Princess Of 100 Talents

Princess Of 100 Talents
Bab #120


Kehidupan wanita hamil yang di rasakan oleh permaisuri An cukup membuat pangeran Rong dan sebagian orang kebingungan. Karena beberapa makanan yang permaisuri An inginkan tidak pernah ada yang membuat, dan alhasil permaisuri An sendiri yang harus membuatnya, dan itu pun selalu ada pertikaian kecil antara pangeran Rong dan permaisuri An.


Namun meski demikian, pangeran Rong selalu mengalah, sebab ratu dan nyonya Xiao selalu menasehati pangeran Rong agar lebih bersabar terhadap permaisuri An.


"Yang mulia, apakah tidak apa-apa jika saya menata rambut anda seperti ini saja?" Ucap Feng Ying yang melihat tatanan rambutnya.


"Tidak apa-apa, kepala ku akan terasa sakit jika terlalu banyak memakai jepit rambut. Lagi pula mereka juga pasti akan mengerti, karena aku sedang hamil saat ini."


Feng Ying hanya mengangguk.


Hari ini merupakan hari dimana kaisar mengadakan pesta untuk kebahagian bagi kerajaan, karena permaisuri An tengah hamil.


"Permaisuri, apa kau sudah siap?" Ucap pangeran Rong yang berjalan dari ruangan samping.


"Iya."


"Kau terlihat cantik mengenakan itu."


"Benarkah? Tetapi saya hanya menata rambut saya seperti ini."


"Tidak apa-apa, saat ini kau sedang hamil. Ayah kaisar dan ibu ratu akan memakluminya."


"Baiklah, jika seperti itu."


Pangeran Rong membantu permaisuri An berdiri, kemudian mereka berjalan menuju istana kerajaan dimana orang-orang telah menunggu mereka di dalam aula istana.


Sementara Feng Ying dan bibi Hong yang di minta datang ke istana oleh permaisuri An, mengikuti mereka di belakang.


"Berhati-hatilah dalam setiap melangkah." Ucap pangeran Rong pada permaisuri An.


"Baik, saya mengerti."


"Seharusnya aku meminta beberapa pengawal istana untuk membawamu dengan tandu."


"Yang mulia, itu tidak perlu. Saya masih bisa berjalan ke istana kerajaan."


"Tetapi aku sangat mengkhawatirkan mu."


"Saat ini saya tidak memakai riasan yang memberatkan kepala saya, jadi saya akan baik-baik saja."


Pangeran Rong hanya bisa diam, sebab dia tidak ingin berdebat dengan permaisuri An.


"Yang mulia pangeran Rong dan yang mulia permaisuri An tiba!" Ucap kepala pengawal istana.


Semua orang yang ada di dalam aula istana menoleh ke arah pintu, dan melihat pangeran Rong juga permaisuri An berjalan memasuki aula istana.


Salah satu putri dari sebuah kerajaan menatap permaisuri An dengan seksama, seolah dia tidak percaya jika yang berjalan masuk bersama pangeran Rong adalah permaisuri An.


"Benarkah dia permaisuri An, istri pangeran Rong? Penampilan sangat biasa sekali, padahal ini adalah pesta untuknya." Bisik putri itu kepada ibunya.


"Kau tenanglah, dan jangan membuat masalah disini." Bisik ibu putri itu.


Putri itu diam setelah ibunya menjawabnya.


"Salam kepada yang mulia kaisar dan uang mulia ratu. Semoga yang mulia panjang umur dan selalu sejahtera." Ucap pangeran Rong dan permaisuri An bersamaan.


"Berdirilah, dan segera duduk. Saat ini kau harus lebih menjaga kesehatan mu." Ucap kaisar kepada permaisuri An dan pangeran Rong.


"Terima kasih atas perhatian yang mulia." Ucap permaisuri An.


Pangeran Rong lalu membawa permaisuri An, dan membantunya duduk di kursi mereka.


Setelah melihat permaisuri An dan pangeran Rong duduk, kaisar Changming berdiri seraya membawa gelasnya.


"Karena permaisuri An dan pangeran Rong telah tiba, maka aku memberitahukan jika pesta ini segera di mulai." Ucap kaisar dengan lantang.


"Semoga yang mulia panjang umur." Ucap semua orang yang ada disana.


Alunan musik mulai terdengar, dan beberapa penari berjalan memasuki aula istana untuk menghibur semua tamu.


"Permaisuri, apa kau ingin makan anggur?" Ucap pangeran Rong.


"Lalu apa yang ingin kau makan?"


"Bisakah saya memakan kacang almond yang kemarin saya buat?"


