Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #75


Mulai part ini Lin Yao akan di panggil Permaisuri An.


Di kediaman Xiao, tiga orang kepala keluarga yang pernah berurusan dengan mereka datang.


"Tuan Qin, tuan Lu dan tuan Min. Ada urusan apa kalian bertiga datang bersamaan ke rumah ku?" Ucap tuan Xiao.


"Tuan Xiao, kedatangan kami kesini karena ketiga anak kami yang telah membuat tuan muda Xiao keracunan, saat ini terkena racun yang tidak di ketahui jenisnya." Ucap tuan Lu.


"Lalu, kenapa kalian mendatangi rumah ku?"


Ketiga kepala keluarga itu saling bertatapan.


"Tuan Xiao, kami ingin anda memperkenalkan kami dengan orang yang telah menolong tuan muda Xiao. Untuk membantu kami menyembuhkan ketiga anak kami." Ucap tuan Qin.


"Maaf tuan, saya tidak bisa melakukannya. Jika kalian ingin kalian bisa berbicara secara langsung dengan yang mulai pangeran Rong."


Ketiga kepala keluarga itu terkejut juga bingung, karena mereka harus berbicara dengan pangeran Rong yang tidak ada kaitannya dengan hal ini.


"Tuan Xiao, apa maksud anda dengan kami harus berbicara pada yang mulia pangeran Rong?" Ucap tuan Lu.


"Karena orang yang telah menolong putraku adalah yang mulia permaisuri, dia adalah istri yang kemarin yang mulia pangeran Rong nikahi."


Semua orang yang ada di dalam aula kediaman keluarga Xiao itu terkejut, mereka tentu tidak menyangka jika orang yang telah menolong tuan muda Xiao dari racun berbahaya itu adalah seorang wanita yang kemarin di nikahi oleh pangeran Rong.


"Tuan Xiao, anda tidak bercanda dengan kami bukan? Bagaimana mungkin jika yang mulia permaisuri An, yang telah menyelamatkan tuan muda Xiao?" Ucap tuan Min dengan tidak percaya.


"Aku tidak berbohong, jika kalian tidak mempercayai apa yang aku katakan , kalian bisa bicara dengan yang mulia pangeran Rong sendiri. Karena aku tentu tidak memiliki hak, untuk meminta yang mulia permaisuri An agar mau membantu kalian bertiga menolong mereka."


Tuan Lu, tuan Qin dan tuan Min saling bertatapan. Mereka tentu tidak memiliki keberanian untuk berbicara dengan pangeran Rong yang terkenal dingin dan juga kejam itu.


"Tuan Xiao, kami mohon kepada anda untuk membantu kami. Ketiga anak kami saat ini tidak bisa berjalan dan berbicara, kami juga telah meminta beberapa tabib datang untuk memeriksa mereka bertiga. Tetapi mereka hanya bisa memberikan obat untuk menahan agar racun itu tidak menyebar ke seluruh tubuh ketiga anak kami, sebab meraka tidak tahu mengenai racun itu." Ucap tuan Qin.


"Maaf, semuanya bukan aku yang memutuskan. Tetapi yang mulia pangeran Rong dan yang mulia permaisuri An. Dan bukankah ini merupakan sebuah pelajaran bagi ketiga anak kalian, agar mereka tidak melakukan hal yang mereendahkan orang lain lagi."


Ketiga kepala keluarga itu hanya diam, apa yang di katakan oleh tuan Xiao benar. Karena selama ini mereka sudah sering memanjakan ketiga anak mereka itu.


"Apakah mereka tidak berkata dimana orang yang telah memberikan mereka itu racun untuk putraku? Mungkin saja orang itu bisa membantu kalian, menemukan penawarnya." Ucap tuan Xiao.


Tuan Qin menggelengkan kepalanya, "Tidak, mereka tidak mau berbicara. Bahkan jika mereka berbicara pun mereka sepertinya tidak mengetahui dimana orang itu tinggal."


