
Mulai part ini, nama NYONYA LIU akan berganti menjadi NYONYA XIA.
Sudah satu hari sejak Lin Yao tertusuk oleh selir Qian, dan tabib istana juga telah melakukan semua upaya yang dia bisa untuk menyelamatkan Lin Yao. Tetapi sampai sekarang, dia belum juga sadarkan diri.
Pangeran Rong juga sering datang ke paviliun untuk melihat keadaan Lin Yao, dia benar-benar sangat mengkhawatirkan calon permaisurinya itu.
"Yang mulia, sekarang sudah hampir gelap. Lebih baik yang mulia kembali." Ucap nyonya Xia pada pangeran Rong yang masih setia menatap wajah Lin Yao.
"Tidak, aku akan tetap disini."
Nyonya Xia menatap tuan muda Xiao dan nyonya Xiao yang juga ada di dalam kamar Lin Yao.
"Jika begitu, saya akan meminta pelayan menyiapkan makanan untuk yang mulia. Dan juga kamar untuk yang mulia beristirahat."
"Tidak perlu, aku akan bermalam disini. Aku akan menemani Lin'er sampai dia bangun."
Nyonya Xia tertegun dengan apa yang pangeran Rong katakan. Dia merasa pangeran Rong sudah benar-benar menyukai Lin Yao, sampai-sampai dia tidak mau meninggalkan Lin Yao walau hanya sebentar.
Nyonya Xiao menyentuh bahu nyonya Xia lalu mengangguk.
Nyonya Xia, nyonya Xiao dan juga tuan muda Xiao keluar dari kamar Lin Yao, membiarkan pangeran Rong bersama dengan Lin Yao di dalam kamar.
"Sepertinya pangeran Rong sangat menyukai Lin Yao. Dia bahkan tidak mau pergi walau hanya untuk makan." Ucap nyonya Xiao.
"Benar, dan sepertinya langit memang menginginkan mereka bersama, setelah ratu memutuskan untuk membatalkan perjodohan mereka berdua dulu." Ucap nyonya Xia.
"Jika memang begitu, itu sangat bagus. Langit merestui mereka dan mereka akan menjadi sepasang suami istri yang bahagia."
Nyonya Xia mengangguk, dia merasa lega jika memang Lin Yao berjodoh dengan pangeran Rong.
"Aku akan kembali terlebih dulu, dan akan kembali nanti malam untuk menemani yang mulia pangeran disini." Ucap tuan muda Xiao.
"Iya, terima kasih Ming Yu."
"Bibi, Lin'er adalah adik ku. Sudah menjadi kewajibanku menjaganya saat dia sedang sakit."
Nyonya Xia mengangguk "Iya."
Saat ini nyonya Xia tidak bisa memikirkan yang lainnya, karena dia masih mengkhawatirkan keadaan Lin Yao yang belum juga sadarkan diri.
Sementara itu di dalam kamar Lin Yao, pangeran Rong tengah menggenggam tangan Lin Yao. Kedua matanya terus menatap Lin Yao yang masih setia memejamkan kedua matanya di atas tempat tidur.
"Lin'er, bangunlah. Aku sudah menghukum kedua wanita yang telah menyakitimu dan ibumu selama ini. Perdana menteri Liu juga telah di cabut jabatannya sebagai perdana menteri dan di usir dari ibu kota." Ucap pangeran Rong pada Lin Yao.
Ya, satu hari setelah selir Qian dan juga Fang Yin di bawa ke penjara bawah tanah oleh pangeran Rong. Kaisar mencabut semua gelar dan jabatan perdana menteri Liu, dan tidak memperbolehkannya masuk ke dalam ibu kota.
Sementara selir Qian dan Fang Yin, telah mendapatkan hukuman cambuk sebanyak 50 kali dan di lemparkan ke pinggiran kota terluar di negara itu.
Pangeran Rong mengecup punggung tangan Lin Yao, dia sangat takut jika Lin Yao tidak bisa bangun lagi dan meninggalkannya.