"Kau ingin memakannya, bukankah sebelum kau bersiap tadi, kau sudah memakannya?"


Permaisuri An mengangguk, "Iya, tetapi saya ingin memakannya lagi."


"Apakah tidak akan terjadi apa-apa, jika kau terlalu banyak memakan kacang almond itu?"


"Tidak apa-apa, yang mulia. Saya telah menambahkan sesuatu sebelum saya meminta koki untuk membakarnya."


"Baiklah, aku akan meminta Feng Ying untuk mengambilkannya."


"Terima kasih, yang mulia."


"Tetapi kau tidak boleh memakannya terlalu banyak, karena kau juga harus memakan yang lain."


"Baik, saya mengerti."


Pangeran Rong mengangguk, lalu meminta Feng Ying untuk mengambil kacang almond yang ada di dalam kamar permaisuri An.


"Yang mulia, hari ini merupakan hari yang begitu membahagiakan bagi anda dan kerajaan Chao ini. Tetapi saya melihat riasan anda seolah tidak menunjukkan kebahagian itu." Ucap putri yang tadi berbisik dengan ibunya.


Kedua orang tua putri itu terkejut, karena ucapan puyrinya pasti membuat pangeran Rong dan juga permaisuri An tidak senang.


Alunan musik berhenti dengan tiba-tiba, saat melihat permaisuri An berdiri.


Permaisuri An berdiri seraya tersenyum pada putri itu, "Sebelumnya saya meminta maaf kepada semuanya, karena membuat kalian merasa tidak nyaman dengan riasan saya yang sederhana saat ini. Seperti yang kalian ketahui, jika sekarang saya sedang mengandung, dan entah kenapa jika saya memakai jepit rambut dan riasan yang begitu banyak, membuat kepala saya sangat sakit. Dan itu akan membuat yang mulia pangeran Rong akan sangat khawatir kepada saya. Jadi, saya meminta pelayan setia saya, untuk menata rambut saya seperti ini. Karena saya tidak ingin membuat yang mulia pangeran Rong mengkhawatirkan saya, dan saya juga tidak ingin terjadi sesuatu pada diri saya, dan membuat anak yang berada di dalam perut saya terjadi sesuatu."


Perkataan dari permaisuri An yang begitu jelas dan tajam membuat semua orang mengangguk, dan menatap putri itu dengan tatapan yang tidak suka.


Sementara putri itu hanya bisa diam, seraya mengepalkan kedua tangannya dengan keras.


"Mohon ampuni kelancangam putri saya, yang mulia. Dia masih terlalu muda untuk mengerti hal itu." Ucap ibu dari putri itu.


"Tidak apa-apa, melihat bagaimana penampilan putri anda. Dia memang terlihat masih muda, jadi tentu saja dia tidak mengerti." Ucap permaisuri An seraya melirik pada putri itu.


"Benar, terima kasih atas pengertian yang mulia."


Permaisuri An hanya mengangguk lalu kembali duduk pada kursinya. Dan musik pun kembali mengalun.


"Sepertinya putri itu menyukai yang mulia, sehingga melihat saya tidak pantas untuk anda." Ucap permaisuri An seraya menatap pangeran Rong.


"Aku tidak peduli akan hal itu, karena yang aku pedulikan hanyalah istriku yang saat ini berada di depan ku."


"Tidakkah anda merasa sakit kepala dengan para wanita itu?"


Pangeran Rong menggenggam tangan permaisuri An, "Permaisuri ku, aku tidak pernah memikirkan mereka. Dan aku juga tidak peduli terhadap mereka, selagi mereka tidak mengganggu dirimu."


"Sungguh? Tetapi saat ini tubuh saya semakin besar, dan pasti tidak lama lagi akan terlihat sangat bulat."


Pangeran Rong sedikit tersenyum mendengar perkataan permaisurinya itu.


"Aku justru sangat bahagia melihatmu bulat, karena itu artinya kau dan anak kita sangat sehat." Ucap pangeran Rong.


"Apa yang mulia tidak merasa malu?"


"Aku akan merasa malu jika mendengar orang-orang yang berkata bahwa aku tidak mampu membuatmu hidup bahagia, karena melihatmu begitu kurus saat hamil."


Permaisuri An terdiam sejenak, lalu mengangguk mengerti.


"Jadi mulai saat ini, jika kau ingin memakan sesuatu kau bisa memakannya. Tetapi tidak boleh berlebihan." Ucap pangeran Rong lagi.


"Baik, saya mengerti yang mulia."


Pangeran Rong tersenyum mendengar ucapan permaisuri An.