
"Anak tidak berbakti! Beraninya dia memerintahkan orang untuk membuat masalah pada toko obat milik permaisuri An. Bawa anak itu kemari, aku akan memberikan hukuman padanya!" Seru perdana menteri Ho setelah mengetahui apa yang telah di lakukan oleh putrinya.
"Baik tuan." Ucap salah seorang pelayan.
"Tuan, tuan. Putriku, putriku tidak berada di dalam kamarnya sejak kemarin." Ucap nyonya Ho.
"Apa? Dia tidak berada di dalam kamarnya sejak kemarin?"
"Benar tuan, kita harus mencarinya."
"Kemarin dia telah melakukan sesuatu pada toko obat milik permaisuri An. Mungkinkah permaisuri An atau pangeran Rong telah melakukan sesuatu padanya?"
"Tidak tuan, pelayan di rumah kita sudah bertanya pada beberapa orang. Mereka berkata jika mereka melihat putri kita pergi ke arah berlawanan dengan toko obat permaisuri An. Tuan, tolong lakukan sesuatu. Saya tidak ingin terjadi apa-apa pada putri kita."
"Untuk apa dia pergi kesana sendirian?"
"Itu.... Itu."
"Katakan padaku, apa kau mengetahui rencana dia yang ingin melakukan sesuatu pada permaisuri An?"
Istri perdana menteri Ho terdiam, karena dia memang mengerti apa yang di lakukan oleh putri mereka.
Plak!
"Kalian anak dan ibu benar-benar sudah tidak bisa menghormati ku!" Seru perdana menteri Ho dengan kesal.
"Ampuni saya tuan, saya tidak tahu jika hal ini akan terjadi. Saya mohon bantu saya mencari putri kita, saya yakin dia menemui orang-orang itu. Tuan, saya mohon."
Perdana menteri Ho menatap istrinya dengan tajam, dia sungguh tidak menyangka jika istri dan anaknya akan melakukan hal yang bisa membuat kehidupan mereka hancur, seperti para perdana menteri yang telah di hukum oleh kaisar.
"Pergi, dan cari sendiri anak yang tidak berbakti itu! Kau tidak bisa mengajarinya dengan baik, dan justru membiarkan dia yang akan menghancurkan keluarga ini." Ucap perdana menteri Ho.
"Tuan, bagaimana bisa anda berkata demikian. Tuan, saya mohon temukan anak kita. Dia adalah putri kita satu-satunya, tuan."
"Itu putri mu satu-satunya, tetapi aku masih memiliki anak dari 3 selirku."
Seperti di sambar petir, tubuh nyonya Ho jatuh di atas lantai dengan lemas, setelah mendengar ucapan dari perdana menteri Ho yang begitu kejam padanya dan putrinya.
Saat ini nyonya Ho hanya bisa menangis, karena putrinya telah menghilang dan kemungkinan tidak akan kembali lagi, karena perdana menteri Ho tidak akan pernah membantunya menemukan putrinya itu.
...----------------...
Di dalam istana, pangeran Rong menatap permaisurinya yang tengah duduk sambil menyulam.
Pangeran Rong menatap permaisurinya dengan begitu lekat, seolah dia takut saat mengalihkan pandangannya, maka permaisuri An akan menghilang.
"Yang mulia, apakah anda tidak lelah melihat saya seperti itu?" Ucap permaisuri An.
Pangeran Rong yang mendengar itu hanya tersenyum, "Itu karena kau adalah wanita yang paling cantik dan membuatku begitu tidak ingin meninggalkan mu."
"Berhenti mengatakan hal seperti itu."
Pangeran Rong berjalan mendekati permaisuri An lalu duduk di sampingnya.
"Apa yang sedang kau buat?" Ucap pangeran Rong seraya melihat hasil sulaman permaisuri An.
"Saya hanya sedang merasa tidak ingin melakukan sesuatu hari ini, jadi saya membuat ini."
Pangeran Rong melihat hasil sulaman permaisurinya, "Kau memang wanita yang pintar. Aku tidak menyangka jika wanita yang dulu terkenal dengan sebutan wanita tak memiliki bakat, ternyata sangat pintar, bahkan bisa melakukan banyak hal."
Permaisuri An tersenyum, "Saya hanya bisa melakukan hal yang wanita lain lakukan, yang mulia."