Tuan Xiao yang sebenarnya telah mengetahui jika laki-laki itu telah di tangkap pangeran Rong, hanya mengangguk saja. Dia tentu tidak akan memberitahu kepada mereka, dimana laki-laki yang telah membuat racun bunga malam itu.


"Maaf tuan-tuan, aku masih memiliki urusan yang harus aku tangani sekarang." Ucap tuan Xiao.


"Baik, jika begitu kami akan kembali." Ucap tuan Lu.


Tuan Xiao mengangguk, "Iya."


Ketiga kepala keluarga itu lalu berdiri dan berjalan keluar dari kediaman keluarga Xiao.


Tuan Xiao yang hanya mengantar mereka sampai di depan puntu aula melihat ketiga orang itu.


Tuan Xiao mungkin bisa menahan agar tidak membunuh mereka, namun dia tidak akan lagi mau membantu tiga keluarga yang dulu pernah di tolongnya. Karena dia telah merasa sangat kecewa terhadap tiga keluarga itu.


...----------------...


Di dalam ruang baca, permaisuri An tengah duduk di samping pangeran Rong sambil membantu suaminya menghaluskan biji tinta yang akan di pakai menulis oleh pangeran Rong.


"Lin'er, aku mendengar jika ibu telah membereskan kamar kita di paviliun. Apakah kita harus pulang lebih awal?" Ucap pangeran Rong.


"Li, apakah tidak apa-apa jika kau tinggal di luar istana kerajaan?"


"Tentu saja tidak masalah. Ini sudah menjadi keputusan ku, dan aku juga telah berbicara dengan ayah kaisar mengenai hal ini."


"Tetapi, Li....."


"Aku juga sudah berkata kepada ayah kaisar, jika aku tidak akan pernah memilih wanita lain untuk di jadikan selir."


Permaisuri An berhenti dan menatap pangeran Rong.


"Pangeran Rong meraih tangan permaisuri An, lalu menggenggamnya.


"Dengar, aku telah berjanji dan bersumpah kepadamu dan juga ibu, jika aku tidak akan pernah menyakiti mu. Dan aku tahu, jika aku memiliki selir di samping ku, iru pasti akan membuatmu terluka, dan aku tidak ingin kau merasakan hal tersebut."


"Yang mulia."


"Jika aku menikahi wanita lain, artinya aku telah tertarik pada wanita itu. Tetapi aku tidak pernah tertarik terhadap siapapun, dan kau yang terlah membuatku tertarik selama ini. Jadi permaisuri ku, aku tidak ingin kau memiliki pikiran mengenai hal itu lagi. Karena aku tidak akan pernah membagi semuanya kepada wanita lain."


Permaisuri An tertegun, dia sungguh tidak menyangka jika pangeran Rong akan berkata hal yang begitu manis kepadanya.


"Dua hari lagi kita akan kembali ke paviliun, dan akan memulai kehidupan baru kita disana."


"Baik."


Pangeran Rong tersenyum, wanita di depannya memang begitu kuat dan berbakat. Namum dia memiliki sisi yang rapuh, dan takut akan terluka ketika dia telah merasa nyaman dengan seseorang.


"Aku akan segera menyelesaikan ini, dan akan membawa mu ke sebuah tempat rahasia." Ucap pangeran Rong.


"Tempat rahasia?"


"Benar, kelak jika kita merasa ingin menikmati kesejukan yang begitu damai, kita bisa kesana."


"Apakah itu merupakan paviliun pribadi yang kau miliki?"


"Iya, aku harap kau akan menyukainya."


Permaisuri An mengangguk, lalu meneruskan membantu pangeran Rong menghaluskan tinta.


Melihat permaisurinya begitu setia menemani di samping, pangeran Rong merasa sangat bahagia. Karena itu adalah kali pertama dia bekerja di dampingi oleh seorang wanita, dan wanita itu merupakan wanita yang telah membuatnya begitu tertarik dan tidak ingin dia tinggalkan.