Pelangi Berselimut Awan

Pelangi Berselimut Awan
Extra Part - Tidak Akan Bisa Kemana-Mana


Maryam menatap sebuah tiket penerbangan yang baru dibelinya beberapa menit lalu. Malam ini, ia memutuskan akan kembali ke kota kecil tempat asalnya dan memulai hidup baru. Meninggalkan segala kenangan buruk dan kesedihan yang dirasakannya belakangan ini.


"Selamat tinggal, Mas! Semoga setelah perpisahan ini, kita menjadi pribadi yang lebih baik."


Tanpa menunggu lagi, wanita itu segera melangkah menuju pintu masuk jalur keberangkatan. Menunjukkan tiketnya kepada seorang petugas yang berjaga.


Hampir tiga puluh menit perjalanan, Guntur tiba di bandara dan langsung turun dari mobil dengan tergesa. Tidak pula mengucapkan terima kasih kepada Awan yang sudah berbaik hati memberinya tumpangan.


"Main turun aja," ucapnya dalam hati dengan pandangan mengikuti kemana sang bos berlari. Menerobos lautan manusia hingga tak terlihat lagi.


"Maryam!" teriak Guntur memanggil dengan raut wajah frustrasi. Pandangannya berkeliling di antara kerumunan dan mencari adakah Maryam di antaranya.


Kakinya terus melangkah tanpa rasa lelah. Matanya meneliti setiap wanita berhijab yang berpapasan dengannya. Namun, hingga beberapa saat mencari, sang istri tak kunjung terlihat.


"Apa jangan-jangan dia sudah pergi?" Guntur kembali mencari hingga hampir putus asa. Duduk di sebuah kursi panjang dan menunduk penuh sesal.


Apakah kali ini Guntur akan kehilangan sekali lagi? Demi apapun pria itu tidak akan rela.


Tatapannya kemudian mengarah pada loket penjualan tiket tak jauh dari tempatnya duduk.


...........


“Kenapa pulangnya lama, Hubby?” tanya Pelangi sesaat setelah mencium punggung tangan suaminya. Tidak biasanya Awan pulang terlambat tanpa memberi kabar, dan hal itu sempat membuat Pelangi khawatir. Bahkan Awan tidak menjawab teleponnya. 


“Tadi di jalan pulang ketemu Guntur.” Awan mendesah panjang, sambil membuka kancing kemejanya, yang kemudian diambil alih Pelangi. 


“Ketemu Kak Guntur?” Alis Pelangi saling bertaut penuh tanya. Khawatir sang suami terlibat masalah lagi dengan bosnya itu. 


Awan mengangguk cepat. “Iya. Katanya lagi buru-buru ke bandara, tapi ban mobilnya bocor. Jadi aku antar sekalian ke bandara.” 


Menghela napas panjang, Pelangi tampak sangat lega. Ia sudah sempat khawatir jika Guntur kembali berniat melukai suaminya. “Memangnya Kak Guntur mau ke mana?” 


Sejenak Awan terdiam. Dalam hati memikirkan kalimat yang tepat untuk diutarakan. Jika mengetahui Maryam kabur dari apartemen Guntur, Pelangi mungkin akan sangat khawatir. “Itu ... Katanya ....” 


“Maryam kabur!” jawabnya kemudian. 


Benar yang dipikirkan Awan. Mendengar kabar Maryam kabur membuat raut wajah Pelangi berubah khawatir. “Maryam kabur? Tapi pergi ke mana?” 


“Ya tidak tahu, Sayang. Kalau bilang-bilang mau pergi ke mana namanya bukan kabur.” 


Awan langsung menarik sang istri ke pelukannya begitu mendapati genangan air di bola matanya. Sejak hamil, wanita itu menjadi lebih sensitif dan cenderung cengeng. Hal kecil saja bisa membuat suasana hatinya berubah. 


“Sudah, jangan khawatir! Dia pasti bisa menemukan Maryam dan membawanya pulang. Aku lihat perubahan besar dalam diri Guntur seminggu ini. Sepertinya dia sedang berusaha memperbaiki diri untuk Maryam.” 


Hati Pelangi menjadi lebih tenang setelah mendengar ucapan suaminya. “Alhamdulillah kalau seperti itu.” 


“Ya sudah, aku mandi dulu.” Awan melangkah menuju kamar mandi. Namun, saat telah berada di ambang pintu, ia menoleh sejenak. “Besok siap-siap, ya. Aku ada kejutan untuk kamu.” 


“Kejutan apa, Hubby?” Iya kan, emosinya mudah berubah. Baru saja wajahnya terlihat sangat sedih, namun mendengar kata kejutan seketika membuatnya ceria kembali. 


“Rahasia dong! Kalau dikasih tahu namanya bukan kejutan lagi.” Awan terkekeh melihat bibir istrinya yang mengerucut lucu, lalu kemudian masuk ke kamar mandi. 


............


Pesawat mengudara di atas sebuah kota kecil. Maryam menatap keluar jendela dan bersandar sambil memeluk lengan. Udara dingin yang berhembus di kabin pesawat membuatnya tak tahan, sementara ia tidak mengenakan pakaian tebal. 


Rasa kantuk yang tak tertahan membuatnya memejamkan mata, hingga tak terasa kepalanya miring ke kanan. Beruntung sesosok bahu kekar menjadi tempatnya berlabuh dan tanpa sadar wanita itu malah tertidur dengan nyaman. 


Pada saat yang sama, sebuah blazer berwarna hitam sudah membalut tubuhnya dan menghadirkan rasa hangat. Tanpa Maryam sadari, sepasang mata zamrud dengan menatapnya dengan senyum penuh cinta. 


“Mulai sekarang, kamu tidak akan bisa ke mana-mana.” 


...........