"Tidak, wanita lain mungkin akan takut dalam berperang. Tetapi kau? Kau bahkan memiliki belatii dan berani menghadapi orang-orang yang membuat kekacauan di toko obatmu."
"Apakah Xiao Bo telah mengatakan semuanya?"
Pangeran Rong mengangguk, "Iya, dia telah mengatakan semuanya. Dan aku merasa lega karena kau sudah bisa melindungi dirimu sendiri."
"Yang mulia, saya hanya mempelajari sedikit ilmu beladiri. Dan itu hanya untuk melindungi diri saya dari orang-orang seperti mereka."
"Baik, yang mulia. Saya akan mengingatnya."
"Aku dengar yang melakukannya adalah putri dari perdana menteri Ho."
"Benar, tetapi anda tidak perlu melakukan apapun. Biarkan saya dan putri perdana menteri Ho yang menyelesaikan semuanya."
"Baik jika seperti itu."
Permaisuri An tersenyum seraya mengangguk.
Saat ini, entah itu permaisuri An maupun pangeran Rong tidak mengetahui jika putri dari perdana menteri Ho tidak akan pernah lagi mengganggu mereka.
"Aku harus pergi ke tempat pelatihan pasukan naga merah. Kau tetaplah di dalam istana." Ucap pangeran Rong.
"Baik, saya mengerti."
Pangeran Rong mengangguk lalu keluar dari kamarnya.
Permaisuri An menatap punggung pangeran Rong yang berjalan semakin menjauh.
"Dia laki-laki yang kuat, seolah tidak pernah sedikitpun merasa lelah atau mengeluh akan sesuatu." Ucap permaisuri An.
Permaisuri An meletakan hasil sulamannya di atas meja, lalu berjalan keluar menuju dapur istananya.
"Yang mulia, apa yang anda lakukan? Kenapa anda berada disini?" Ucap koki istana yang terkejut melihat permaisuri An berada di dapur.
"Apakah kalian memiliki beberapa jenis kacang?" Ucap permaisuri An pada koki istana.
"Iya, yang mulia. Kami memilikinya. Saya akan mengambilnya untuk anda."
Permaisuri An mengangguk.
Koki istana segera mengambilkan beberapa kacang yang ada di dapur istana. Dan tak lama membawa kacang-kacang itu.
"Yang mulia, ini adalah kacang yang ada di dalam istana." Ucap koki istana seraya meletakan kacang yang dia bawa.
Kacang kenari, mente, almond dan juga kacang tanah ada di depan permaisuri An saat ini.
"Baiklah, tolong ambilkan aku dua mangkuk yang cukup besar. Lalu gingseng dan juga madu." Ucap permaisuri An.
"Baik yang mulia."
Koki istana di bantu oleh seorang pelayan mengambilkan semua yang permaisuri An katakan.
Setelah semua berada di depannya, permaisuri An mencampurkan ke 4 kacang itu dalam dua mangkuk besar yang berbeda. Kemudian dia memasukan madu dan gingseng yang telah di bersihkan dan di potong.
Koko istana dan beberapa pelayan yang berada di dalam dapur melihat apa yang permaisuri An lakukan.
"Biarkan kacang-kacang ini selama 30 menit, lalu rebus selama 20 menit." Ucap permaisuri An.
"Baik yang mulia." Ucap koki istana.
Setelah melakukan semuanya, permaisuri An keluar dari dapur dan berjalan menuju kamarnya.
"Yang mulia, kenapa anda berjalan dari arah dapur istana?" Ucap Feng Ying yang sejak tadi mencari permaisuri An.
"Aku sedang membuat sesuatu untuk pangeran Rong."
"Membuat sesuatu? Bukankah anda hanya tinggal berbicara pada koki istana, anda tidak harus melakukannya sendiri, yang mulia."
"Tidak apa-apa, aku ingin melakukan dan juga aku telah melakukannya."
"Yang mulia."
"Jangan seperti itu, aku masih bisa melakukannya sendiri. Lagi pula aku membuatnya untuk pangeran Rong."
Feng Ying hanya bisa menatap permaisuri dengan khawatir, karena takut jika permaisurinya terjadi apa-apa. Meskipun itu tidaklah terjadi.