
Esok harinya, pangeran Rong yang melihat permaisurinya tengah mengemasi beberapa barang yang harus dia bawa, berjalan mendekat.
"Apakah semuanya telah siap?" Ucap pangeran Rong kepada permaisuri An.
Permaisuri An mengangguk, "Iya."
Pangeran Rong meraih tangan permaisuri An dan menatapnya, "Aku berjanji akan kembali dengan selamat."
"Aku mengerti."
Pangeran Rong mengangguk, kemudian memeluk permaisuri An.
Sebenarnya dia juga tidak rela meninggalkan permaisurinya yang baru beberapa minggu dia nikahi itu, namun dia juga tidak bisa membiarkan rakyat negara Chao terbunuh di perbatasan timur.
"Pergilah, aku akan menjaga ibu disini." Ucap permaisuri An.
Pangeran Rong mengangguk, "Iya."
Dengan membawa beberapa barang penting yang telah di siapkan oleh permaisuri An, pangeran Rong berangkat dengan Xiao Bo, sementara Xiao Li akan menjaga paviliun dimana permaisuri An dan nyonya Xia tinggal.
"Feng Ying, bawa obat yang kemarin aku tuliskan padamu. Kita akan ke kamar ibu sekarang." Ucap permaisuri An setelah pangeran Rong pergi.
"Baik yang mulia."
Kedua wanita itu lalu berjalan menuju kamar nyonya Xia, untuk memberikan obat padanya.
"Bibi Hong, apakah ibu sudah bangun?" Tanya permaisuri An pada peelayan setia ibunya.
"Sudah, yang mulia. Nyonya sudah menunggu anda di dalam."
"Baik, terima kasih."
Permaisuri An, Feng Ying dan juga bibi Hong masuk kedalam kamar nyonya Xia.
"Ibu, bagaimana keadaan ibu?" Ucap permaisuri An seraya duduk di sisi nyonya Xia.
"Ibu baik-baik saja, dimana pangeran Rong?"
"Dia sedang keluar ibu. Terjadi sesuatu di istana."
Nyonya Xia hanya mengangguk.
"Nyonya, minumlah obat ini. Yang mulia permaisuri yang telah membuatnya untuk anda." Ucap Feng Ying yang membawa satu butir obat untuk nyonya Xia.
"Baik, ibu akan..... Uhuk, uhuk... Uhuk, uhuk..."
Permaisuri An terkejut melihat ibunya terbatuk, dan setelahnya mengeluarkan daraah segar dari mulutnya.
"Ibu, bagaimana bisa ibu mengeluarkan darah seperti itu?" Ucap permaisuri An dengan khawatir.
"Yang mulia, apa yang telah terjadi oada nyonya?" Ucap bibi Hong yang ikut khawatir.
Permaisuri An tidak menjawab, karena saat ini dia tengah fokus memeriksa dengut nadi nyonya Xia.
"Ibu, apakah ibu memakan sesuatu kemarin?" Ucap permaisuri An.
"Tidak, ibu tidak memakan apapun yang belum pernah ibu makan dan juga tidak memakan makanan apapun yang di bawa dari luar."
Permaisuri An terdiam, "Denyut nadi ibu tidak beraturan. Perur dan dada ibu mengalami sesuatu."
"Uhuk, uhuk... Uhuk, uhuk...."
Lagi nyonya Xia batuk dan mengeluarkan daraah segar.
"Feng Ying, ambilkan obat di dalam lemari pakaian ku. Botol itu memiliki tutup berwarna merah." Ucap permaisuri An.
"Baik, yang mulia."
Feng Ying bergegas keluar.
"Bibi Hong, tolong ingat-ingat. Apakah ada sesuatu yang telah di makan atau di minum oleh ibu sebelumnya?" Ucap permaisuri An.
"Kemarin saya melihat, seorang pelayan membawa satu piring kue. Dan dia berkata jika itu merupakan kue yang dia buat sendiri."
"Dimana pelayan itu, bawa dia kemari."
"Baik, yang mulia."
Bibi Hong membawa dua orang pengawal untuk mencari pelayan yang kemarin telah memberikan kue itu pada nyonya Xia.
Tak berselang lama, Feng Ying datang membawa sebuah botol kecil di tangannya.
