
Awan menginjak pedal gas dalam hingga mobil yang dikemudikannya melesat jauh. Sesekali ia melirik kaca spion. Kendaraan yang sama selalu saja berada di belakangnya.
"Mau apa sih, itu orang?" gumamnya kesal. Namun, ia berusaha untuk tak begitu memerdulikan. Toh, ia tak memiliki masalah dengan siapapun.
Kurang dari lima belas menit perjalanan, ia telah tiba di tempat hiburan malam tersebut. Saat memarkir mobil, Awan sempat melihat sekeliling demi memastikan tak ada sesuatu yang mencurigakan.
Sebenarnya, Awan benar-benar tak ingin lagi menginjakkan kaki di tempat itu. Namun, Ben memaksa untuk bertemu, dan pria itu adalah satu-satunya sahabat Awan sejak kecil. Terlebih, ia mengaku dengan dalam masalah besar.
Astaghfirullahalazim. Kok gue pernah betah nongkrong di sini, ya?
Begitu memasuki tempat gemerlap dengan cahaya lampu berkelap-kelip itu, pandangan Awan langsung mengarah ke sebuah meja khusus di mana orang yang dicarinya sedang duduk seorang diri dengan beberapa botol minuman di meja.
Begitu melihat Awan mendekat, ia menyambutnya dengan senyum sumringah.
"Akhirnya lo datang juga. Gue dari tadi nungguin lo. Duduk, Wan!"
Awan menjatuhkan tubuhnya di kursi. Sesekali melirik minuman yang tersaji di hadapannya. Ben segera menuang minuman ke dalam gelas.
"Minum dulu, yuk!" tawarnya seraya menggeser gelas berisi minuman.
"Lo aja. Gue nggak minum lagi, Ben!" jawabnya malas.
"Sok-sokan lo ah! Baru juga beberapa bulan lalu kita mabok bareng di sini."
"Itu kan dulu, jaman jahiliyah gue." Ia menjauhkan gelas dan minuman dari hadapannya.
"Gimana kaki lo? Mending?"
"Alhamdulillah," jawab Awan dengan senyuman tipis.
"Syukur deh."
"Jadi lo panggil gue kemari ada hal penting apa?"
Ben menenggak segelas minuman hingga kosong, lalu melirik Awan dengan serius. "Gue mau pinjam uang buat modal. Gue habis kena tipu, Wan. Brengsek tuh orang yang nipu gue."
"Dikit kok, 250 juta doang. Nanti gue balikin begitu modal gue balik."
Awan mengangguk. "Ya udah, nanti gue transfer. Nomor rekening lo masih sama, kan?"
"Sama! Thanks ya, Wan. Lo satu-satunya temen yang mau bantu gue. Yang lainnya pada brengsek!"
Awan mengangguk. "Ya udah, gue mau pulang, istri gue sendirian di rumah."
Ben kembali melayangkan tatapan tak percaya. "Lo beneran udah baikan sama istri lo? Bukannya waktu itu lo bilang nggak suka?"
Tanpa dapat dikendalikan, ucapan Ben mengingatkan Awan pada deretan kesalahannya di masa lalu. Betapa ia mempermalukan Pelangi dengan meninggalkan resepsi pernikahan mereka.
"Namanya juga khilaf, Ben. Gue banyak dosa."
"Terus Priska gimana? Lo beneran putus sama dia?"
Mendadak raut Awan Awan berubah kesal mendengar nama itu. "Sebut nama itu lagi gue bogem lo!"
Ben terkekeh. Meskipun cukup heran dengan perubahan Awan yang sangat drastis, namun ia turut senang. Bahkan sekarang, Awan benar-benar tidak ingin menyentuh minuman lagi.
Tiba-tiba ia melirik ke satu arah, pandangannya meneliti ke setiap sudut. Sejak keluar dari gerbang kompleks perumahan tadi, ia merasa seperti sedang diikuti seseorang.
"Lo nggak ada keperluan lagi kan? Gue harus balik!"
"Sini aja dulu, Wan! Buru-buru amat. Lagian Ngapain sih lo pulang? Kayak punya kerjaan aja di rumah."
Tanpa memerdulikan ucapan Ben, Awan bangkit dari duduknya. Ben hanya menatap punggung Awan yang berlalu begitu saja.
"Minum dulu sini, woe!" pekik Ben sambil terkekeh.
"Ogah! Dari pada di sini bikin dosa, mending gue pulang bikin anak!"
...........