
Beberapa hari kemudian, pangeran Rong dan permaisuri An tengah siap untuk pergi ke paviliun. Karena hari itu merupakan hari ke 7 setelah pernikahan mereka.
Dan seperti tradisi yang ada, setelah 7 hari seseorang menikah maka mereka harus kembali ke rumah pemgantin wanita untuk memberi salam pada keluarga wanita.
"Permaisuri, apa kau sudah siap?" Ucap pangeran Rong.
"Iya, tetapi apakah kau yakin dengan keputusanmu yang ingin tinggal di luar istana ini?"
Pangeran Rong berjalan lalu mengusap pipi permaisuri An, "Iya, keputusanku sudah bulat. Aku akan tinggal dimana kau akan tinggal."
"Jika aku ingin tinggal di dalam istana ini?"
"Lin'er, permaisuri An. Jangan memaksakan dirimu. Lebih baik kita berangkat sekarang, jangan membuat ibu menunggu di sana."
Permaisuri An hanya diam, lalu mengangguk.
Dengan menggandeng tangan permaisuri An, pangeran Rong berjalan keluar dari istana menuji istana kerajaan untuk memberi salam kepada kaisar dan ratu terlebih dulu.
Mereka juga akan berpamitan kepada kaisar, ratu dan anggota keluarga kerajaan yang lainnya.
"Salam kepada yang ayah kaisar dan ibu ratu, semoga ayah dan ibu panjang umur." Ucap pangeran Rong dan permaisuri An bersamaan.
"Berdirilah, hari ini kalian akan pergi ke mengunjungi nyonya Xia, dan juga akan tinggal disana. Apakah kalian sudah menyiapkan semuanya?" Ucap kaisar.
"Sudah ayah kaisar, kami sudah menyiapkan semuanya." Ucap pangeran Rong.
"Baguslah jika begitu, kami berharap kalian akan selalu berbahagia dan sejahtera disana."
"Terima kasih ayah kaisar, kami akan sering mengunjungi ayah kaisar dan ibu ratu disini."
Kaisar Changming mengangguk.
"Permaisuri An, jika terjadi sesuatu. Kau tidak perlu segan memberitahukannya kepasa Li." Ucap ratu.
"Baik, ibu ratu."
"Anak yang baik."
Setelah memberi salam kepada kaisar dan juga ratu, pangeran Rong dan permaisuri An juga menemui ke 4 istana kecil yang ada di dalam istana itu.
Siapa lagi jika istana putra mahkota, putri Xiu Ying dan suami, pangeran ke 3 dan juga pangeran ke 5.
"Kakak pertama, terima kasih karena kau telah banyak membantu ku." Ucap pangeran Rong pada putra mahkota.
"Tidak perlu mengatakan hal itu, kau adalah adik ku. Tentu saja aku harus selalu membantu mu. Dan sekatang kau telah memiliki seorang istri, kau harus baik-baik menjaganya."
"Baik, aku mengerti.".
Putra mahkota mengangguk.
Setelah dari istana putra mahkota, mereka berjalan menuju ke istana putri Xiu Ying untuk menemui sepasang suami istri di dalam istana itu.
"Akhirnya kalian datang ke istana ku, aku sudah menunggu kalian berdua." Ucap putri Xiu Ying.
"Maaf karena kami baru mengunjungi kakak ipar." Ucap permaisuri An.
"Tidak apa-apa, baguslah kalian sudah datang. Aku sangat bahagia melihat kalian berdua bersama seperti ini."
"Terima kasih, kakak ipar."
"Putri, seperti kau telah memaksa permaisuri ku untuk memanggil mu kakak ipar." Ucap pangeran Rong.
"Sudah lama aku ingin mendengar seseorang memanggil ku dengan sebutan kakak ipar, jadi tentu saja aku harus meminta permaisuri An melakukannya."
Pangeran Rong hanya bisa diam melihat kakaknya memperlakukan permaisuri An. Dan hanya bisa melihat kedekatan mereka seperti itu.
"Li, jika kalian sudah tinggal di luar, bwa sesering mungkin permaisuri An ke istana." Ucap putri Xiu Ying.
