pangeran Rong mengambil ikan bakar itu lalu memakannya, dan seketika dia merasa ada sesuatu yang lain pada rasa ikan bakar itu.


"Yang mulia, apakah ikan bakar ini tidak enak?" Ucap permaisuri An yang melihat wajah pangeran Rong.


"Tidak, ini cukup enak. Tetapi rasanya sedikit asam."


"Benarkah? Tetapi saya tidak merasakannya."


Pangeran Rong menatap permaisuri An dengan terkejut, sebab ikan bakar itu memiliki rasa yang sedikit asam namun permaisuri An berkata tidak.


"Mungkinkah lidah ku memiliki masalah?"


Pangeran Rong kembali mengambil ikan bakar itu lalu mencobanya lagi, dan rasanya tetap sama seperti ketika dia memakannya tadi.


"Apa benar ini tidak ada rasa asam pada lidahmu, permaisuri?" Ucap pangeran Rong.


"Iya, yang mulia. Rasanya justru enak."


Pangeran Rong mengerutkan keningnya mendengar perkataan permaisuri An.


"Jika begitu, kau bisa memakan ikan bakarnya. Aku akan memakan sedikit sayur." Ucap pangeran Rong.


"Apakah ikan bakarnya tidak enak, yang mulia."


"Ikan bakarnya enak, jadi aku ingin kau yang memakannya."


"Yang mulia, benar-benar ingin membuat badan saya bertambah besar."


Pangeran Rong hanya tersenyum mendengar itu, "Jika badanmu bertambah besar, bukankah itu bagus? Yang artinya anak kita bertumbuh dengan baik di dalam perutmu."


Permaisuri An diam, lalu menyumpit sayur yang ada di atas meja dan memakannya.


Pangeran Rong sangat bahagia, karena permaisuri An tidak memilih makanan saat dia tengah berada di awal kehamilannya.


...----------------...


Hai para pembaca setia karya Xia Lin.


Maaf jika beberapa hari ini saya terlambat up, dan hanya up 1 part. Karena saya akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaan saya. Terima kasih atas pengertian dan dukungannya๐Ÿ™๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š.