"Yang mulia, apakah ini obat yang anda maksudkan?" Ucap Feng Ying seraya menunjukan botol yang dia bawa oada permaisuri An.
"Benar, ini adalah obat yang aku maksud."
Permaisuri An membuka tutup botool keramik itu, dan mengambil satu pil dari dalam botool itu.
"Ibu, ini adalah obat yang buat sendiri. Dan aku berharap dengan obat ini, batuk yang ibu rasakan akan segera membaik." Ucap permaisuri An.
Nyonya Xia mengangguk dan mengamvil obat itu dati tangan permaisuri An. Dan kemudian di minum oleh nyonya Xia.
Bruuuuk
"Yang mulia, ini adalah pelayan yang kemarin memberikan kue yang dia buat, pada nyonya." Ucap bibi Hong.
Permaisuri An menatap pelayan wanita itu.
"Kau terlihat bukan orang dari ibu kota atau beberapa kota di dekat ibu kota ini." Ucap permaisuri An.
Pelayan itu menatap permaisuri An, "Yang mukia, ampuni hamba. Hamba sungguh tidak mengetahui sesuatu."
"Lalu, apakah seseorang telah memerintahkan mu untuk memberikan kue ibu kepada ibuku?"
"Be... Benar yang mulia, dia..... Dia mengancam saya, dia berkata akan membunuh seluruh keluarga saya, jika saya tidak memberikan kue itu kepada ibu anda."
Permaisuri An terdiam.
Bruuuuk
"Yang mulia, mohon ampuni saya, saya mohon kepada yang mulia permaisuri. Ampuni saya, yang mulia." Ucap pelayan itu sambil berlutut.
"Katakan, bagaimana orang yang memberikan mu kue itu?"
"Dia.... Dia....."
"Ayo cepat katakan!" Seru bibi Hong pada pekayan itu.
"Dia.... Dia terlihat seperti nona.... Nona muda kedua.. Di kediaman Liu, terdahulu."
Permaisuri An terkejut, bahkan bukan hanya dia saja. Melainkan Feng Ying dan bibi Hong pun sama-sama terkejut.
"Maksud mu, dia adalah Fang Yin? Liu Fang Yin." Ucap permaisuri An.
"Benar, yang mulia."
Permaisuri An menatap ibunya yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
"Bukankah Fang Yin saat ini tengah berada di sebuah pengasingan? Jadi bagaimana bisa mereka melarikan diri?"
Selama ini permaisuri An tidak pernah menyangka, jika selir Qian dan Fang Yin akan selamat dan bahkan mereka bisa melarikan diei dari kota pengasingan itu.
"Yang mulia, jika ini memang perbuatan nona muda kedua. Pastu dia telah merencakannya sudah sangat lama." Ucap Feng Ying.
Permaisuri An mengangguk, "Kau benar, dia pasti sudah merencakan hal ini saat mereka baru meninggalkan ibu kota, dan berjalan menuju tempat pengasingan itu."
"Lalu, apa yang sebaliknya kita lakukan, yang mulia? Yang mulia pangeran Rong sudah berangkat ke perbatasan timur, beberapa waktu lalu bersama dengan pasukannya."
Permaisuri An terdiam , lalu dia melemparkan sebuah batu keluar kamar nyonya Xia.
Tak berapa lama, Xiao Li muncul dengan tiba-tiba di depan mereka semua.
"Hamba Xiao Li, membari hormat kepada yang mulia permaisuri." Ucap Xiao Li.
"Pergilah, dan cari tahu apa yang di lakukan oleh Fang Yin beberapa waktu ini."
"Baik, saya akan melakukan perintah yang mulia."
Setelah memberikan hormat pada permaisuri An, Xiao Li menghilang dari pandangan mereka semua.
"Bibi Hong, bawa pelayan ini. Dan sementara waktu masukan dia ke dalam gudang." Ucap permaisuri An.
"Baik, yang mulia."
"Mohon ampuni hamba yang mulia, hamba sungguh tidak tahu apa-apa. Yang mulia, hamba mohon. Hamba mohon ampuni hamba yang mulia." Teriak pelayan itu pada permaisuri An.
Dengan bantuan dua pengawal, pelayan yang masih berteriak meminta ampun itu di bawa ke salah satu gudang yang ada di dalam paviliun, untuk menerima hukumannya nanti.