Selama ini tidak ada orang yang bisa membuat pangeran Rong seperti itu, dan hanya Lin Yao lah yang bisa membuat pangeran Rong memperlihatkan rasa khawatirnya.
Kraaaak
Pintu kamar Lin Yao terbuka, Feng Ying masuk membawa sebuah baki berisi beberapa makanan di atasnya.
"Bawa saja kembali semua makanan itu."
Feng Ying terdiam, tubuhnya gemetar karena takut sudah membuat pangeran Rong tidak nyaman.
"Yang mulia, anda juga harus terus menjaga kesehatan anda. Jika anda seperti ini, anda akan membuat Lin'er merasa bersalah." Ucap nyonya Xia yang berdiri di deoan pintu kamar Lin Yao.
"Bagaimana aku bisa memakan makanan itu, sementara Lin'er belum juga sadarkan diri."
"Saya mengerti kekhawatiran yang mulia, tetapi anda juga harus menjaga kesehatan."
Pangeran Rong menatap Lin Yao, dia sungguh sedang tidak berselera untuk makan saat ini.
"Makanlah sedikit yang mulia, saya yakin sebentar lagi Lin'er pasti akan bangun." Ucap nyonya Xia lagi.
Pangeran Rong diam, sejak pagi dia belum makan apapun. Dia juga tidak ingin melakukan apapun selain duduk di depan tempat tidur Lin Yao, dan menatap wajahnya yang terlihat lebih kecil dari dua hari sebelumnya.
Nyonya Xia yang melihat pangeran Rong yang begitu mengkhawatirkan Lin Yao, dan menyukai Lin Yao dengan bersungguh-sungguh merasa bahagia dan juga terharu.
"Walaupun rencana perjodohan kalian dulu di batalkan, namun pada kenyataannya langit menginginkan kalian bersama. Dan membuat pangeran Rong yang terkenal kejam dan di takuti, menjadi laki-laki yang paling ingin melindungi Lin'er dan menjadi orang yang paling takut kehilangan disini selain aku."
...----------------...
"Sepertinya kali ini kakak Li telah menemukan wanita yang sangat dia cintai, dia tidak memikirkan hal lain saat menghukum selir dan putri dari perdana menteri Liu itu." Ucap pangeran ke 5 pada putra mahkota.
"Kau benar, tetapi itu sangat bagus karena akhirnya dia menemukan wanita yang bisa membuatnya berubah dan membuka hatinya."
"Aku berharap dia dan kak Li bisa bersama dan bahagia selamanya."
Putra mahkota mengangguk, dia juga berharap seperti itu pada pangeran Rong dan Lin Yao.
Kabar tentang pangeran Rong yang ingin menikahi Lin Yao memang sudah menyebar, meski semua anggota kerajaan dan sebagian besar rakyat merestui pernikahan mereka. Namun ada saja orang yang tidak menyukai berit bahagia itu.
Misalnya saja putri dari kerajaan tetangga yang sudah lama menyukai dan ingin memiliki pangeran Rong.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya putri Xiu Yin yang baru saja datang ke dalam aula istana putra mahkota.
"Kak Xiu Ying." Ucap pangeran ke 5.
Putri Xiu Ying duduk di samping kursi pangeran ke 5.
"Kami sedang membicarakan pangeran Rong dan nona pertama Liu." Ucap putra mahkota.
"Li benar-benar menyukai nona muda Liu itu, sejak pagi sampai sekarang dia berada di paviliun yang di tinggali oleh nona muda Liu." Ucap putri Xiu Ying.
"Kau benar, dan ini kali pertama dia bersikap seperti itu terhadap seseorang."
"Iya, aku dengar nona muda Liu masih belum sadarkan sampai sekarang."
"Benar kak, karena itu kak Li menghukum dengan berat selir dan putri tuan Liu itu." Ucap pangeran ke 5.
"Kita hanya bisa berharap, semoga nona muda Liu segara sadarkan diri dan bisa membuat Li merasa lega."
Putra mahkota dan pangeran ke 5 mengangguk.