"Kakak, permaisuri ku memiliki sebuah toko obat. Dan juga harus menemani ku."
"Lihatlah adik iparmu, dia adalah seorang pangeran, dan juga sudah dewasa. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu kepada ku?" Ucap putri Xiu Ying pada pangeran He Xuan Li yang duduk di sampingnya.
Putri Xiu Ying mengangguk, "Baik, bagus jika seperti itu."
Pangeran hanya bisa diam mendengar perkataan dua wanita di depannya itu.
"Baiklah, kami harus ke istana kakak ketiga, dan adik. Setelah itu jami juga harus segera bersiap untuk ke paviliun." Ucap pangeran Rong.
"Baiklah jika begitu."
"Kakak, kakak ipar. Kami harap kalian akan selalu bahagia."
"Iya, aku berharap kau dan permaisuri An pun seperti itu." Ucap pangeran He Xuan Li.
Pangeran Rong mengangguk, lalu menggandeng tangan permaisuri an meninggal istana putri Xiu Ying.
Mereka berjalan melawati sebuah danau kecil dan taman tempat mereka bermain saat mereka kecil dulu.
"Lin'er, apa kau tahu?" Ucap pangeran Rong.
Permaisuri An melihat ke arah pangeran Rong, "Tidak, kau belum mengatakan apapun."
Pangeran Rong tersenyum, "Ibu ratu pernah berkata, sewaktu kita masih kecil, kita sering beemain di taman ini."
"Sewaktu kita masih kecil?"
"Benar, aku sendiri juga lupa akan hal itu. Namun, ibu ratu berkata jika sejak kau masih sangat kecil, aku sudah tertarik padamu. Dan saat usia kita masih sangat muda, kita sering bermain di taman ini."
Permaisuri An menatap taman yang ada di depan mereka, di tentu tidak mengetahui hal itu. Karena saat itu bukan dirinya yang saat ini.
"Liu Lin Yao, kau adalah wanita yang beruntung. Tetapi kau harus mati di tangan orang-orang yang sangat tidak menyukai mu karena keberuntungan yang kau miliki ini."
Pangeran Rong menatap permaisuri An, "Aku berharap kelak, anak-anak kita akan selalu bahagia seperti kita. Dan akan menemukan seseorang yang benar-benar telah di takdirkan oleh langit untuknya."
"Benar, saya juga berharap seperti itu."
Pangeran Rong mengangguk dan tersenyum.
"Aku mengira kalian tidak akan mengunjungi istana ku, karena sudah pergi. Tetapi, ternyata perkirakan ku salah." Ucap pangeran ketiga.
"Kami baru saja akan mengunjungi istana kakak ketiga." Ucap pangeran Rong.
"Benarkah?"
"Iya, tetapi karena sudah bertemu kakak disini. Maka kami tidak perlu lagi ke istana kakak ketiga."
"Kau mungkin tidak mau, tetapi bagaimana dengan permaisuri An?"
"Dia adalah permaisuri ku, tentu saja dia akan mengikuti ku."
Pangeran ketiga hanya bisa diam, dia sangat mengerti bagaimana sifat adiknya yang tidak akan mudah mengalah itu.
"Baiklah, permaisuri An. Bagaimana kabarmu?" Ucap pangeran ke 3.
"Salam kepada yang mulia pangeran ke 3, maaf karena kami baru mengunjungi anda." Ucap permaisuri An.
"Tidak perlu seperti itu, kau adalah permaisuri. Tidak perlu memberi hormat sampai seperti itu padaku."
"Baik, terima kasih yang mulia."
Pangeran ke 3 mengangguk, "Jadi kalian benar-benar akan tinggal di luar istana?"
"Benar, aku sudah memutuskannya. Ayah kaisar dan ibu ratu juga telah menyetujui hal itu." Ucap pangeran Rong.
"Baguslah jika ayah kaisar dan ibu ratu telah setuju."
"Benar, lagi pula di dalam istana masih ada kakak pertama, kakak kedua, kakak ketiga dan juga Huan Ming."
"Aku mengerti itu, jika memang tinggal di luar istana merupakan keputusan kalian berdua, aku hanya berharap kalian akan selalu berbahagia."
"Terima kasih."