
Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal terdengar memekik kala Awan menginjak pedal rem dalam, yang membuat laju mobil seketika terhenti. Matanya nyalang menatap beberapa motor yang tiba-tiba menghalaunya.
"Mau ngapain mereka?" Awan bermonolog seraya menatap empat pria berpakaian hitam di hadapannya yang tampak sudah turun dari kendaraannya.
"Turun!" Seorang pria bermuka garang mengetuk kaca jendela mobil dengan kasar.
Awan pun membuka pintu mobil dan turun dengan santai. Sama sekali tidak terlihat kepanikan atau pun ketakutan di wajahnya.
"Ada apa ini?" tanya Awan.
"Tidak usah banyak tanya!" bentak salah satu pria dengan gerakan memukul-mukul tangannya sendiri.
Sikap waspada Awan langsung muncul saat melihat tongkat pemukul di tangan salah seorang pria, sedangkan yang lain bertangan kosong. Dia yang sudah menebak apa yang akan terjadi segera bergerak mundur beberapa langkah, mencari tempat kosong.
"Setan mana yang kirim kalian ke sini?" tanya Awan santai.
"Tidak usah banyak bicara! Silahkan lakukan cara apapun untuk menyelamatkan diri kamu sendiri!"
Awan terkekeh.
"Lo salah cari mangsa, Bro!"
Awan melepas jaket yang membalut tubuhnya dan melempar ke mobil. Perkelahian pun tak terhindarkan. Awan menghajar satu persatu pria yang hendak menyerangnya tanpa tersentuh sedikitpun.
Hingga mereka terkapar tak berdaya di jalan.
Beruntung Awan adalah pemegang sabuk hitam dalam ilmu bela diri karate. Melawan empat pria yang tak memiliki bekal bela diri sudah pasti menjadi hal mudah baginya.
"Siapa yang kirim kalian?" Awan menginjak punggung pria itu dengan menarik tangannya. Suara erangan kesakitan pun terdengar memilukan.
Bola matanya membulat penuh saat mendengar nama yang baru saja disebutkan pria tersebut.
"Astaghfirullahalazim."
............
Senyum terukir indah di bibir Pelangi saat mendengar suara mobil terhenti. Dia yang masih duduk di atas sajadah dengan mengaji, lantas menyelesaikan bacaannya. Menutup Alquran dan memasukkan ke dalam laci.
Pelangi membuka tirai jendela dan mengintip. Di bawah memang adalah mobil milik suaminya. Ia bergegas turun ke lantai bawah untuk membukakan pintu.
Awan pun tersenyum senang sesaat setelah pintu terbuka, disusul suara lembut istrinya yang menjawab salam. Pelangi masih terbalut mukena, wajah teduh yang tampak bersih dan bercahaya itu selalu berhasil menggetarkan hatinya.
“Aku menunggumu.”
“Sini!” Awan menarik Pelangi ke dalam pelukannya, dan mengecup puncak kepala berulang-ulang. Ia tahu Pelangi selalu mendoakannya setiap jauh dari rumah dan akan menyambut kepulangannya dengan senyuman. Hal yang selalu berhasil membuat Awan jatuh hati.
Di kamar ....
Awan membeku memandangi Pelangi yang baru saja melepas mukenanya, seakan tak sanggup mengalihkan pandangan dari keindahan yang tersaji di hadapannya. Pelangi hanya menggunakan lingerie tipis yang menampakkan lekukan tubuhnya.
Saat berbalik, ia tersipu malu. Tatapan Awan seperti ingin melahapnya. “Kenapa lihatin aku begitu?”
Awan mendekati Pelangi dan memeluknya. “Kamu sengaja berpakaian seperti ini, ya?”
“Kan Hubby yang memintaku untuk siap-siap.”
“Iya, sih. Tapi aku tidak menyangka kamu akan memakai pakaian setipis ini.”
“Hubby tidak suka?”
“Sukalah!” jawabnya cepat. “Kamu sangat cantik kalau pakai baju seperti ini. Belinya di mana, Sayang?”
Alis Pelangi tampak berkerut menatap suaminya. “Loh, bukannya Hubby yang membelikan? Di lemari ada banyak baju seperti ini. Modelnya juga macam-macam.”
Awan terkekeh, lalu menepuk dahinya.
“Aku mana ngerti beli baju perempuan. Itu pasti kerjaan ibu, kan aku minta tolong ibu beli pakaian untuk kamu.”
Pelangi semakin malu rasanya. Awan semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang.
“Ibu pasti sengaja biar cepat punya cucu. Jadi kita tidak boleh mengecewakan ibu.”
Pelangi mengangguk dengan malu-malu.
“Aku mandi dulu ya, Sayang.”
“Bukannya tadi sore sudah mandi?”
Iya sih, tapi gue kan habis gebukin anak buah setan. Masa mau ibadah nggak mandi dulu. Gue kan mau punya anak yang sholeh.
............